TATAP MUKA 2

MODUL  2

 PENGERTIAN, FUNGSI, ASUMSI DAN

RUANG LINGKUP KOMUNIKASI ANTARBUDAYA

 

A.   PENGANTAR

 

 

Cobalah melihat cara perilaku masing-masing

budaya (termasuk budaya anda sendiri) sebagai

 sistem yang mungkin tetapi bersifat arbitrer. Hindarilah kecenderungan untuk mengevaluasi nilai-nilai,

kepercayaan, perilaku dari suatu budaya

sebagai lebih baik daripada nilai-nilai,

kepercayaan dan perilaku dari

budaya lain (DeVito, 1997).

 

         

Dalam tataran teoretik-akademik, suatu bidang kajian atau disiplin ilmu paling tidak ditandai oleh adanya pengertian serta ruang lingkup yang akan membedakannya dengan displin-disiplin ilmu lain. Kepentingan ini jika dilihat dari filsafat ilmu akan menentukan tiga hal penting, yaitu: Pertama, aspek substansi, yaitu berkaitan dengan apa yang dikaji (ontologi). Kedua, aspek ruang lingkupnya, yaitu batasan-batasan yang akan membedakan wilayah kajian dengan displin-disiplin ilmu lain, termasuk bagaimana cara mengkajinya (epistemologi). Ketiga, aspek nilai guna (aksiologi), yaitu untuk kepentingan apa suatu disiplin ilmu dipelajari  dan dikembangkan (Vardiansyah2005:20).

Jalan untuk mencapai suatu disiplin ilmu tidaklah mudah, namun memerlukan kajian yang intesif, memerlukan diskusi yang tak mengenal lelah, dibicarakan di kelas, di ruang diskusi, seminar, dan sebagainya. Harus disadari, bahwa suatu disiplin ilmu lahir tidaklah pada ruang yang hampa, melainkan pada dinamika intelektual yang terus-menerus. Ia melibatkan para pakar komunikasi serta pakar ilmu-ilmu lain.

Seperti sebuah bangunan, komunikasi (proses penyampaian pesan) dapat dilihat dari berbagai sudut pandang (perspektif). Perspektif itu sendiri pada wilayah keilmun diartikan suatu kerangka konseptual (conceptual frame-work), suatu perangkat asumsi, nilai atau gagasan yang mempengaruhi perspektif kita, dan pada gilirannya mempengaruhi cara kita bertindak dalam suatu situasi (Mulyana, 2001: 16).

Sebagai ilmu sosial, komunikasi dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, dan salah satunya melahirkan komunikasi antarbudaya. Meskipun kajian mengenai komunikasi antarbudaya ini masih reltif baru, namun keberadaannya telah mendapat perhatian khusus dari para akademisi sehingga menjadi salah satu mata kulih “wajib” di fakultas ilmu komunikasi.

Pada bagian ini, paling tidak ada tiga bahasan penting, yaitu pengertian, asumsi-asumsi dan ruang lingkup komunikasi antarbudaya. Ketiga bagian ini akan menjadi pilar “keajegan” komunikasi antarbudaya sebagai disiplin ilmu tersendiri dan sekaligus membedakan objek kajiannya dengan ilmu-ilmu lain.

 

B.   PENGERTIAN

Sebelum memahami pengertian komunikasi antarbudaya, terlebih dahulu ada beberapa jenis atau model komunikasi yang menjadi bagian dari komunikasi antarbudaya.    

Pertama, komunikasi internasional (International Communications), yaitu proses komunikasi antara bangsa dan negara. Komunikasi ini tercermin dalam diplomasi dan propaganda, dan seringkali berhubungan dengan situasi intercultural (antarbudaya) dan interracial (antarras). Komunikasi internasional lebih menekankan kepada kebijakan dan kepentingan suatu negara dengan negara lain yang terkait dengan masalah ekonomi, politik, pertahanan, dan lain-lain. Menurut Maletzke, komunikasi antarbudaya lebih banyak menyoroti realitas sosiologis dan antropologis, sementara komunikasi antarbangsa lebih banyak mengkaji realitas politik. Namun demikian, komunikasi internasional (antarbangsa) pun masih merupakan bagian dari komunikasi antarbudaya.

Sastropoetro (1991:12) menjelaskan komunikasi internasional ini secara panjang lebar, demikian:

Komuniksi internasional, mempelajari pernyataan antarnegara/pemerintah/bangsa yang bersifat umum melalui lambang-lambang yang berarti. Rumusan itu memberikan arti, bahwa pendekatan terhadap subdisiplin komunikasi internasional, adalah melalui proses komunikasi dengan melihat pada syarat-syarat dan unsur-unsur serta hukum-hukum yang berlaku dibidang ilmu komunikasi. Gerhard Maletzke dalam bukunya “Intercultural and International Communication” menyatakan tentang International Communication sebagai: “The Communication process”, artinya “Komunikasi antarberbagai negara atau bangsa melintasi batas-batas negara”.

 

Menurut K.S. Sitaram, bahwa komunikasi internasional adalah komunikasi antara struktur-struktur politik alih-alih antara budaya-budaya individual, artinya komunikasi internasional dilakukan antara bangsa-bangsa, sering lewat para pemimpin negara atau wakil-wakil negara (menteri luar negeri, duta besar, konsul jenderal, dan sebagainya. Para wakil negara tersebut mewakili kepentingan negaranya dalam upaya meyakinkan negara lain atas berbagai kebijakan.

