EPISTEMOLOGI: Melacak Sumber Ilmu Barat – Islam

A. PENGANTAR

Perdebatan sumber ilmu menurut filosof Barat dan filosof Islam merupakan tema perenis. Betapa pun diskursus ini berlangsung berabad-abad, tetapi masih banyak ilmuwan yang berada pada posisi ekstrem dalam memandang sumber atau jalur ilmu tersebut. Banyak kalangan, terutama yang bermadzhab ke Barat tetap keukeuh bahwa sumber ilmu atau jalan memperoleh ilmu (epistemologi) hanya didasarkan kepada (1) empirisme, (2) rasionalisme, dan (3) yang berupaya menggabungkan keduanya menjadi dualisme.

Sementara ilmuwan lain, berada pada ekstrem lain, yaitu memandang bahwa sumber ilmu atau jalar dalam memperoleh ilmu (epistemologi) berdasarkan tuntunan illahi (wahyu). Apabila demikian, lalu di mana letak letak titik singgungnya ? Apakah kedua jakur memperoleh dalam memperoleh ilmu tersebut dapat ”dikawinkan” sehingga muncul apa yang disebut Prof. Nina W. Syam sebagai paradigma integrated science. Berbagai kemungkinan bisa terjadi, mengingat karena wilayah nalar atau keilmuan berada pada wilayah profan yang memungkinakn setiap saat berkembang sesuai dengan konteksnya.

Tulisan ini ingin mengungkap setitik dari perdebatan yang nyaris klasik tersebut. Mencoba mencairkan suasana ”beku” sebagai akibat ”baku hantam” antara Barat dan Timur. Paradigma alternatif perlu dikaji dan dolahirkan, dan Prof. Nina W. Syam telah memulainya dengan melontarkan gagasan integrasi ilmu. Hal itu berangkat dari asumsi bahwa sejatinya tidak perlu ada pertentangan antara Barat dan Timur pada ranah epistemologi. Kita dapat saja berseloroh: ”Tuhan saja tidak pernah ribut mengenai epistemologi Barat maupun Timur……”

B. SEKILAS TENTANG EPISTEMOLOGI

Menurut Runes (1971:94) dalam Dictionary of Philosophy, kata epistemologi berasal dari kata episteme di tambah logos, theory. Dari akar kata ini ditarik rumusan epistemologi sebagai berikut: Epistemologi sebagai cabang fislasat yang meyelidiki tentang keaslian, pengertian, struktur, metoda dan validitas ilmu pengetahuan. Selanjutnya Nasution (1973:10) memberikan arti epistemologi: Episteme berarti pengetahuan dan epistemologi ialah ilmu yang membahas tentang (a) apa itu pengetahuan, dan (b) bagaimana cara memperoleh pengetehuan.

Rumusan lain tentang epistemologi dikemukakan oleh Suhono yang menyatakan, bahwa epistemologi adalah teori mengenai hakekat ilmu pengetahuan, ialah bagian filsafat mengenai refleksi manusuia atas kenyataan (Pranaka, 1979:132).

Dari beberapa kutipan di atas nampak dengan jelas, bahwa pada dasarnya epistemologi bersangkutan dengan masalah-masalah yang meliputi: (a) filsafat, yaitu sebagai cabang filsafat yang berusaha mencari hakekat dan kebenaran pengetahuan, (b) metoda, sebagai metoda bertujuan mengantar manusia untk memperoleh pengetahuan, dan (c) sistem, sebagai suatu sistem bertujuan memperoleh realitas kebenaran pengetahuan itu sendiri.

Lalu apa yang dimaksud dengan epistemologi Islam ? Epistemologi Islam adalah usaha manusia untuk menelaah masalah-masalah obyektivitas, metodologi, sumber serta validitas pengetahuan secara mendalam dengan menggunakan subyek Islam sebagai titik tolak berpikir.

Rumusan tersebut membawa dua konsekuensi penting. Di satu sisi epistemologi Islam (arti luas) membahas masalah-masalah epistemologi pada umumnya, sedangkan di sisi lain (ati khusus), epistemologi Islam menyangkut pembicaraan mengenai wahyu dan ilham sebagai sumber pengetahuan dalam Islam (Amin, 1983:11)

Amin menekankan bahwa perbedaan yang paling mendasar antara epitemologi Barat dan epistemologi Islam terletak pada sumber pengetahuan yang tidak saja bersumber dari akal (rasionalisme) dan pengalaman (empirisme), tetapi pengetahuan pun (dalam Islam) bersumber dari wahyu dan ilham. Wahyu merupakan sumber pertama (primer) bagi Nabi/Rasul untuk memperoleh pengetahuan, sedangkan bagi manusia wahyu merupakan sumber sekunder. Ilham dapat menjadi sumber primer pengetahuan manusia karena dapat diterima oleh setiap manusia yang diberi anugrah Allah.

