FISIKA SEBAGAI LANDASAN ILMIAH KOMUNIKASI

A. PENGANTAR

Syam (2002), merekonstruksi ilmu komunikasi dalam tiga bagian besar: Pertama, akar ilmu komunikasi yang di dalamnya terkait dengan sejumlah kajian mengenai filsafat, fisika, biologi, matematika, sosiologi, psikologi, dan antropologi. Kedua, bagian pohon yang di dalamnya terkait dengan sejumlah kajian komunikasi (teoretik) seperti psiokologi komunikasi, antropologi komunikasi, filsafat komunikasi, biologi komunikasi, teori-teori dalam komunikasi, yang pengkajiannya pada tataran teoretik. Ketiga, bagian dahan dan ranting, yang di dalamnya terkait dengan sejumlah kajian komunikasi yang bersifat praksis, seperti komunikasi antarpersona, komunikasi kelompok (besar dan kecil), komunikasi publik, komunikasi antarbudaya, dan lain-lain. Komunikasi pada tataran praksis ini disebut Cangara (2002:29-38) sebagai tipe-tipe komunikasi, atau Mulyana (2001) menyebutnya konteks-konteks komunikasi.

Perspektif pohon komunikasi telah menjadi kajian yang sangat penting, mengingat di dalamnya akan memperlihatkan ilmu-ilmu atau sejumlah ilmu yang memperkuat eksistensi ilmu komunikasi. Pembahasan atau kajian ini, sejatinya memiliki keterkaitan (pararel) dengan wilayah kajian filsafat komunikasi yang di dalamnya membahas tentang ontologi, epistemologi, dan aksiologi.

Kajian tentang pohon komunikasi pun di sisi lain memberikan informasi penting bahwa sesungguhnya ilmu komunikasi dari mula akar hingga ke tataran praksis (cabang-cabang komunikasi) bersifat interdisipliner. Jauh-jauh hari misalnya, Schramm (1980) menyebut komunikasi sebagai ”jalan simpang paling ramai dengan segala disiplin yang melintasinya”. Schramm mengumpamakan ilmu komunikasi sebagai suatu oasis yang merupakan persimpangan jalan, tempat bertemunya berbagai ilmu (musafir) yang tengah dalam perjalanan menuju tujuan ilmunya masing-masing. Eklektisme komunikasi pun dapat dilihat pada konsep-konsep komunikasi yang terus berkembang saat ini. Fisher (1984) misalnya, mengemukakan empat perspektif komunikasi, yaitu perspektif mekanistis, perspektif psikologis, perspektif interaksional, dan perspektif pragmatis (Sobur, 2003:68).

Pikiran Fisher, memberi semacam landasan bahwa perspektif komunikasi tidak bisa tidak menghindar dari perspektif mekanistis, di mana komunikasi dipahami sebagai suatu rangkaian yang bersifat mekanik. Telaah Fisher ini pada gilirannya menempatkan fisika sebagai akar komunikasi.

Dalam perkembangannya, nuansa ilmu komunikasi baik pada tataran teoretik maupun praksis sarat akan muatan fisika yang melahirkan sejumlah teori, model dan kajian yang bersifat linier. Sekali lagi. realitas ini tak terhindarkan sebagai wujud derivasi fisika sebagai landasan ilmiah komunikasi.

Tulisan ini bertujuan ingin memberikan ”setitik” pemikiran di tengah luasnya samudra komunikasi, tentang fisika sebagai landasan ilmiah komunikasi. Bukan hal yang mudah untuk mencoba merangkainya dalam sebuah jalinan yang utuh, runtut dan logis mengani fisika sebagai landasan ilmiah komunikasi ini. Keterbatasan literatur adalah salah satu penyebab dari berbagai keterbatasan dalam penulisaan ini.