Secara lebih spesifik (Liliweri,2001:22) studi-studi komunikasi internasional disandarkan atas pendekatan-pendekatan maupun metodologi sebagai berikut:

  1. Pendekatan peta bumi (geographical approach) yang membahas arus informasi maupun  liputan internasional pada bangsa atau Negara tertentu, wilayah tertentu, ataupun lingkup dunia, di samping antarwilayah.
  2. Pendekatan media (media approach), adalah pengkajian berita internasional melalui suatu medium atau multimedia.
  3. Pedekatan peristiwa (event approach) yang mengkaji suatu peristiwa lewat suatu medium.
  4. Pendekatan ideologis (idelogical approach), yang membandingkan sistem pers antarbangsa atau melihat penyebaran arus berita internasional dari sudut ideologis semata-mata.                                         

 

Kedua, komunikasi antarras (interracial communication), yaitu suatu komunikasi yang terjadi apabila sumber dan komunkan berbeda ras. Ciri penting dari komunikasi antarras ini adalah peserta komunikasi berbeda ras. Ras adalah  sekelompok orang yang ditandai dengan ciri-ciri biologis yang sama. Secara implisit komunikasi antarras ini termasuk ke dalam komunikasi antarbudaya. Hambatan utama dalam komunikasi antar-ras ini adalah sikap curiga kepada ras lain. Misalnya orang Jepang berkomunikasi dengan orang Amerika.

Ketiga, komunikasi antaretnis (interethnic communication), yaitu berkaitan dengan keadaan sumber komunikannya, sama ras/suku bangsa tetapi berbeda asal etnis dan latar belakangnya. Kelompok etnik adalah kelompok orang yang ditandai dengan bahasa dan asal-usul yang sama. Oleh karena itu komunikasi antaretnik merupakan komunikasi antarbudaya. Misalnya,  komunikasi antara orang-orang Kanada Inggris dengan Kanada Prancis. Mereka sama-sama warga negara Kanada, sama rasnya tetapi mempunyai latar belakang, perspektif, pandangan hidup, cita-cita, dan bahasa yang berbeda.

Menurut DeVito (1997:480), bentuk-bentuk komunikasi antarbudaya meliputi bentuk-bentuk komunikasi lain, yaitu:

  1. Komunikasi antara kelompok agama yang berbeda. Misalnya, antara orang Katolik Roma dengan Episkop, atau antara orang Islam dan orang Jahudi.
  2. Komunikasi antara subkultur yang berbeda. Misalnya, antara dokter dn pengacara, atau antara tunanetra dan tunarungu.
  3. Komunikasi antara suatu subkultur dan kultur yang dominan. Misalnya, antara kaum homoseks dan kaum heteroseks, atau antara kaum manula dan kaum muda.
  4. Komunikasi antara jenis kelamin yang berbeda, yaitu antara pria dan wanita.

 

Komunikasi Antarbudaya diartikan sebagai komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh mereka yang berbeda latar belakang  kebudayaan. Definisi lain mengatakan bahwa yang menandai komunikasi antarbudaya adalah bahwa sumber dan penerimanya berasal dari budaya yang berbeda. Fred E. Jandt mengartikan komunikasi antarbudaya sebagai interaksi tatap muka di antara orang-orang yang berbeda budayanya (intercultural communication generally refers to face-to face interaction among people of divers culture). Sedangkan Collier dan Thomas, mendefinisikan komunikasi antarbudaya “as communication between persons ‘who identity themselves as distict from’ other in a cultural sense” (Purwasito, 2003:122).

Komunikasi antarbudaya terjadi bila produsen pesan adalah anggota suatu budaya dan penerima pesannya adalah anggota suatu budaya yang lainnya. Dalam keadaan demikian, kita segera dihadapkan  kepada masalah-masalah penyandian pesan, di mana dalam situasi komunikasi suatu pesan disandi dalam suatu budaya dan harus disandi balik dalam budaya lain.

Komunikasi antarbudaya (intercultural communication) adalah proses pertukaran pikiran dan makna antara orang-orang berbeda budaya. Ketika komunikasi terjadi antara orang-orang berbeda bangsa, kelompok ras, atau komunitas bahasa, komunikasi tersebut disebut komunikasi antarbudaya. Komunikasi antarbudaya pada dasarnya mengkaji bagaimana budaya berpengaruh terhadap aktivitas komunikasi: apa makna pesan verbal dan nonverbal menurut budaya-budaya bersangkutan, apa yang layak dikomunikasikan, bagaimana cara mengkomunikasikannya (verbal nonverbal), kapan mengkomunikasikannya (Mulyana, 2004:xi).

Untuk melengkapi pemahaman mengenai pengertian komunikasi antarbudaya ini, dibawah ini ada beberapa definisi yang dapat dijadikan rujukan, yaitu:

  1. Komunikasi antarbudaya adalah pernyataan diri antarpribadi yang paling efektif antara dua orang yang saling berbeda latar belakang budaya.
  2. Komunikasi antarbudaya merupakan pertukaran pesan-pesan yang disampaikan secara lisan, tertulis bahkan secara imajiner antara dua orang yang berbeda latar belakang budaya.
  3. Komunikasi antarbudaya merupakan pembagian pesan yang berbentuk informasi atau hiburan yang disampaikan secara lisan atau tertulis atau model lainnya yang dilakukan oleh dua orang yang berbeda latar belakang budayanya.
  4. Komunikasi antarbudaya adalah pengalihan informasi dari seorang yang berkebudayaan tertentu kepada orang yang berkebudayaan lain.
  5. Komunikasi antarbudaya adalah pertukaran makna yangberbentuk symbol yang dilakukan dua orang yang berbeda latar belakang budayanya.
  6. Komunikasi antarbudaya adalah proses pengalihan pesan yang dilakukan seorang melalui saluran tertentu kepada orang lain yang keduanya berasal dari latar belakang budaya yang berbeda danmenghasilkan efek tertentu.
  7. Komunikasi antar budaya adalah setiap proses pembagian informasi, gagasan atau perasaan di antara mereka yang berbeda latar belakang budayanya. Proses pembagian informasi itu dilakukan secara lisan dan tertulis, juga melalui bahasa tubuh, gaya atau tampilan pribadi, atau bantuan hal lain disekitarnya yang memperjelas pesan (Liliweri, 2003:9).