Dalam Al-Qur’an, Allah menginformasikan mengenai pengetahuan Nabi Muhammad bersumber dari wahyu:

Katakanlah: “Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat kepadaku dan tidak (pula) terhadapmu, aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seoang pemberi peringatan yang menjelaskan” (QS.46:9).

….aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku (QS. 6:50).

Dari aspek bahasa (etimologi), wahyu berasal dari kata Arab al-wahy yang berarti suara, api dan kecepatan. Dalam tulisan Husaini (1931:93), wahyu diartikan sebagai inspirasi (what is the which gives a sign which does the function of expresión. From expression it is possible to understand the meaning intended by it; and iit on this account, that it is called an expression as opposed to the sign which is wahy).

Pengertian di atas sejatinya memberikan pemahaman bahwa wahyu adalah firman Allah, sedangkan isi wahyu adalah pengetahuan yang diturunkan oleh Allah kepada manusia yang telah ditunjuk atau dipilih sendiri oleh Allah, dalam hal ini Nabi atau Rasul.

Pengetahuan lain yang didapatkan oleh manusia bisa bersumber dari ilham. Sebagian pendapat mengatakan bahwa ilham pada dasarnya sama dengan wahyu yang disampaikan melalui hati sanubari. Pengertian ini dilandaskan kepada pendapat Al-Ghazali yang menyatakan bahwa ilham berupa cahaya yang jatuh di atas hati nurani. Namun pada sisi lain cara penurunan wahyu dan ilham memiliki perbedaan, yakni wahyu disampaikan melalui utusan (nabi/rasul), sedangkan ilham tidak melalui perutusan. Secara bahasa, ilham diartikan sebagai “bisikan (petunjuk) yang datang dari hati” (Purwadarminta, 1949:38).

C. EPISTEMOLOGI BARAT: Melacak Sumber Ilmu Filosof Barat

Dalam sejarahnya, perkembangan ilmu pengetahuan dibagi dalam tiga babak (periodesasi). Pertama, sebelum 15.00 tahun SM (Sebelum Masehi) dengan ciri utama manusia belajar dari alam sekitarnya. Manusia menemukan cara-cara untuk tetap bertahan dengan cara mempelajari alam. Dengan cara seperti itu, manusia mampu “menundukan” alam melalui daya nalarnya yang pada saat itu masih dapat dikatakan terbatas. Corak masyarakat pada saat itu bercirikan budaya hidup nomade (berpindah-pindah). Tujuan hidup nomade ini pun masih tetap didominasi oleh pemenuhan hidup, mencari sumber-sumber energi baru yang dapat menopang dan mempertahankan hidupnya.

Sekitar 15.000 – 600 tahun SM, perioode awal, peradaban manusia telah mulai mengenal membaca, menulis dan berhitung. Menurut Wahyudi (1991:67), manusia telah berusaha mengirim pesan dalam bentuk patán-pahatan atau goresan-goresan pada batu sekitar 300.000 SM yang belakangan disebut dengan pictogram yang tersimpan di Musium Ontario, Toronto Kanada. Selanjutnya masuk ke periode Mesir Kuno, Sumeria, Babilonia, Niviveh, Tiongkok, Maya, dan Inca. Pada tahun 100 – 44 SM, pada masa kerajaan Roma, dan rajanya dijabat oleh Gajus Julius Caesar telah mengenal dasar-dasar jurnalistik melalui tulisan tangan (Wahyudi, 1991:72). Dalam kurun waktu yang relatif panjang sejarah peradaban telah banyak melahirkan para filosof terkenal seperti Sócrates, Aristóteles, Plato, Thales, Archimedes, Aristachus, dan lain-lain. Pada masa ini telah dikenal apa yang disebut dengan logika deduktif dan silogismo.

Kedua, periode atau abad pertengahan diwarnai oleh para pemikir Arab-Islam yang membawa corak pemikiran berbasis agama dan moral. Pada abad ini lahir para pemikir seperti Al-Kindi (Filosof Islam Pertama), Al Khawarijmi (Aljabar), Al Idris (Astronomi), Ibnu Sina atau Avisena, Ibnu Rusdi atau Averus, Umar Kayam, dan lain-lain.