B. MENGAPA FISIKA ?

“seorang pelukis memang dapat mengagumi alam raya melalui keindahan seni. Seorang penyair mengungkapkannya melalui melalui bait-bait puisi atau seorang biduan melalui lagu dan nyanyian. Namun, hanya melalui seorang ilmuwanlah alam semesta dapat diungkap jauh lebih dalam dan terperinci”.

Sebelum berbicara tentang fisika sebagai landasan ilmiah komunikasi, kita perlu mengetahui terlebih dahulu apa itu fisika. Secara umum dan sederhana diketahui bahwa fisika adalah ilmu yang mempelajari tentang zat alam dan energi. Maka jika dikaitkan dengan komunikasi, maka fisika komunikasi berarti komunikasi yang berhubungan dengan ilmu yang mempelajari tentang zat dan energi.

Ilmu fisika merupakan dasar utama dan penting dalam kemajuan teknologi. Tidak dapat dipungkiri bahwa hampir seluruh kemajuan teknologi saat ini berasal dari konsep-konsep ilmiah yang disusun para ilmuwan fisika. Ilmu fisika telah melahirkan dua revolusi penting dunia, yaitu revolusi industri sejak dibangunnya mesin uap oleh James Watt dengan prinsip-prinsip termodinamika, dan revolusi informasi sejak diciptakannya semikonduktor sebagai bagian terpenting dari prosesor dalam komputer (Ishaq, 2007:9), sehingga tidak berlebihan jika dikatakan bahwa fisika adalah jantung dari kemajuan teknologi.

Selanjutnya Ishaq mengatakan bahwa ilmu fisika pada dasarnya selalu berhubungan dengan pengukuran, baik pengukuran secara langsung, seperti waktu, panjang dan massa, ataupun pengukuran secara tidak langsung, seperti mengukur energi, gaya dan kecepatan.

Umumnya para Filsuf komunikasi sepakat akan adanya dua aliran yang berkaitan dengan pandangan tentang pemaknaan meskipun ada perbedaan dalam penggambarannya, yaitu aliran fisika dan aliran mental. Menurut Syam (2002:34), aliran fisika memandang pemaknaan sebagai unit dari dunia fisik yang ada secara mandiri dari setiap aktivitas manusia, sedangkan aliran mental memandang pemaknaan two eksis sebagai unit-unit tetapi hanya dalam kesadaran unik manusia. Pemaknaan menurutnya, merupakan kepingan-kepingan eksistensi mental manusia yang dapat dipandang sebagai kesan, konsep, maksud atau ide.

Saat kita berkomunikasi, disitu ada energi yang mendorong pesan kita kepada penerima pesan, melalui udara, angin atau energi dari tubuh kita. Informasi yang kita berikan itu juga merupakan sinyal yang dikirimkan dan diterima. Sinyal itupun dikirim melalui udara. Namun, tidak banyak yang menyadari bahwa udara merupakan salah satu zat yang diciptakan oleh Allah, yang juga dapat mengkomunikasikan sesuatu kepada kita. Inilah yang sebenarnya disebut Fisika sebagai ilmu Allah.

Sangat disayangkan, tidak banyak yang menyadari bahwa sebenarnya fisika merupakan ilmu Allah Juga. Menurut Ishaq (2007:9), fisika adalah “ilmu yang secara luas mengkaji ayat-ayat Allah, yang terbentang di alam semesta”. Ayat-ayat yang dimaksud disini adalah ayat-ayat kauniyah. Dengan demikian, jika kita mempelajari fisika, berarti kita sedang membaca ayat-ayat Allah. Selain dapat dibaca, ayat-ayat Allah juga berkomunikasi kepada kita, dan memberikan informasi kepada manusia. Selama ini kita hanya menyadari bahwa setiap hari matahari terbit disiang hari, dan bulan di malam hari, seakan itu adalah rutinitas mereka sehari-hari. Kita lupa bahwa itu merupakan informasi. Jika matahari terbit, itu adalah sebuah pesan bahwa hari menjelang siang, dan jika bulan muncul, itu adalah sebuah pesan bahwa hari menjelang malam. Matahari juga dapat memberikan informasi waktu sholat kepada umat Islam.