 

Beberapa pakar mendefinisikan komunikasi antarbudaya dalam banyak perspektif, di antaranya:

1.   Andrea L. Rich dan Dennis M. Ogawa

Komunikasi antarbudaya adalah komunikasi antara orang-orang yang berbeda kebudayaan, misalnya antara suku bangsa, antaretnik dan ras, antarkelas sosial.

2.   Samover dan Porter

Komunikasi antarbudaya terjadi di antara produser pesan dan penerima pesan yang latar belakang kebudayaannya berbeda.

3.   Chaley H. Dood

Komunikasi antarbudaya meliputi komunikasi yang melibatkan peserta komunikasi yang mewakili pribadi, antarpribadi, dan kelompok, dengan tekanan pada perbedaan latar belakang kebudayaan yang mempengaruhi perilaku komunikasi para peserta (Liliweri, 2003:10).

4.   Joseph DeVito (1997)

Komunikasi antarbudaya mengacu pada komunikasi antara orang-orang dari kultur yang berbeda – antara orang-orang yang memiliki kepercayaan, nilai, atau cara berperilaku kultural yang berbeda

5.   Steward L. Tubbs dan Sylvia Moss

Intercultural communication as communication between members of different cultures whether defined in terms of racial, ethic, or socioeconomic differences (komunikasi antarbudaya sebagai komunikasi antara dua anggota dari latar budaya yang berbeda, yakni berbeda rasial, etnik atau sosial-ekonomis).

 

 

Komunikasi antarbudaya merupakan istilah yang mencakup arti umum dan menunjukkan pada komunikasi antara orang-orang yang mempunyai latar belakang  kebudayaan yang berbeda.  Dalam perkembangannya, komunikasi antarbudaya acapkali “disamakan” dengan komunikasi lintas budaya (cross cultural communication). Komunikasi lintasbudaya lebih memfokuskan pembahasannya kepada membandingkan fenomena komunikasi dalam budaya-budaya berbeda. Misalnya, bagaimana gaya komunikasi pria atau gaya komunikasi wanita dalam budaya Amerika dan budaya Indonesia.

Substansi yang membedakan antara komunikasi antarbudaya dengan komunikasi lintas budaya  sebagimana diungkapkan Purwasito (2003:125), demikian:

Pada dasarnya, sebutan komunikasi lintas budaya sering pula digunakan para ahli menyebut makna komunikasi antarbudaya. Perbedaannya barangkali terletak pada wilayah geografis (negara) atau dalam konteks rasial (bangsa). Tetapi juga untuk menyebut dan membandingkan satu fenomena kebudayaan dengan kebudayaan yang lain, (generally refers to comparing phenomena across cultures), tanpa dibatasi oleh konteks geografis masupun ras atau etnik. Misalnya, kajian lintas budaya tentang peran wanita dalam suatu masyarakat tertentu dibandingkan dengan peranan wanita yang berbeda setting kebudayaannya. Itulah sebabnya komunikasi lintas budaya didefinisikan sebagai analisis perbandingan yang memprioritaskan relativitas kegiatan kebudayaan, a kind of comperative analysis which priorities the relativity of cultural activities.

 

Sementara, Liliweri (2001:22) menjelaskan komunikasi lintasbudaya ini sebagai berikut:

Komunikasi lintas budaya lebih menekankan perbandingan pola-pola komunikasi antarpribadi di antara peserta komunikasi yang berbeda kebudayaan. Pada awalnya studi lintas budaya berasal dari perspektif  antropologi sosial dan budaya sehingga dia lebih bersifat depth description, yakni penggambaran yang mendalam tentang perilaku komunikasi berdasarkan kebudayaan tertentu.

 

Jika demikian, komunikasi antarbudaya sejatinya lebih luas dan lebih komprehensif daripada komunikasi lintasbudaya. Penekanan antarbudaya terletak pada orang-orang yang terlibat komunikasi memiliki perbedaan budaya. Ia dapat dijumpai dalam komunikasi lintas budaya, komunikasi antar ras, komunikasi internasional, dan sebagainya, sepanjang kedua orang yang melakukan komunikasi tersebut memiliki latar belakang budaya yang berbeda.

 

 

C.   FUNGSI KOMUNIKASI ANTARBUDAYA

Secara khusus, fungsi komunikasi antarbudaya adalah untuk mengurangi ketidakpastian. Ketika kita memasuki wilayah (derah) orang lain kita dihadapkn dengan orang-orang yang sedikit atau banyak berbeda dengan kita dari berbagai aspek (sosial, budaya, ekonomi, status, dan lain-lain). Pada waktu itu pula kita dihadapkan dengan ketidakpastian dan ambiguitas dalam komunikasi.  Untuk mengurangi ketidakpastian seseorang melakukan prediksi sehingga komunikasi bisa berjalan efektif (DeVito, 1997:487).

Gundykunstt dan Kim (dalam Liliweri, 2003:19), usaha untuk mengurangi tingkat ketidakpastian itu dapat dilakukan melalui tiga tahap interaksi, yakni:

1.   Pra-kontak atau tahap pembentukan kesan melalui simbol verbal maupun nonverbal (apakah komunikan suka berkomunikasi atau menghindari komunikasi).

2.   Initial contact and imppresion, yakni tanggapan lanjutan atas kesan yang muncul dari kontak awal tersebut; misalnya anda bertanya pada diri sendiri; Apakah saya seperti dia ?  Apakah dia mengerti saya ?  Apakah saya rugi waktu kalau berkomunikasi dengan dia ?