Ketiga, abad modern. Pada abad ini ilmu pengetahuan berkembang pesat sebagai hasil interaksi berbagai ilmu pengetahuan yang disebut dengan proses sistesa. Abad modern pun ditandai oleh paradigma positivisme yang digagas oleh August Comte melalui Sosiologi Positif. Comte ingin menegaskan, bahwa kemajuan ilmu pengetahuan hanya akan berkembang cepat apabila manusia melepaskan cara berpikir yang metafisik (lihat Pengantar Sosiologi, Soerjono Soekanto

Menurut Jujun S. Suriasumantri (dalam Qadir, 1988), pengetahuan tentang ilmu seyogyanya mencakup pengetahuan tentang apa yang dikaji ilmu, bagaimana cara ilmu melakukan pengkajian, dan menyusun tubuh pengetahuannya, serta untuk apa pengetahuan ilmiah yang telah disusun itu dipergunakan. Ketiga hal tersebut dalam terminologi kefilsafatan dikenal dengan istilah ontologi (apa), epistemologi (bagaimana), dan axiologi (untuk apa). Dalam operasionalisasinya persoalan filsafat ilmu tesebut pun masih memerlukan ”bantuan” ilmu lain, seperti bahasa, logika, matematika, dan statistika.

Dalam epistemologi Barat, bagaimana cara memperoleh pengetahuan dikenal dengan tiga paham: Pertama, pendekatan rasionalisme. Suatu paham bahwa pengetahuan terjadi karena bahan pemberian panca indera dan batin yang diolah oleh “akal”. Akal memegang peranan penting dalam, mengolah informasi dari eksternal sehingga melahirkan pengetahuan. Rasionalisme ini terbagi ke dalam dua aliran, yaitu rasionalisme idealis dan rasionalisme realis. Rasionalisme idealis berpegang teguh kepada keyakinan bahwa pengetahuan kita dapat melampaui pengalaman panca indera sejati. Sedangkan rasionalisme realis berpendapat bahwa pengolahan pengetahuan oleh rasio tidak terlepas dari obyek yang diamatinya. Langeveld (1955:51): “Rasio mengolah pengalaman sambil meresap ke dalam obyek, sedangkan obyek itu sendiri bukan hasil ciptaan sukma manusia”

Melalui rasio, ilmuwan dapat melakukan tiga hal penting yang menjadi basis pengembangan pengetahuan, yaitu (1) definisis, (2) komparasi, dan (3) kausalitas. Definisi melakukan proses pembatasan tentang sesuatu yang disebut ”A” atau ”B”. Komparasi melakukan proses perbandingan antara ”A” dan ”B”. Kausalitas dapat menjelaskan mana yang menjadi ”sebab” dan mana yang menjadi ”akibat”. Bebarapa tokoh penting yang berada dibalik paham rasionalisme ini misalnya, Augustinus, Scotus, Descrates (1596-1650), Spinoza (1632-1677), Leibniz (1646-1716), Fichte (1762-1814), Hegel (1770-1813), dan lain-lain.

Meskipun gegap gempita rasionalisme telah mampu menyedot perhatian ilmuwan seantero dunia, di sisi lain banyak pula yang mengkritik atau membantahnya. Bantahan terhadap rasionalisme misalnya: (1) rasionalisme bersifat spekulatif, terlalu mengandalkan olahan rasio dan lalai dalam pengujian yang dihubungkan dengan dunia nyata. (2) rasionalisme cenderung a-priori, dalam arti masalah psikologis yang merupakan pembawaan individual (tanggapan-tanggapan pembawaan) akan berbeda pada diri setiap orang.

Kedua, empirisme, yaitu Suatu paham yang berpendapat bahwa pengetahuan yang diperoleh terbatas hanya pada pengalaman. Dalam perkembangannya empirisme ini terbagi dua, yaitu empirisme sensualisme dan empirisme konsiensialisme. Empirisme sensualisme yaitu proses perolehan pengetahuan yang hanya bertumpu pada pengalaman pancaindera semata-mata. Sensualisme ini memiliki keterbatasan, bahwa kebenaran pancaindera bersifat semu. Sedangkan empirisme konsiensialisme mengemukakan bahwa Keputusan yang diambil dari pengalaman panca indera berdasarkan pertimbangan penuh kesadaran, dalam arti pertimbangan yang matang. Beberapa tokoh yang menjadi “dewa” dalam [aham empirismo ini misalnya John Locke (1632-1704), Berkeley (1685-1753), David Hume (1711-1776), termasuk “kaum positivis” seperti August Comte (1798-1857).