Marilah kita mulai merenungkan alam semesta, mulai dari langit, bumi, gunung, hujan atau angin. Hujan yang sering membuat kita kesal karena tidak bisa berangkat ke kantor, ternyata tidak dengan begitu saja turun ke bumi. Menurut Ishaq (2007:3), hujan jatuh ke langit dengan kecepatan yang terukur, yang sama sekali tidak membahayakan manusia saat jatuh menghunjam ke bumi. Hujan meluncur dalam tetesan-tetesan kecil, yang kemudian meresap ke dalam tanah, diserap benih, lalu menumbuhkan dan menyuburkan tanaman, tumbuhan, bunga, biji dan buah-buahan. Tetesan hujan yang jatuh setinggi 1.500 meter turun dengan kecepatan yang tidak membahayakan saat tiba di bumi. Padahal kalau dihitung, jika ada benda yang jatuh dengan ketinggian yang sama, maka benda tersebut akan jatuh dengan kecepatan ratusan km/jam yang tentu saja sangat berbahaya. Allah berfirman : “Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya kami benar-benar berkuasa menghilangkannya” (QS. 23:18). Begitu pula dengan angin. Angin berhembus membawa benih-benih tumbuhan, mengarak awan yang membawa butiran hujan. Kita tidak pernah memikirkan hal ini. Selama ini kita hanya memikirkan dan mengagungkan kecanggihan teknologi yang membuat kita terkagum-kagum akan kehebatan orang barat. Padahal, kecanggihan teknologi tersebut tidak bisa terlepas dari keberadaan alam melalui pemanfaatan ionosfer, gelombang elektromagnetik, barang tambang, minyak dan gas di perut bumi. Hal ini juga dipertegas oleh ayat al-Qur’an surat 40 ayat 57 yang artinya: “Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Adanya alam semesta tidak datang dengan sendirinya, tapi pasti ada yang menciptakan. Menurut Paul Davies, seorang ahli fisika (dalam Ishaq, 2007:4), terjadinya alam semesta berawal dari sebuah ledakan besar (big bang). Dari ledakan besar inilah muncul keteraturan dan kehidupan. Ini merupakan keajaiban yang mungkin terjadi karena perencanaan “penyetelan” perhitungan dan pengukuran yang sangat cermat. Bukan hal yang aneh jika sesuatu benda yang pecah atau meledak akan menjadi hancur berantakan, namun tidak terjadi pada alam semesta. Dia tidak hancur berkepingan, tapi bahkan hasilnya keteraturan dan kehidupan seperti yang kita rasakan sekarang ini. Hal ini karena ada Allah SWT yang menciptakannya.

Semua yang diciptakan Allah sudah melalui proses perhitungan yang tepat, jauh sebelum para ilmuwan mengetahuinya dan menghitungnya. Bumi diciptakan dengan ukuran yang tepat, berjarak 150 juta Km dari matahari. Jika jarak bumi dengan matahari lebih dekat ke matahari, maka pastilah planet yang kita diami ini akan sangat panas, bahkan menjadi hangus seperti Merkurius. Sebaliknya jika terlalu jauh, maka temperatur bumi akan menjadi sangat dingin. Menurut perhitungan para ahli, jika 10 % saja panas yang dipancarkan ke bumi berkurang, maka hal itu akan membuat permukaan bumi ditutupi es setebal beberapa meter. Selain itu Allah juga telah menyiapkan segalanya dengan cermat. Allah menciptakan atmosfer untuk melindungi bumi dari radiasi cahaya ultraviolet (UV) matahari, yang berguna bagi kesehatan manusia.

Allah SWT telah menyatakan dalam al-Qur’an bahwa Dia telah menciptakan alam semesta sedemikian teraturnya dan menurut ukurannya, sehingga mustahil tidak ada yang menciptakan. Sebagaimana yang tertuang dalam QS. 15: 19 yang berbunyi: “Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran” dan QS. 13:17 yang berbunyi: “Allah telah menurunkan air dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya..”.