3.   Closure, mulai membuka diri anda sdendiri yang semula tertutup melalui atribusi dan pengembangan kepribadian implisit. Menurut Johnson (dalam Supratiknya, 1995:14), pembukaan diri memiliki dua sisi, yaitu bersikap terbuka kepada yang lain dan bersikap terbuka bagi yang lain. Kedua proses tersebut dapat berjalan secara serentak antara kedua belah pihak sehingga  membuahkan relasi yang terbuka antara kita dengan orang lain.

 

Secara umum, fungsi komunikasi antarbudaya tidak dapat dipisahkan dari fungsi komunikasi secara umum. Fungsi-fungsi tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

 


GAMBAR

FUNGSI KOMUNIKASI

 

1.   Identitas Sosial

Dalam komunikasi antarbudaya terdapat beberapa perilaku komunikasi individu yang digunakan untuk menyatakan identitas diri maupun identitas social. Perilaku itu teraktualisasi dalam bentuk tindakan berbahasa (verbal dan nonverbal). Dari kedua bahasa itulah dapat diketahui identitas seseorang. Misalnya, Jika berbahasa Sunda dan berkebaya berarti orang Sunda,  Jika berbahasa Jawa dan menggunakan blangkon berarti mencirika orang Jawa, dan sebagainya.

 

2.   Integrasi Sosial

Esensi dari integrasi sosial adalah enerima kesatuan dan persatuan antarpribadi, antarkelompok, namun tetap mengakui perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh setiap unsur. Dalam konteks komunikasi antarbudaya  yang melibatkan perbedaan budaya atara komunikator dan komunikan, maka integrasi social merupakan  tujuan utama komunikasi. Prinsip utama pertularan pesan dalam komunikasi antarbudaya adalah: Saya memperlalukan anda sebagaimana kebudayan anda memperlakukan anda dan bukan sebagaimana yang saya kehendaki. Dengan demikian komunikator dan komunikan dapat meningkatkan integrasi sosial atas realsi mereka.

 

3.   Kognitif

Tidak dapat dibantah bahwa komunikasi antarbudaya dapat menambah dan memperkaya pengetahuan bersama, yaitu dengan cara saling mempelajari kebudayaan. Dengan cara melakukan komunikasi antarbudaya antara seseorang dengan yang lainnya dapat bertukar pengetahuan budaya masing-masing. Orang Batak belajar budaya Sunda, atau sebaliknya orang Sunda belajar budaya Batak. Orang betawi mendalami budaya Jawa, sedangkan orang Jawa menekuni budaya Betawi, dan seterusnya. Dengan begitu terjadi pengayaan pengetahuan (kognitif).

 

4.   Melepaskan Diri

Kadang-kadang kita berkomunikasi dengan orang lain sekedar untuk melepaskan diri ari berbagai masalah yang menghimpit kita. Boleh jadi anda memilih “teman kencan” yang dal;am banyak hal merasa cocok dengan anda. Dia memiliki pikiranj-pikiran atau gagasan-gagasan yang sama denganh diri anda. Tanpa disadari bahwa orang yang anda ajak kencan tersebut berbeda budaya, status sisial dan lainnya. Disitulah fungsinya komunikasi antarbudaya sebagai “jembatan” untuk melepaskan diri.

 

 

 

5.   Pengawasan

Praktek komunikasi antarbudaya di antara komunikator dan komunikan yang berbeda kebudayaan berfungsi saling mengawasi. Dalam setiap proses komunikasi antarbudaya fungsi ini bermanfaat untuk menginformasikan “perkembangan” tentang linngkungan. Meskipun pada realitasnya fungsi ini lebih banyak diperaqnkan oleh media massa. Misalnya, beberapa tahun yang lalu masyarakat dunia dikejutkan oleh berita perselingkuhan Bill Clinton Monica Lewinsky. Pelajaran yang dapat diambil dari kasus ini adalah betapa di AS, seorang presiden pun memiliki kedudukan yang setarap dalam hukum. Secara langsung kita dapat belajar  sebuah kebudayaan dari negara sehebat AS tentang hukum dan moralitas.

 

6.   Menjembatani

Dalam komunikasi antarbudaya, maka fungsi komunikasi yang dilakukan antara dua orang yang berbeda budaya itu merupakan jembatan atas perbedaan di antara mereka. Fungsi mengawasi itu terlihat pada pesan-pesan yang mereka pertukarkan, keduanya saling menjelaskan  perbedaan tafsir atas sebuah pesan sehingga menghasilkan makna yang sama.

 

7.   Sosialisasi Nilai

Fungsi ini berada pada ranah mengajarkan dan memperkenalkan nilai-nilai kebudayaa suatu masarakat kepada masyarakat lain. Misalnya, tanpa disadari ketika menonton wayang golek atau tarian Jawa ada nilai-nilai yang ditarnsformasikan kepada penonton (khalayak). Dengan demikian telah terjadi sosialisasi nilai dari budaya yang satu ke budaya yang lain sesuai dengan budaya khalayaknya.

 

8.   Menghibur

Fungsi menghibur begitu kental dalam komunikasi antarbudaya. Jika kita rajin memperhatikan acara “Benteng Takeshi”, maka kita terasa terhibur oleh orang-orang Jepang yang beradu ketangkasan dalam bentuk permainan yang menghibur. Kita pun mungkin akan tertawa lebar jika menonton Si Parto (salah seorang personil Patrio Group), yang berbahasa tegal sangat kental, melucu dan bertingkah laku. Itu semua mencerminkan komunikasi antarbudaya yang memiliki dimensi menghibur.

 

 

D.  ASUMSI-ASUMSI DALAM KOMUNIKASI ANTARBUDAYA

Berbicaralah dengan bahasa mereka. Jargon ini adalah kunci penting dalam mewujudkan komunikasi. Seorang komunikator yang baik adalah mereka yang memiliki kemampuan berbahasa (verbal dan nonverbal) yang dipahami oleh komunikannya. Sitaram dan Cogdell (1976) menyampaikan, bahwa komunikasi yang efektif dengan orang lain akan berhasil apabila kita mampu memilih dan  menjalankan teknik-teknik berkomunikasi, serta menggunakan bahasa yang sesuai dengan latar belakang mereka.