Paham empiris ini pun tida lupus dari sasaran kritik dan bantahan. Di antara bantahan yang tajam misalnya dapat dilihat pada: (1) Kebenaran yang dilahirkan apakah hasil pengamatan nyata atau keputusan si pengamat sendiri ? dan (2) Pengamatan hanya menghasilkan kenyataan yang memerlukan keputusan, sedangkan situasi psikis si pengamat akan akan berpengaruh terhadap keputusan yang diambil. Dengan demikian bisa terjadi sikap “a priori” sehingga keputusan antara seorang pengamat bisa berbeda dengan pengamat lainnya

Ketiga, paham dualisme. Paham ini berusaha menggabungkan atau mendamaikan kedua kutub paham yang bersebrangan secara diameteral. Paham ini berpendapat bahwa pengetahuan sejatinya dihasilkan oleh kedua instasnsi, yaitu rasio dan pengalaman inderawi. Rasio dan pengalaman memiliki masing-masing keterbatasan yang tak terhindarkan, oleh karena itu suatu proses yang mengkompromikan antara rasio dan pengalaman menjadi jalan tengah yang paling ideal. Rasio atau akal tidak dapat menyerap pengetahuan secara utuh tanpa pengalaman inderawi, sedangkan pengalaman inderawi saja tidak bisa menghasilkan pengetahuan tanpa diolah secara kreatif oleh rasio (otak).

D. EPISTEMOLOGI ISLAM: Melacak Sumber Ilmu Filosof Muslim

Sebelum kita mengelaborasi lebih jauh mengenai sumber ilmu dalam pandangan filosof muslim, ada baiknya kita mencermati beberapa firman Allah berikut ini:

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan (QS. Al-Baqarah/2:164).

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur (QS. An-Nahl/16:78).

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya (QS. Al-Israa/17:36).

Allah menganugerahkan al hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (QS. Albaqarah/2:269)

Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran (QS. Ar ra’d/13:19)

Apabila melihat firman Allah di atas, sejatinya Islam mendasarkan sumber ilmu salah satunya kepada apa yang selama menjadi sumber ilmu di Barat. Dalam Islam ilmu dapat diperoleh melalui penglihatan dan pendengaran yang menjadi basis empirisme. Islam pun mengakui bahwa sumber pengetahuan berdasarkan rasio atau akal. Dalam konteks itu dikatakan bahwa pelajaran (ilmu pengetahuan) diperoleh melalui kedua instansi sumber ilmu tersebut.

Secara umum epistemologi memiliki peran atau kedudukan sentral dalam ilmu pengetahuan yang terkait dengan bagaimana cara (metode) memperoleh pengetahuan serta validitasnya. Dalam khazanah pemikiran Islam, epistemologi Islam memiliki kedudukan bertingkat-tingkat, di dalamnya meliputi:

  1. perenungan (comtemplation)
  2. pengindraan (sensation)
  3. pencerapan (perception)
  4. penyajian (representation)
  5. konsep (concept)
  6. timbangan (judgement)
  7. penalaran (reasoning).

Pada wilayah lain, perbedaan yang mendasar epistemologi Islam dengan epistemologi Barat terletak pada titik pusatnya. Dalam epistemologi Barat bahwa pengetahuan berpusat pada manusia (anthropocentric) yang menganggap manusia sebagai makhluk mandiri (autonomours) dan menentukan segala-galanya. Sedangkan epistemologi Islam menyatakan bahwa pengetahuan berpusat pada Allah (theocentric), sehinggaa berhasil atau tidaknya tergantung setiap usaha manusia meniscayakan adanya iradah Allah. Allah-lah sebagai sumber pengetahuan dan pusat kebenaran.

Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu (QS. Yunus/10:94)

Katakanlah: “hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu kebenaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, sebab itu barang sipa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri dan barang siapa yang sesat maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu” (Q.S Yunus/10:108).

Menurut Muhammad (1984:34-36), jalur-jalur untuk memeroleh pengetahuan (ilmu) dibagi ke dalam dua jalur. Pertama, jalar ilahiyah, yakni manusia memperoleh ilmu atas informasi ilahiyah (wahyu) secara langsung Sian pakai tanpa prosedur sebagaimana dalam metode ilmiah. Pengetahuan ini diberikan lepada nabi dan rasul. Melalui jalar ini manusia bisa memperoleh ilmu tentang masalah-masalah non empiris (ghoib), misalnya tentang hari akherat, malaikat, syetan, sorga, neraka, dan sebagainya, juga di dalamnya ilmu-ilmu tentang kosmologi.

Kedua, manusia dapat memperoleh ilmu melalui jalur insaniah melalui oleh pikir, olah jiwa yang bermuara pada penelaahan filsafat, logika matemátika, dan humaniora. Daya nalar (rasionalisme) dan pengalaman (empirisme) menjadi basis ilmu pengetahuan jalur insaniah melalui epoistemologi deducto – hipotético verifikatif.

D. RAGAM EPISTEMOLOGI ISLAM

Bagaimana cara memperoleh pengetahuan telah menyita para ilmuwan dari zaman ke zaman. Dalam epistemologi Barat dikenal tiga aliran pemikiran, yaitu empirisme, rasionalisme, dan intuitisme. Sementara itu, dalam pemikiran filsafat Hindu bahwa kebenaran diperoleh melalui tiga macam, yaitu teks suci,, akal dan pengalaman pribadi (Nikhilananda, 1958:4).