Semua yang kita lihat di alam semesta ini mengkomunikasikan kepada kita bahwa Allah itu ada, Allah lah yang menciptakan semuanya. Mampukah seorang manusia membuat gunung yang tidak bisa menggoyangkan manusia, membuat langit tanpa tiang dan mengatur peredaran matahari dan bulan untuk menentukan waktu? Para ilmuwan mempelajari fisika bukan untuk meniru atau mencari jawaban cara membuatnya, tetapi justru untuk menambah keyakinan pada pencipta alam raya ini. Selain itu juga, apabila kita sudah dapat memahami alam semesta, maka alam semesta pun akan dapat kita ajak berkomunikasi, dan membantu kita dalam kondisi apapun. Seringkali kita mengalami kondisi kritis, saat dimana kita mulai merasa terjepit, perlu mendapat bantuan dari orang lain. Namun apa yang terjadi jika saat kita mengalami kondisi kritis itu, tidak ada orang yang bias membantu kita? Maka jawabnya alam semesta lah yang membantu kita, yang oleh Prof Yohanes Surya, seorang ahli fisika disebutnya dengan istilah Mestakung (Alam semesta mendukung).

Salah satu contoh mestakung adalah seperti yang dialami Gultom (Surya, 2006: 10) bahwa saat kecil dia sangat nakal. Suatu hari dia mencuri mangga tetangganya, dan ketahuan oleh si pemilik mangga. Maka tetangganya itu mengeluarkan anjingnya dan menyuruh anjing itu mengejar Gultom. Gultom lari katakutan, kemudian tanpa disadarinya, dia melompat setinggi hamper 1,5 meter. Suatu hal yang luar biasa, Gultom mampu melompat sedemikian tingginya. Mengapa hal ini bias terjadi? Ini karena saat Gultom ketakutan, ia sedang berada pada posisi kritis. Saat Gultom dalam kondisi kritis, terjadilah mestakung. Molekul-molekul dalam sel tubuh Gultom mengatur dirinya, sehingga menghasilkan energi ekstra yang membuat Gultom mampu melompat setinggi 1,5 meter, dan terbebas dari kondisi kritis. Padahal, jika dalam kondisi biasa, Gultom tidak mampu melompat sedemikian tingginya. Inilah mestakung. Alam semesta dapat memahami kondisi kita, dan dapat dengan segera menolong kita. Maka, jangan pernah takut dengan fisika, apalagi meremehkannya. Kita perlu lebih memahami fisika, sebagai ilmu Allah dan sebagai landasan ilmiah ilmu komunikasi.

C. MENELUSURIU JEJAK FISIKA DALAM KOMUNIKASI

Awalnya, mungkin tidak banyak ilmuwan yang perduli terhadap kontribusi fisika dalam pendewasaan ilmu komunikasi. Untuk kasus di Indonesia, jejak langkah fisika sebagai akar komunikasi ini didengungkan oleh Prof. Nina Wiangsig Syam (Guru Besar Ilmu Komunikasi Unpad) dengan mencoba membuat terobosan ”eksentrik” yakni pohon komunikasi.

Syam (200234-38), mengungkap pemaknaan dalam komunikasi dalam dua bagian besar: Pertama, aliran fisika yang memandang pemaknaan sebagai unit (bagian) dari dunia fisik yang ada secara mandiri dari setiap aktivitas manusia. Dalam tataran ini, pemaknaan dapat dipahami sebagai data, sikap, ataupun informasi. Kedua, aliran mental, yang memandang pemaknaan two eksis sebagai unit-unit tetapi hanya dalam kesadaran unik manusia. Pemaknaan sejatinya merupakan kepingan-kepingan eksistensi mental manusia yang dapat dipandang sebagai kesan, konsep, maksud atau ide.