Atas dasar uraian di atas, beberapa asumsi komunikasi antarbudaya didasarkan atas hal-hal berikut:

1.   Komunikasi antarbudaya dimulai dengan anggapan dasar bahwa ada perbedaan persepsi antara komunikator dengan komunikan.

2.   Dalam komunikasi antarbudaya terkandung isi dan relasi antarpribadi.

3.   Gaya personal mempengaruhi komunikasi antarpribadi.

4.   Komunikasi antarbudaya bertujuan mengurangi tingkat ketidakpastian.

5.   Komunikas berpusat pada kebudayaan.

6.   Efektivitas antarbudaya merupakan tujuan komunikasi  antarbudaya (Liliweri, 2003:15).

 

E.   RUANG LINGKUP KOMUNIKASI ANATARBUDAYA

Sebagaimana telah diungkapkan di muka, komunikasi antarbudaya  merupakan salah satu bidang studi dari ilmu komunikasi. Oleh karena itu, komunikasi antarbudaya mempunyai objek formal, yaitu mempelajari komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh seorang komunikator sebagai produsen pesan dari suatu kebudayaan dengan konsumen pesan atau komunikan dari kebudayaan yang lain. Komunikasi antarbudaya berkaitan dengan hubungan timbal balik antara sifat-sifat yang terkandung dalam komunikasi, kebudayaan yang pada gilirannya menghasilkan sifat-sifat komunikasi antarbudaya.

Pada dasarnya, ruang lingkup komunikasi antarbudaya  tidak jauh berbeda dengan komunikasi secara umum. Namun yang menjadi penekanannya yaitu pada perbedaan budaya diantara para peserta komunikasinya. Berdasarkan analisis sederhana, ruang lingkup komunikasi antarbudaya dapat dirinci ke dalam empat wilayah utama, yaitu:

  1. Mempelajari komunikasi antarbudaya dengan pokok bahasan proses komunikasi antarpribadi dan komunikasi antarbudaya termasuk di dalamnya, komunikasi di antara komunikator dan komunikan yang berbeda kebudayaan, suku bangsa, ras dan etnik.
  2.  Komunikasi lintas budaya dengan pokok bahasan perbandingan pola-pola komunikasi antarpribadi lintas budaya.
  3. Komunikasi melalui media di antara komunikator dan komunikan yang berbeda kebudayaan namun menggunakan media, seperti komunikasi internasional.
  4. Mempelajari perbandingan komunikasi massa, misalnya membandingkan sistem media massa antarbudaya, perbandingan komunikasi massa, dampak media massa, tatanan informasi dunia baru.

 

Untuk merumuskan ruang lingkup komunikasi antarbudaya juga dapat ditelusuri dengan cara megintegrasikan berbagai konseptualisasi tentang dimensi kebudayaan dalam konteks komunikasi antarbudaya. Adapaun dimensi yang perlu diperhatikan adalah:

  1. Tingkat masyarakat kelompok budaya dari para pelaku komunikasi;
  2. Konteks sosial tempat terjadinya komunikasi antarbudaya;
  3. saluran komunikasi yang dilalui oleh pesan-pesan komunikasi antarbudaya, baik yang bersifat verbal maupun nonverbal.

 

Untuk dapat memberikan gambaran yang lebih lengkap, studi komunikasi antarbudaya dapat ditelaah melalui bagan berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

BAGAN

RUANG LINGKUP STUDI ILMU KOMUNIKASI

 

(Sumber: Liliweri, 2001:27)

 

 

          Terdapat dua dimensi studi ilmu komunikasi, yaitu studi yang dikaitkan dengan (1)  komunikasi yang bersifat interaktif-perbandingan; dan (2) komunikasi yang bersifat antarpribadi-penggunaan media.

(1)   Kalau bagan di atas dirinci maka pada sumbu X ada dikotomi interactive dan comparative, sedangkan pada sumbu Y ada dikotomi interpersonal dan mediated.

(2)   Dengan demikian rincian bidang studi ilmu komunikasi dapat dikategorikan berdasarkan:

Kuadran I

Mempelajari komunikasi antarbudaya dengan pokok bahasan proses komunikasi antarpribadi dan komunikasi antarbudaya termasuk di dalamnya komunikasi di antara komunikator dan komunikan yang berbeda kebudayaan, suku bangsa, ras dan etnik.

Kuadran II

Komunikasi lintas budaya dengan pokok bahasan perbandingan pola-pola komunikasi antarpribadi lintas budaya.

Kuadran III

Komunikasi melalui media di antara komunikator dengan komunikan yang berbeda kebudayaan namun menggunakan media, seperti komunikasi internasional.

Kuadran IV

Mempelajari perbandingan komunikasi massa, misalnya membandingkan sistem media massa, dampak media massa, tatanan informasi dunia baru.

TATAP MUKA 1

MODUL  1

 KOMUNIKASI ANTARBUDAYA

SEBAGAI FENOMENA SOSIAL

 

 

A.   PENGANTAR

 

Manusia tidak mungkin tidak melakukan komunikasi

sekalipun dalam keadaan bisu (tuna wicara). Karena

komunikasi sesungguhnya tidak saja dipahami sebagai

penyampaian pesan melalui bahasa (verbal), tetapi komunikasi adalah penyampaian pesan melalui lambang-lambang yang dapat dipahami oleh kedua belah pihak

(komunikator-komunikan), apapun bentuk

lambang tersebut.