Dalam Islam, terdapat beberapa aliran besar yang berhubungan dengan teori pengetahuan (epistemologi). Sejauh ini ada tiga aliran yang acapkali menjadi objek kajian epistemolkogi Islam, yaitu bayani, irfani, dan burhani.

BAYANI

Bayni adalah sebuah motodologi berpikir yang didasarkan atas teks. Teks yang dimaksud hádala Al-Qur’an yang mempunyai otoritas penuh untuk memberikan arah tujuan dan arti kebenaran. Sedangkan rasio menurut metodologi ini hanya berperan-fungsi sebagai pengawal bagi keamanan otoritas teks tersebut. Secara singkat dapat dikatakan bahwa epistemologi bayani mendasarkan otoritas pengetahuan langsung dari teks (nash) yang kemudian diimplementasikan pada wilayah praktris tanpa harus melalui pemikiran. Akal tidak dibiarkan “bebas mengembara”, tetapi akal harus berlandaskan teks (Al-Jabiri, 1991).

Untuk mendapatkan pengetahuan dari teks, epistemologi bayani menempuh dua jalan. Pertama, berpegang pada redaksi (lafad) teks, dengan menggunakan kaidah bahasa Arab seperti nahwu dan sharaf. Di sini hanya orang-orang yang memiliki kemampuan bahasa Arab yang baik yang meniscayakan mendapat pengetahuan bari teks. Kedua, berpegang lepada makna teks dengan menggunakan logika, penalaran atau rasio sebagai sarana analisa.

Pada jalan kedua, penggunaan logika dilakukan dengan empat macam cara, yaitu:

1. Berpegang terhadap tujuan pokok (al-maqashid al-dlaririyah) yang mencakup lima kepentingan vital, yakni menjaga keselamatan agama, jira, akal, keturunan dan harta. Cara yang dilakukan dengan menggunakan induksi tematis (al-istiqra’ al-ma’ wi’), dan disitulah tempat penalaran rasional.

2. Berpegang terhadap illah teks. Untuk menemukan dan mengetahui adanya illah suatu teks ini digunakan sebuah sarana yang memerlukan penalaran yang disebut jalan illah’ (masalik al­-illah) yang terdiri atas tiga hal, (1) illat yang telah ditetapkan oleh nash, seperti illat tentang kewhhajiban mengambil 20% harta fai (rampasan) untuk fakir miskin agar harta tersebut tidak beredar dikalangan orang kaya saja (QS. Al-Hasyr:7). (2) illah yang telah disepakati oleh para mujtahid, misalnya illah menguasai harta anak yang masih kecil adalah karena kecilnya. (3) al-Sibr wa al-taqsim (trial) dengan cara merangkum sifat-sifat baik untuk dijadikan illat pada asal (nash), kemudian illat itu dikembalikan kepada sifat-sifat tersebut agar bisa dikatakan bahwa illah itu bersifat begitu atau begini. Cara kedua ini lebih lanjut memunculkan metode giyas (analogi) dan istihsan, yakni beralih dari sesuatu yang jelas kepada sesuatu yang masih samar, karena karena adanya alasan yang kuat untuk pengalihan itu (Jamil, 1997:139).

3. Berpegang pada tujuan sekunder teks. Tujuan sekunder adalah tujuan yang mendukung terlaksananya tujuan pokok. Contoh, tujuan pokok adalah memberikan pemahaman materi kepemimpinan lepada para karyawan. Tujuan sekunder memberikan tugas mengenai kepemimpinan. Adanya tugas akan mendukung pemahaman materi yang diberikan. Sarana yang digunakan untuk menemukan tujuan sekunder teks adalah istidlal, yakni mencari dalil dari luar teks; berbeda dengan istimbat yang berarti mencari dalil pada teks.

4. Berpegang pada diamnya Syari’ (Allah dan Rasul saw). Ini untuk masalah-masalah yang sama sekali tidak ada ketetapannya dalam teks dan tidak bisa dilkukan dengan cara qiyas. Caranya dengan kembali pada hukum pokok (asal) yang telah diketahui. Contohnya, hukum asal muamalah adalah boleh (al-ashl fi al-muamalah al-ibahah), maka jual beli lewat internet yang tidak ada ketentuannya berarti boleh, tinggal bagaimana mengemasnya agar tidak dilarang. Metode ini melahirkan teori istishhab, yakni menetapkan sesuatu berdasar keadaan yang berlaku sebelumnya selama tidak ditemui dasar/ dalil yang menunjukkan perubahannya (Khalaf, 1996)

Kritik yang acapkali dialamatkan kepada metode bayani ketika berhadapan dengan teks yang berbeda milik statu comunitas atau bangsa lain. Di mana, statu teks Belem tentu diterima secara universal oleh comunitas lain. Oleh karena itu ketika berhadapan dengan pertentangan seperti itu, nalar bayani biasanya cenderung mengambil sikap dogmatik, defensif, dan apologetik. Nalar bayani demikian tertutup Madang sulit untuk diajak berdialog secara sehat.

