HARTA, TAHTA DAN WANITA

TAHTA, HARTA DAN WANITA

 

Minggu-minggu  ada dua tokoh yang menjadi perbincangan hangt di media massa, yakni Rhoma Irama alias Bang Haji dan Bupati kota dodol Aceng HM Fikri. Keduanya seakan melengkapi falsafah yang mengatakan bahwa godaan seorang lelaki itu terletak pada  tahta, harta, dan wanita. Siapa yang tak kenal Bang haji? Pria plamboyan kelahiran Tasikmalaya ini sudah malang melintang di dunia seni, khusunya dangdut belasan bahkan puluhan tahun yang lalu. Dari kepiawaiannya bermain musik tepak gendang dan tiup seruling itu mengantarkan Bang Haji ke puncak popularitas. Lagu-lagunya laris manis bak kacang goring. Siapa yang tak kenal dengan lirik bujangan, darah muda, begadang, dan sejumlah lgus laris lainnya. Lagu-lagu itu mengumandang dari mulai gubuk reyot, warung kopi hingga gedung-gedung bertingkat. Bahkan ada kawan saya setia memutar lagu-lagu Bang Haji di mobilnya. Kawan saya beralasan, bahwa lagu-lagu Bang haji cukup religius, sangat pas dengan konsep dakwah popular saat ini.

Bagi Bang Haji, dunia politik sudah tidak asing lagi. Ia mulai bersentuhan dengn politik sejak 1997 melalui partai berlambang Ka’bah (PPP). Saat itu Bang Haji menjelma menjadi  mesin pengumpul suara yang sangat sukses. Ia mampu menyandingkan tiga unsur penting, yakni dakwah, dangdut, dan politik yang kemudian menjadi daya tarik rakyat di tengah-tengah hegemoni Golkar kala itu.

Beberapa hari ini masyarakat Jawa Barat dikejutkan oleh berita mengenai cinta kilat Sang Bupati kota dodol Aceng HM Fikri. Bupati yang lahir empat puluh tahun yang lalu itu kini berhadapan dengan masalah yang tidak ringan. Perkawinan kilat yang terjadi enam bulan yang lalu menjelma menjadi badai yang bisa-bisa menggusur pak bupati dari tampuk kekuasaan. Jika ini terjadi, Aceng HM Fikri adalah satu dari beberapa politisi yang akhirnya terlempar dari kursi empuk kekuasaan. Di sini berlaku pepatah “siapa menanam dia pula yang menuai”. Kasus Aceng HM Fikri tidak saja menyedot masyarakat awam yang merasa bersimpati terhadap Fany Oktora, tetapi telah ikut mengusik istana. Kabarnya, Presiden SBY sampai-sampai turun tangan untuk meminta klarifikasi kepada Gubernur Jabar Ahmad Heryawan dalam sebuah pertemuan di Sentul Jawa Barat.

Di satu sisi, Bupati Aceng dapat dikatakan berani ketika tampil di salah satu TV swasta beberapa waktu yang lalu. Bahkan ia sanggup berdebat untuk menjelaskan posisinya pada kasus perkawinan empat hari itu. Ia beralasan bahwa apa yang dilakukannya seseuai dengan syariat agama Islam. Baginya tidak ada satu pun aturan agama yang dilanggar pada perkawinan itu, semua rukun nikah terpenuhi, dari mulai pasangan mempelai, wali, ijab qabul, dan mahar. Sekali lagi sah dalam agama.

 

Agama dan Etika

Dalam perspektif agama mungkin tidak ada aturan yang terlanggar. Artinya, pada saat rukun nikah terpenuhi maka seketika menjadi sah adanya. Tetapi harus diingat bahwa Aceng HM Fikri bukanlah rakyat biasa, tetapi seorang pemimpin daerah, pejabat publik yang harus menjadi contoh dan panutan bagi rakyatnya di Garut. Bupati Aceng tidak bisa melepaskan dirinya lalu menjelma menjadi makhluk pribadi yang tidak memperhitungkan pertanggungjawaban publik. Ia terikat oleh norma dan budaya yang hidup di daerahnya yang secara sosiologis memandang kurang baik bagi pejabat pemerintah yang melakukan poligami. Apalagi perkawinan yang dilakukan Bupati Aceng terkesan main-main dan merendahkan harkat martabat wanita. Logika ini yang memukul telak sang bupati.

Persoalan etika berbeda dengan agama. Agama berbicara halal dan haram, sementara etika berbicara baik dan buruk. Meskipun secara agama apa yang dilakukan Bupati Aceng halal tetapi ada ukuran lain dalam bentuk etika yang mengangap perilaku itu buruk. Dalam kehidupan di masyarakat, siapa pun tidak bisa menyepelekan eksistensi etika di masyarakat. Etika merupakan penyelidikan filsafat mengenai kewajiban-kewajiban manusia serta tingkah laku menusia dilihat dari segi baik dan buruknysa tingkah laku tersebut. Etika bertugas memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut : Atas dasar hak apa orang menuntut kita untuk tunduk terhadap norma-norma yang berupa ketentuan, kewajiban, larangan, dan sebagainya. Bagaimana kita bisa menilai norma-norma itu ? Pertanyaan ini timbul dalam benak kehidupan kita sehari-hari. Etika memiliki sifat dasar, yiatu kritis; mempersoalkan norma-norma yang dianggap berlaku; menyelidiki dasar norma-norma itu; mempersoalkan hak dari setiap lembaga untuk memberi perintah dan larangan untuk ditaati.