 

         

Kemajuan yang luar biasa dibidang teknologi komunikasi telah menyebabkan dunia ini terasa sempit. Betapa tidak, untuk mengunjungi negeri-negeri yang jauh atau tempat-tempat wisata mancanegara tidak lagi harus datang secara fisik, cukup menyaksikannya melalui layar televisi atau internet. Untuk mengetahui berbagai kebudayaan antarnegara tidak harus datang langsung ke tempat kebudayaan itu berasal, cukup menyimaknya melalui “layar datar Thosiba berukuran 29 inchi”. Akselerasi teknologi seolah tak tertahankan lagi. Naisbit (1988:102) menjelaskan fenomena ini sebagai berikut: “Thanks to a thriving world economy, global telecommunication and expending travel, exchanges among Europe, North America, and the Pacific Rim are accelerating fast”.

Diawal pemerintahannya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) beberapa kali melakukan telewicara dengan masyarakat dibeberapa propinsi dalam waktu yang bersamaan.  Yudhoyono sepertinya memahami betul bahwa tidak mungkin dapat mengunjungi seluruh pelosok Indonesia yang terdiri dari puluhan ribu pulau, maka melakukan telewicara atau teleconference adalah pilihan yang tepat  Fenomena inilah yang disebut McLuhan sebagai global village, dimana ciri utamanya disandarkan kepada:

  1. Adanya keinginan akan keseragaman yang meningkat.
  2. Adanya keinginan akan pengalaman yang sama.
  3. Meningkatnya pengaruh media elektronik, seperti: televisi, satelit komunikasi, antena parabola dan sebagainya (Rumondor, 2001).

 

Kemajuan yang dicapai “anak-anak” kelahiran abad 19 ini tidak saja terbatas pada teknologi komunikasi, tetapi juga tercermin pada sarana transportasi (darat, udara dan laut). Dengan kemajuan ini orang-orang mampu melakukan komunikasi secara langsung (antarpribadi) di tempat-tempat yang sebelumnya tak pernah di duga. Misalnya, orang-orang yang berbeda negara, warna kulit, bahasa, dan kebangsaan dapat bertemu di Bali ketika melakukan wisata. Atau orang-orang yang berbeda identitas sosial pun dapat bertemu dan berkomunikasi dalam konteks perdagangan dunia, baik di negerinya sendiri maupun di luar negeri. Tanpa disadari, pelan namun pasti telah terjadi kontak (komunikasi) yang di dalamnya melibatkan orang-orang yang mungkin  sekali berlainan cara berpikir, cara berperilaku dan kebiasaannya. Bahkan perbedaan antara orang-orang yang berkomunikasi tersebut tidak saja menyangkut nilai-nilai budaya saja, tetapi juga aspek-aspek sosial, ekonomi, politik, ilmu pengetahuan, teknologi, dan seterusnya.

Perbedaan budaya tidak menjadi halangan untuk satu sama lain menjalin hubungan (relationship), yang terpenting adalah saling memahami (understanding), saling beradaptasi (adaptation) dan saling bertoleransi (tolerance). Kunci utama dari pergaulan antarbudaya adalah tidak menilai orang lain yang berbeda budaya dengan menggunakan penilaian budaya kita. Biarkan semua berjalan dengan latar belakang budaya masing-masing. Justeru perbedaan budaya adalah ladang untuk siapapun  belajar budaya orang lain dengan arif dan bijak (wise).

 

B.   KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA SEBAGAI FENOMENA SOSIAL

Secara dasariah manusia memiliki kebutuhan (needs). Untuk memenuhi kebutuhan tersebut manusia melakukan interaksi sosial, dan interaksi sosial pada hakekatnya adalah melakukan komunikasi. Kebutuhan akan komunikasi sama halnya dengan kebutuhan kita akan bernafas. Dengan demikian komunikasi adalah fakta sosial dan sekaligus sebagai femomena sosial yang tak terhindarkan.

Mengenai komunikasi sebagai fakta dan fenomena sosual ini diperkuat oleh Tubbs (1996:239), demikian:

Dengan adanya inovasi teknologi dalam dua decade terakhir ini, tulis Gergen, “kehidupan kontemporer merupakan lautan hubungan sosial yang melingkar-lingkar”. Di lautan itu kita harus melakukan hubungan antarbudaya yang semakin banyak. Peningkatan komunikasi antarbudaya telah berlangsung dengan berkembangnya jaringan penerbangan dan jaringan komunikasi elektronik.

 

Dalam konteks hubungan (relasional), kita sepakat setiap orang membutuhkan komunikasi. Sekurang-kurangnya komunikasi tersebut dilakukan dalam:

1.   Orang berbicara tentang relasi mereka dalam pekerjaan, bagaimana mereka terlibat, bagaimana kebutuhan untuk menyatakan tenaganya;

2.   Orang bicara tentang komitmen yang berkaitan dengan relasi. Komitmen merupakan kondisi awal dari sebuah relasi;

3.   Orang berbicara relasi sebagai keterlibatan, terlibat bersama secara kuantitatif maupun kulaitatif dalam percakapan, dialog, membagi pengalaman;

4.   Orang bicara tentang relasi dalam istilah manipulasi, misalnya bagaimana saling mengawasi;

5.   Orang bicara tentang relasi dalam istilah untuk mempertimbangkan dan memperhatikan (Liliweri, 2003:6).

Dari sini akan muncul saling ketergantungan yang melahirkan sebuah komunitas bersama. Komunitas bersama meniscayakan adanya berbagai kemungkinan untuk saling tidak sependapat, dalam arti berbeda budaya, ideologi, gaya hidup, orientasai dan sebagainya. Berbagai problema segera akan mengemuka dan salah satunya akan menjadi persoalan komunikasi dalam konteks antarbudaya.

Tidak perlu bertanya, mengapa manusia diciptakan tidak sama dan serupa, termasuk budayanya ? Perbedaan budaya pada dasarnya adalah desain Tuhan dengan maksud untuk saling mengenal satu sama lain:

 

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal (QS. Hujuraat/49:13).