Jejak langkah fisika dalam komunikasi begitu sangat kuat mempengaruhi para ilmuwan komunikasi. Di samping terdapat aliran mekanistik yang secara implisit memiliki sifat-sifat fisika (linier, satu arah, mekanistis), juga terdapat beberapa konseptualisasi komunikasi yang secara eksplisit bergenre fisika. Beberapa konseptualisasi bergenre fisika ini, misalnya:

  1. David K. Berlo

Berlo, membuat alur komunikasi dengan model S – M – C – R , komunikasi terdiri dari rangkaian: source (sumber), message (pesan), channel (saluran), dan receiver (penerima). Komunikasi pada dasarnya sebuah perjalanan informasi atau data yang dimulai dari sumber hingga ke penerina (Mulyana, 2001151).

  1. Claude Shannon dan Warren Weaver

Shannon merupakan seorang insinyur pada Bell Telephone, karenanya ia berkepentingan dengan penyampaian pesan yang cermat melaui telepon. Kedua ilmuwan ini memperkenalkan konsep redudancy dan entropy yang diukurnya secara kuantitaif. Redudancy adalah pengulangan kata untuk membumbui pembicaraan leawt radio atau telepon akan menyebabkan rendahnya entropy. Artinya, ketepatan signal (pesa) yang dikirim melalui kawat atau gelombang udara akan berkurang. Misalnya, bahasa yang indah dapat membangkitkan rasa persaudaraan yang lebih akrab (lihatMcQuail & Sven Windhal, 1985).

D. FISIKA-isme: Telaah Paradigmatik

Fisika sebagai akar ilmu komunikasi terasa begitu kuat melahirkan paradigma komunikasi yang mekanistik-linier. Paradigma ini beranggapan bahwa komunikasi merupakan proses penyampaian pesan (message) melalui saluran tertetu untuk sampai kepada penerima (receiver). Pada wilayah metodologis, pengaruh fisika ini nampak dalam bentuk-bentuk penelitian yang bersifat kuantitatif-deduktif.

Pengaruh fisika ini pun nampak kuat pada dataran konseptualisasi komunikasi dan sejumlah teori yang dilahirkannya. Pada ranah konseptualisasi, mucul beberapa definisi komunikasi yang merefleksikan linieritas, misalnya:

  1. Bernard Berelson dan Gary A. Steiner

Komunikasi: transmisi informasi, gagasan, emosi, keterampilan dan sebagainya, dengan menggunakan simbol-simbol – kata-kata, gambar, figur, grafik, dan sebagainya. Tindakan atau proses transmisi itulah yang biasanya disebut komunikasi.

  1. Theodore M. Newcomb

Setiap tindakan komunikasi dipandang sebagai suatu tindakan transmisi informasi, terdiri dari rangsangan yang diskriminatif, dari sumber ke penerima (Mulyana, 2001:62).

Sebagai konsekuensi paradigmatik seperti itu (mekanistis-linier), pada akhirnya bermuara kepada proses pemaknaan yang cenderung kaku. Di lain pihak derivasi dari paradigmatik ini melahirkan cara pandang yang brebeda dalam dua hal: Pertama, cara pandang terhadap teori, di mana secara diameteral teori komunikasi berada pada dua kutub yang berbeda, yaitu kutub teoi-teori subjektivis dan kutub teori-teori objektivis. Apabila dilihat lebih jauh ke dalam, kutub teori objektivis “dicurigai“ sebagai akibat dari kuatnya pengaruh fisika dalam komunikasi. Sedangkan kutub subjektivis, merupakan perwujudan dari fenomenologi yang banyak dilahirkan oleh ilmu-ilmu sosial.