 

Perspektif Komunikasi

Gencarnya pemberitaan Bupati Garut Aceng HM Fikri belakangan ini tidak terlepas dari pemberitaan media massa. Ada dua teori yang dapat menjelaskan hal itu: Pertama, teori agenda setting. Teori ini memiliki asumsi bahwa media massa sangat perkasa dalam mempengaruhi khalayak sementara khalayak dianggap pasif. Khalayak tidak berdaya dalam menghadapi berondongan pesan dari media massa. Akhirnya, apa yang diagendakan media akan menjadi agenda khalayak. Berdasarkan teori ini, pantas jika hampir sebagian besar  masyarakat Jawa Barat membicarakan bupati Garut itu. Kedua, teori spiral keheningan Teori ini beranggapan bahwa individu memiliki opini tentang berbagai isu. Akan tetapi, ketakutan akan terisolasi mengarahkan individu tersebut untuk mengekspresikan opini-opininya secara terbuka. Untuk meminimalkan kemungkinan terisolasi, individu-individu itu mencari dukungan bagi opini mereka dari lingkung­annya, terutama dari media massa.

Peristiwa kawin kilat ini terjadi kurang lebih enam bulan yang lalu tanpa “huru-hara” seperti saat ini. Ini menandakan bawa dalam kurun waktu enam bulan itu peristiwa mengalami silence (hening), tetapi lama kelamaan merangkak naik seperti spiral yang kemudian meledak. Pada saat seseorang atau suatu kelompok telah mendapat dukungan dari media massa, maka ia akan semakin berani terbuka.

 

Tahta, Harta dan Wanita

Dalam budaya Sunda berkembang tiga istilah yang cukup popular, yakni tahta, harta, dan wanita yang kerap kali menjadi “batu sandungan”, yterutama bagi kaum adam. Bila kita kembali membuat komparasi antara Bang Haji dan Bupati Aceng, maka analisisnya seperti ini: Bang Haji sukses mendapatkan harta dan wanita. Harta Bang Haji mungkin tidak akan habis dimakan tujuh turunan, sementar itu pula Bang Haji terkenal dengan keahliannya menundukkan hati wanita. Di dadanya yang penuh rambut itu telah bersandar beberapa wanita. Itu sebagai bukti sahih bawa Bang Haji bukan saja raja dangdut, tetapi juga raja dalam  menaklukan wanita. Sejauh ini ada satu hal yang belum dapat diraih Bang haji, yaitu tahta. Makanya tidak heran jika Bang Haji ingin nyapres di 2014. Jika Bang Haji sukses di tahun 2014 nanti, maka lengkap sudah apa yang menjadi idaman banyak lelaki: harta, tahta dan wanita.

Sementara Bupati Aceng sukses pula dalam dua hal yaitu harta dan tahta, sedangkan  untuk urusan wanita belum sepadan dengan si raja dangdut. Untuk urusan tahta Aceng saat ini menjadi orang nomor satu di Garut. Bupati merupakan jabatan tertinggi di suatu kabupaten, puncak dari kesuksesan karier politik untuk putra daerah. Pada zaman dulu, jabatan bupati tidak dijabat oleh orang sembarangan (biasa), tetapi lekat dengan “titisan” raja. Tetapi ketika tatanan masyarakat dan politik berubah, maka jabatan bupati mengalami proses desakralisasi. Artinya dengan prinsip demokrasi yang menempatkan rakyat sebagai pemegang kedaulatan, maka siapa pun dapat menjadi bupati asal rakyat mendukungnya.

Bang Haji dan Bupati Aceng sama-sama terpeleset untuk wanita. Bang Haji terpeleset ketika nikah sirinya  dengan artis blasteran berinisial AL terungkap ke publik melalui media massa.  Dalam beberapa waktu bang Haji merasakan bagaimana menjadi “buronan” para kuli tinta, dan akhirnya memaksa Bang Haji untuk menjelaskannya ke publik. Saat ini terjadi pada Bupati Aceng, hari-harinya dilalui tanpa kenyamanan. Media massa setiap saat menyergapnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan. Bahkan bukan hanya wartawan, masyarakat  biasa, tokoh, dan ormas tertentu ikut ambil bagian dalam bentuk demonstrasi. Bupati Aceng di ujung tanduk, jika tidak baik nasibnya, maka kelengserannya hanya tinggal menunggu waktu.

Dalam perspektif teori kritis, harta, tahta dan wanita bukanlah suatu ancaman. Sepanjang kita dapat m,enempatkannya sesuai aturan, norma dan etika akan berdampak positif. Di sini, manusialah yang menjadi faktor penentu atas segala sesuatu. Manusia diberikan nalar dan kemampuan berepikir sehingga dengan itu dapat membedakan mana yang baik dan yang buruk, mana yang halal dan yang haram, dan seterusnya.  Harta, tahta dan wanita adalah tiga entitas yang akan membawa manfaat besar bagi kehgidupan manusia sepanjang manusia memperlakukannya secara kritis.

Wallahua’lam bishshawab.

Penulis:

Dadan Anugrah, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi,

Mahasiswa S 3 Komunikasi Unpad Bandung.

e-mail: grah_007@yahoo.com

Tlp. O81802131979

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s