         

Firman di atas secara tersurat memberikan pemahaman bahwa manusia perlu menjalin pergaulan meskipun berbeda suku dan bangsa. Hikma dari itu semua adalah saling kenal mengenal. Dengan cara demikian, manusia bisa saling melengkapi, saling berbagai, saling menjaga untuk menciptakan kesejahteraan.

Perbedaan budaya dalam pergaulan menuntut setiap individu untuk saling memahami dan menyadari. Secara teoretis, kemampuan akan komunikasi antarbudaya menjadi bagian penting. Litvin merinci sekurang-kurangnya 12 alasan mengenai pentingnya mempelajari komunikasi antarbudaya, yaitu:

1.   Dunia sedang menyusut dan kapasitas untuk memahami keanekaragaman budaya sangat diperlukan.

2.   Semua budaya berfungsi dan penting bagi pengalaman anggota-anggota budaya tersebut meskipun nilai-nilai berbeda.

3.   Nilai-nilai setiap masyarakat se”baik” nilai-nilai masyarakat lainnya.

4.   Setiap individu dan/atau budaya berhak menggunakan nilai-nilanya sndiri.

5.   Perbedaan-perbedaan individu itu penting, namun ada asumsi-asumsi dan pola-pola budaya mendasar yang berlaku.

6.   Pemahaman atas nilai-nilai budaya sendiri merupakan prasyarat untuk mengidentifikasi dan memahami nilai-nilai budaya lain.

7.   Dengan mengatasi hambatan-hambatan budaya untuk berhubungan dengan orang lain kita memperoleh pemahaman dan penghargaan bagi kebutuhan, aspirasi, perasaan dan masalah manusia.

8.   Pemahaman atas orang lain secara lintas budaya dan antarpribadi adalah suatu usaha yang memerluka kebranian dan kepekaan. Semakin mengancam pandangan dunia orang itu bagi pandangan dunia kita, semakin banyak yang harus kita pelajari dari dia, tetapi semain berbahaya untuk memahaminya.

9.   Pengalaman-pengalaman antarbudaya dapat menyenangkan dan menumbuhkan kepribadian.

10.   Keterampilan-keterampilan komunikasi yang diperoleh memudahkan perpindahan seseorang dari pandangan yang monokultural terhadap interaksi manusia ke pandangan multikultural.

11.   Perbedaan-perbedaan budaya menandakan kebutuhan akan penerimaan dalam komunikasi, namun perbedaan-perbedaan tersebut secara arbitrer tidaklah menyusahan atau memudahkan.

12.   Situasi-situasi komunikasi antarbudaya tidaklah static an bukan pula stereotip. Karena itu, seorang komunikator tidak dapat dilatih untuk mengatasi situasi. Ia harus disiapkan untuk menghadapi suatu situasi eksistensial. Dalam konteks ini kepekaan, pengetahuan dan keterampilannya bisa membuatnya siap untuk berperan serta dalam menciptakan lingkungan yang efektif dan saling memuaskan (Mulyana, ed.,  2001:xi).

 

Melengkapi diri dengan kemampuan komunikasi antarbudaya tidak sekedar untuk tujuan pragmatis pergaulan, tetapi lebih dari itu memiliki tujuan tertentu yang bersifat kognitif dan afektif.  Litvin (dalam Mulyana, ed., 2001:xi) merinci tujuan tersebut adalah:

  1. Menyadari bias budaya.
  2. Lebih peka secara budaya.
  3. Memperoleh kapasitas untuk benar-benar terlibat dengan anggota dari budaya lain untuk menciptakan  hubungan yang langgeng dan memuaskan dengan orang tersebut.
  4. Merangsang pemahaman yang lebih besar atas budaya sendiri.
  5. Memperluas dan memperdalam pengalaman seseorang.
  6. Mempelajari keterampilan komunikasi yang membuat seseorang mampu menerima gaya dan isi komunikasinya sendiri.
  7. Membantu memahami budaya sebagai hal yang menghasilkan dan memelihara semesta wacana dan makna bagi para anggotanya.
  8. Membantu memahami kontak antarbudaya sebagai suatu cara untuk memperoleh pandangan ke dalam budaya sendiri: asumsi-asumsi, nilai-nilai, kebebasan-kebebasan dan keterbatasan-keterbatasannya.
  9. Membantu memahami model-model, konsep-konsep dan aplikasi-aplikasi bidang komunikasi antarbudaya.

10.   Membantu menyadari bahwa sistem-sistem nilai  yang berbeda dapat dipelajari secara sistematis, dibandingkan, dan dipahami.

 

C.   FAKTOR PEMICU KOMUNIKASI ANTARBUDAYA

Suatu fenomena atau realitas tidak hadir dengan sendirinya, melainkan selalu melibatkan faktor pemicunya. Beberapa faktor pemicu yang melatarbelakangi komunikasi antarbudaya adalah:

 

1.   Aspek Kepentingan Domestik

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dapat dikatakan sebagai negara yang unik sekaligus fenomenal.  Bukan saja secara geografis dikatakan sebagai rangkaian “jamrud di khatulistiwa”, tetapi secara sosiologis terdiri dari beragam suku, etnik, bahasa, budaya, agama dan sebaginya. Indonesia “bak kembang setaman”, dimana perbedaan menjadi sesuatu yang indah.

Kebhinekaan ini membawa dampak terhadap berbagai hal,  mulai dari penataan sistem politik, ekonomi-perdagangan, sosial-budaya hingga memperkuat “tali” integrasi. Untuk mewujudkan keberagaman tersebut menjadi potensi yang konstruktif, dibutuhkan kemampuan komunikasi antarbudaya yang memadai, baik untuk menjalin hubungan informal antarindividu yang berbeda budaya, maupun hubungan formal antara pemerintah dengan rakyatnya dalam konteks birokrasi.