IRFANI

Irfani adalah model metodologi yang didasarkan atas pendekatan dan pengalaman langsung atas realitas spiritual keagamaan. Berbeda dengan epistemolkogi bayani yang bersifat eksoteris, maka epistemologi irfani lebih esoteris (batin) teks. Di sini, rasio berperan sebagai alat untuk menjelaskan berbagai pengalaman spiritual tersebut. Epistemologi irfani berada pada kasyf, yaitu tersingkapnya rahasia-rahasia realitas oleh Tuhan.

Dengan demikian pengetahuan irfani tidak diperoleh berdasarkan analisa teks tetapi dengan olah ruhani, dimana dengan kesucian hati, diharapkan Tuhan akan melimpahkan pengetahuan langsung kepadanya. Masuk dalam pikiran, dikonsep kemudian dikemukakan kepada orang lain secara logis. Dengan demikian pengetahuan irfani setidaknya diperoleh melalui tiga tahapan, (1) persiapan, (2) penerimaan, (3) pengungkapan, dengan lisan atau tulisan.

  1. Tahap persiapan. Untuk bisa menerima limpahan pengetahuan (kasyf), seseorang harus menempuh jenjang-jenjang kehidupan spiritual. Setidaknya, ada tujuh tahapan yang harus dijalani, mulai dari bawah menuju puncak (1) Taubat, (2) Wara, menjauhkan diri dari segala sesuatu yang subhat, (3) Zuhud, tidak tamak dan tidak mengutamakan kehidupan dunia. (4) Faqir, mengosongkan seluruh fikiran dan harapan masa depan, dan tidak menghendaki apapun kecuali Allah SWT, (5) Sabar, menerima segala bencana dengan laku sopan dan rela. (6) Tawakkal, percaya atas segala apa yang ditentukan-Nya. (7) Ridla, hilangnya rasa ketidaksenangan dalam hati sehingga yang tersisa hanya gembira dan sukacita (Al-Quraish, dalam Rakhmat, Jalaluddin, 1993).
  2. Tahap penerimaan. Jika telah mencapai tingkat tertentu dalam sufisme, seseorang akan mendapatkan limpahan pengetahuan langsung dari Allah secara illuminatif. Pada tahap ini seseorang akan mendapatkan realitas kesadaran diri yang demikian mutlak (kasyf), sehingga dengan kesadaran itu ia mampu melihat realitas dirinya sendiri (musyahadah) sebagai objek yang diketahui. Namun, realitas kesadaran dan realitas yang disadari tersebut, keduanya bukan sesuatu yang berbeda tetapi merupakan eksistensi yang sama, sehingga objek yang diketahui tidak lain adalah kesadaran yang mengetahui itu sendiri, begitu pula sebaliknya (ittihad) yang dalam khhajian Mehdi Yazdi disebut ‘ilmu huduri’ atau pengetahuan swaobjek (self-object-knowledge).
  3. Tahap pengungkapan, yakni pengalaman mistik iinterpretasikan dan diungkapkan kepada orang lain, lewat ucapan atau lisan. Namun, karena pengetahuan irfani bukan masuk tatanan konsepsi dan representasi tetapi terkait dengan kesatuan simpleks kehadiran Allah dalam diri dan kehadiran diri dalam Tuhan, sehingga tidak bisa dikomunikasikan, maka tidak semua pengalaman ini bisa diungkapkan. Persoalannya, bagaimana makna atau dimensi batin yang diperoleh dari kasyf tersebut diungkapkan? Pertama, diungkapkan dengan cara I‘tibar atau qiyas irfani. Yakni analogi makna batin yang ditangkap dalam kasyf kepada makna zahir yang ada dalam teks. Kedua, diungkapkan lewat syathahat, suatu ungkapan lisan tentang perasaan (al-wijdan) karena limpahan pengetahuan langsung dari sumbernya dan dibarengi dengan pengakuan, seperti ungkapan ‘Maha Besar Aku’ dari Abu Yazid Bustami (w. 877 M), atau Ana al-Hagq dari al-Hallaj (w. 913 M).” Karena itu, syathahat menjadi tidak beraturan dan diluar kesadaran

Dalam epistemologi irfani adanya pola pembakuan term-term seminal ilham, kasyf dan dlamir yang terekat dalam wirid-wiridnya yang diktitik oleh Fazlur Rahman salah seorang inteletual muslim sebagai religión within religión. Metodologi irfani ini menjadi sandaran dalam praktek sufisme baik pada masa yang lalu maupun saat ini yang tidak mudah dipahami oleh semua yang tidak memasukinya.