Kedua, cara pandang terhadap manusia dalam komunikasi. Orang-orang yang diilhami oleh fisika cenderung memandang bahwa manusia sebagai sesuatu yang pasif, dapat diramalkan, dikendalikan, perubahannya disebabkan oleh kekuatan-kekuatan sosial di luar diri mereka, dan lain sebaginya. Sedangkan pada ranah lain (subjektivis-fenomenologi), manusia bersifat unik, aktif, memiliki motivasi, dinamis, kehendak, serta mampu melakukan perubahan lingkungan disekeliling mereka (Mulyana, 2001:22).

Pada wilayah yang lebih praksis, dominasi fisika sebagai akar ilmu komunikasi tidak mungkin untuk dinafikan. Perkembangan teknologi komunikasi sebagai kekuatan orde/gelombang ketiga (Third Wave) sebagaimana dikatakan McLuhan sebagai puncak kemanagan sains dan teknologi yang didasarkan atas prinsip-prinsip fisika.

Ketika media massa sudah menjadi kekuatan keempat dalam sistem politik Indonesia, penelitian-penelitian yang didasarkan atas pengaruh teknologi komunikasi massa sebagaimana tercermin dalam Agenda Setting, teori kultivasi, Social Learning Theory, Jarum Hipodermik, model komunikasi satu tahap dan dua tahap menjadi kajian tetap menarik.

Kepustakaan

Burhan Bungin, 2006. Sosiologi Komunikasi: teori paradigma, dan diskursus tehnologi komunikasi di masyarakat. Jakarta: kencana Prenada Media Group.

Cangara, Hafied, 2002. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: Rajawali.

Ishaq, Mohammad. 2007. Fisika (Menguak rahasia Alam dengan Fisika). Jakarta: Departemen Agama.

Linda Smith dan William Reaper, 2000. Ide-Ide: Filsafat dan Agama dulu dan sekarang. Jogjakarta: Kanisius.

Mahdi Ghulsani, 1995. Filsafat Sains Menurut Al-Quran, bandung: Mizan.

McQuail & Sven Windhal, 1985. Model-Model Komunikasi. Jakarta: Uni Primas.

Mulyana, Deddy, 2001. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: Rosda.

Mulyana, Deddy, 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: rosda.

Russel, Betrand, 2004. Sejarah Filsafat Barat : Kaitannya dengan kondisi sosial politik zaman kuno hingga sekarang. Jogjakarta

Syam, Nina Winangsih, 2002. Rekonstruksi Ilmu Komunikasi Perspektif Pohon Komunikasi dan Perdeseran Paradigma Komunikasi Pembangunan Dalam Era Globalisasi. Bandung: ITB.

Severin, Warner J. & James W. Tankard, Jr., 2005. Teori Komunikasi, Sejarah, Metode, dan Terapan di dalam Media Massa. Jakarta: Prenada

Surya, Yohanes. 2006. Mestakung (Rahasia Sukses Juara Dunia Olimpiade Fisika). Bandung: Hikmah, PT. Mizan Publika.

West, Richard & Lynn H. Turner, 2007. Teori Komunikasi, Teori dan aplikasi. Jakarta: salemba Empat. Littlejohn, Stephen W. dan Karen A. Foss, Theories of Human Communication, USA: Thoman Waadsworth,2008, edisi kedelapan

Rakhmat, Jalaludin, Psikologi Komunikasi, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999

Saefullah, Ujang, Kapita Selekta Komunikasi, Pendekatan Budaya dan Agama, Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2007

Syam, Nina W., Rekonstuksi Ilmu Komunikasi Perspektif Pohon Komunikasi dan Pergeseran Paradigma Komunikasi Pembangunan dalam Era Globalisasi, Bandung Unpad, 2002

Severin, Werner J. Teori Komunikasi, Sejarah, Metode dan Terapan di dalam Media Massa, Jakarta: Kencana, 2007

Engkus Kuswarno, M.S, Komunikasi Hado, Pikiran Rakyat 12 Februari 2007


[2] Mahdi Ghulsani, Filsafat Sains Menurut Al-Quran, bandung : Mizan, 1995. hlm. 92-93

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s