BURHANI

Burhani adalah metodologi yang tidak didasarkan atas teks maupun pengalaman, melainkan atas dasar runtutan nalar logika, bahkan dalam tahap tertentu teks dan pengalaman hanya bisa diterima apabila tidak bertentangan dengan aturan logika.

Burhani menyandarkan diri pada kekuatan rasio, akal, yang dilakukan lewat dalil-dalil logika. Perbandingan ketiga epistemologi ini adalah bahwa bayani menghasilkan pengetahuan lewat analogi furu’ kepada yang asal; irfani menghasilkan pengetahuan lewat proses penyatuan ruhani pada Allah, burhani menghasilkan pengetahuan melalui prinsip-prinsip logika atas pengetahuan sebelumnya yang telah diyakini kebenarannya. Dengan demikian, sumber pengetahuan burhani adalah rasio, bukan teks atau intuisi. Rasio inilah yang memberikan penilaian dan keputusan terhadap informasi yang masuk lewat indera (Ibn Rusyd, tt).

Selanjutnya, untuk mendapatkan sebuah pengetahuan, burhani menggunakan aturan silogisme. Mengikuti Aristoteles, penarikan kesimpulan dengan silogisme ini harus memenuhi beberapa syarat, (1) mengetahui latar belakang dari penyusunan premis, (2) adanya konsistensi logis antara alas an dan keismpulan, (3) kesimpulan yang diambil harus bersifat pasti dan benar, sehingga tidak mungkin menimbulkan kebenaran atau kepastian lain.

AI-Farabi mempersyaratkan bahwa premis-premis burhani harus merupakan premis-premis yang benar, primer dan diperlukan. Premis yang benar adalah premis yang memberi keyakinan, menyakinkan. Suatu premis bisa dianggap menyakinkan bila memenuhi tiga syarat; (1) kepercayaan bahwa sesuatu (premis) itu berada atau tidak dalam kondisi spesifik, (2) kepercayaan bahwa sesuatu itu tidak mungkin merupakan sesuatu yang lain selain darinya, (3) kepercayaan bahwa kepercayaan kedua tidak mungkin sebaliknya. Selain itu, burhani bisa juga menggunakan sebagian dari jenis-jenis pengetahuan indera, dengan syarat bahwa objek-­objek pengetahuan indera tersebut harus senantiasa sama (konstan) saat diamati, dimanapun dan kapanpun, dan tidak ada yang menyimpulkan sebaliknya.

Derajat dibawah silogisme burhani adalah ‘silogisme dialektika’, yang banyak dipakai dalam penyusunan konsep teologis. Silogisme dialektik adalah bentuk silogisme yang tersusun atas premis-premis yang hanya bertarap mendekati keyakinan, tidak sampai derajat menyakinkan seperti dalam silogisme demonstratif. Materi premis silogisme dialektik berupa opini-opini yang secara umum diterima (masyhurat), tanpa diuji secara rasional. Karena itu, nilai pengetahuan dari silogisme dialektika tidak bisa menyamai pengetahuan yang dihasilkan dari metode silogismo demonstratif. Ia berada dibawah pengetahuan demontratif.

Epistemologi burhani, meskipun ia bersifat rasional masih lebih berdasar pada model pemikiran induktif-deduktif. Permaian silogisme sebagaimana lazim dalam premis mayor, minor dan konklusi maíz terasa dominan. Kekuatan kebenaran nalar atau rasio akan Sangat tergantung lepada seberapa tepat dalam membuat-premis-premis tersebut.

Dari paparan di atas, tiga epistemologi Islam ini mempunyai ‘basis’ dan karakter yang berbeda. Pengetahuan bayani didasarkan atas teks suci, irfani pada intuisi sedang burhani pada rasio. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Untuk bayani, karena hanya mendasarkan diri pada teks, is menjadi terfokus pada hal-hal yang bersifat aksidental bukan substansial, sehingga kurang bisa dinamis mengikuti perkembangan sejarah dan sosial masyarakat yang begitu cepat. Kenyataannya, pemikiran Islam saat ini yang masih banyak didominasi pemikiran bayani fiqhiyah kurang bisa merespon dan mengimbangi perkembangan peradaban dunia. Tentang burhani, ia tidak mampu mengungkap seluruh kebenaran dan realitas yang mendasari semesta. Misalnya, burhani tidak mampu menjelaskan seluruh eksistensi diluar pikiran seperti soal warna, bau, rasa atau bayangan.

Karena itu, Suhrawardi (1154-1192 M) kemudian membuat metode baru yang disebut iluminasi (isyraqi) yang memadukan metode burhani yang mengandalkan kekuatan rasio dengan metode irfani yang mengandalkan kekuatan hati lewat kashaf atau intuisi. Metode ini berusaha menggapai kebenaran yang tidak dicapai rasional.

Namun demikian, pada masa berikutnya, metode isyraqi dirasa masih juga mengandung kelemahan, bahwa pengetahuan iluminatif hanya berputar pada kalangan elite terpelajar, tidak bisa disosialisasikan sampai masyarakat bawah, bahkan tidak jarang justru malah menimbulkan kontroversial. Muncullah metode lain, filsafat transenden (hikmah al-muta ‘aliyah), yang dicetuskan Mulla Sadra (1571-1640 M) dengan memadukan tiga metode dasar sekaligus; bayani yang tekstual, burhani yang rasional dan irfani yang intuitif (Bakr,1997)

Dengan metode terakhir ini, pengetahuan atau hikmah yang diperoleh tidak hanya yang dihasilkan oleh kekuatan akal tetapi juga lewat pencerahan ruhaniah, dan semua itu kemudian dishhajikan dalam bentuk rasional dengan menggunakan argumen-argumen rasional. Bagi kaum Muta’aliyah, pengetahuan atau hikmah tidak hanya memberikan pencerahan kognisi tetapi juga realisasi; mengubah wujud penerima pencerahan itu sendiri dan merealisasikan pengetahuan yang diperoleh sehingga terjadi transformasi wujud. Semua itu tidak bisa dicapai kecuali dengan mengikuti syariat, sehingga sebuah pemikiran harus menggaet metode bayani dalam sistemnya.

Namun demikian, untuk masa mutaakhir ini, metode Muta’aliyah mesti juga dipertanyakan. Sebab, persoalan keagamaan tidak hanya berkaitan dengan teks, rasio, ilham dan pengalamannya dalam bentuk praktek-praktek ritual melainkan juga mencakup kehidupan social, politik, ilmu pengetahuan modern yang empiris bahkan teknologi tinggi.

Bercermin dari kemajuan ilmu pengetahuan yang demikian cepat, rasanya pencarian atas epistemologi yang integral, holistik dan komprehensif menjadi wilayah yang penuh tantangan. Sejatinya, para ilmuwan termasuk kita semua dituntut untuk secara kritis melahirkan –bila mungkin—epistemologi baru yang lebih memadukan antara jalur insaniyah dan ilahiyah.

KEPUSTAKAAN

Al-Ahwani, Ahmad Fuad, 1993. Filsafat Islam. Jakarta: Pustaka Firdaus.

Amin, Miska, M., Epistemologi Islam. Yakarta: Universitas Indonesia Press.

Anugrah, Dadan, 2008. Komunikasi Antarbudaya, Konsep dan Aplikasinya. Yakarta: Jala Remata.

Bakr, Osman, 1997. Hierarki Ilmu (Terjemahan Purwanto). Bandung: Mizan.

Husaini, Moulavi S.A.Q., Ibn Al’Arabi. India, Lahore: Bazar.

Ibn Rusyd, tt., Fash al-Maqal Fima Bain al-Hikmah wa al-Syariah min al-Ittishal. Mesir: Dar al_Ma’arif.

Jamil, Fathur Rahman, 1997. Filsafat Hukum Islam. Jakarta: Logos.

Khalaf, Abdul Wahab, 1996. Ilm Ushul Fiqh (Terjemahan Masdar Helmi. Bandung: Gema Risalah Pres.

Muhammad, TH., 1984. Kedudukan Ilmu Dalam Islam. Surabaya: Al-Ikhlas.

Nasution, Harun, 1973. Falsafat Agama. Jakarta: Bulan Bintang.

Nikhilananda, Swami, 1958. Hinduism It’s Meaning For The Liberation Of The Spirit. New York: Harper.

Pranaka, AMW dan A. Barker, 1979. Epistemologi Kebudayaan dan Pendidikan. Yogyakarta: Kelompok Studi Filsafat.

Poerwadarminta, W.J.S., 1949. Logat Kecil Bahasa Indonesia. Jakarta: Batvia Wolters’ Uitgevermaatscappij NV.

Qadir, C.A., (Penyunting), 1988. Ilmu Pengetahuan dan Metodenya. Yakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Rahmat, Jalaluddin, 1993. Hikmah Muta’aliyah Filsafat Pasca Ibn Rushd. Jurnal Hikmah, Bandung edisi 10 September.

Rais, Amin, 1994. Cakrawala Islam. Bandung: Mizan.

Runes, Dagobert, D., 1971. Dictionary of Philosophy. Totowa New Jersey: Adam & Co.

Sudarto, 1996. Metodologi Penelitian Filsafat. Jakarta: Rajawli

Wahyudi, J.B., 1991. Komunikasi Jurnalistik. Bandung: Alumni

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s