Hubungan informal (aspek ekonomi-perdagangan), misalnya dapat dilihat pada proses perdagangan yang melibatkan beberapa suku: Padang, Batak, Sunda, Jawa, Bali, Madura, dan sebagainya. Pada konteks ini akan melahirkan proses komunikasi antarpribadi dan  antarbudaya yang menuntut satu sama lain saling memahami (mutual understanding). Keberagaman dalam aspek ekonomi-perdagangan ini jelas sangat terlihat  dalam kehidupan kita sehari-hari.

Sejatinya, kebhinekaan yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia  dapat dilihat pada aspek-aspek berikut:

1.   Adanya kenyataan bahwa masyarakat Indonesia merupakan masyarakat majemuk yang terdiri dari sejumlah suku bangsa dengan latab belakang  kebudayaan, bahasa daerah, dialek, nilai-nilai dan falsafah pemikiran agama, kepercayaan dn sejarah yang berbeda.

2.   Adanya pergeseran sistem nilai dalam masyarakat sebagai akibat pembangunan disegala sektor kehidupan.

3.   Derasnya arus informasi dan komunikasi yang dibawa oleh media massa modern dan para wisatawan yang memperlancar kontak-kontak antarkebudayaan.

4.   Pertambahan penduduk yang menuntut peningkatan sarana dan prasarana umum baik dalam kualitas maupun kuantitas (Rumondor, 2001).

 

Dalam realitas seperti itu kesalahpahaman seringkali terjadi dan apabila dibiarkan tidak mustahil akan mengoyak sendi-sendi berbangsa dan bernegara. Pada konteks inilah komunikasi antarbudaya menjadi penting. Menurut Rumondor (2001), beberapa syarat yang diperlukan individu untuk melakukan komunikasi antarbudaya, yaitu:

a.    Adanya sikap menghormati anggota budaya lain sebagai manusia.

b.   Adaya sikap menghormati budaya lain sebagaimana adanya, dan bukan sebagaimana yang kita kehendaki.

c.    Adanya sikap menghormati hak anggota budaya yang lain untuk bertindak berbeda dari cara kita bertindak.

d.   Komunikator lintas budaya yang kompeten harus belajar menyenangi hidup bersama orang dari budaya yang lain.

 

Hubungan formal (birokrasi) pun menampakkan fenomena yang sama, di mana pemerintah perlu memahami keragaman budaya untuk melayani masyarakatnya. Pemahaman komunikasi antarbudaya akan mampu menciptakan pelayanan unggul (excellent service), karena sesungguhnya pelayanan apapun berpijak pada proses komunikasi yang mampu menciptakan kebersamaan (communis) dan saling memahami.

Begitu pun pada aspek politik, kunci penting terletak pada kemampuan berkomunikasi. Perlakuan untuk setiap wilayah sangat mungkin memiliki spesifikasi terentu, misalnya untuk Propinsi Aceh dan Papua. Berbagai strategi dan kebijakan pembangunan, stabilitas, dan perekonomian perlu didukung oleh strategi komunikasi yang tepat.

Apalagi, pada saat buku ini ditulis kondisi politik dan stabilitas Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini sedang diuji oleh munculnya sparatis di Sulawesi (kasus tarian Cakalele) dan di Papua (kasus pengibaran bendera Bintang Kejora pada acara Konfrensi Adat Papu). Penyelesaian sparatisme bukanlah persoalan yang mudah, disamping diperlukan penanganan yang komprehensif-integratif juga dibutuhkan pemahaman komunikasi antarbudaya.

         

2.   Aspek Kepentingan Internasional

Teknologi komunikasi dan transportasi telah menyatukan bangsa-bangsa  ke dalam “orde bangsa-bangsa global”. Era globalisasi tidak saja dipahami sebagai “berkah” dari kemajuan cara berpikir manusia, tetapi di dalamnya pun menyimpan sejumlah problematika yang mengharuskan keterlibatan antarbangsa dalam proses penyelesaiannya. Secara faktual, sampai saat ini masih terasa berbagai ketimpangan seperti ekonomni, politik, teknologi, bahkan ideologi antara bangsa-bangsa yang sudah maju dengan bangsa-bangsa berkembang (dunia ketiga).

Sejak dekade 70-an, ketimpangan yang terjadi bukan saja dipicu oleh ketimpangan ekonomi dan politik semata, tetapi sudah merambah ke masalah arus informasi dan komunikasi antarnegara maju dan berkembang. Negara-negara berkembang (terutama yang muslim) seringkali menjadi “proyek” komunikasi politik negera-negara maju yang cenderung destruktif. Misalnya, terminologi teorisme sudah menjadi “cap” komunikasi politik yang kurang menguntungkan bagi negara-negara yang berpenduduk muslim. Barat secara sengaja menggnakan teori penjulukan (labelling theory) untuk menyudutkan umat Islam

Rumondor (2001) secara eksplisit menyebut beberapa ketimpangan informasi dan komunikasi  ini seperti pada aspek:

1.   Perbedaan kemampuan ekonomi;

2.   Perbedaan kemajuan ilmu dan teknologi;

3.   Tidak adanya kesamaan hak dibidang informasi;

4.   Adanya dominasi negara maju terhadap media negara berkembang sejauh menyangkut aspirasi negara berkembang;

5.   Tidak adanya hubungan yang saling menguntungkan di bidang informasi dan komunikasi;

6.   Perbedaan sistem nilai.

 

Dengan memperhatikan berbagai masalah di atas, maka keterlibatan antarbangsa untk menyelesaikan berbagai masalah yang timbul tidak dapat lagi dihindarkan. Komunikasi mernjadi penting, dalam arti sebagai “jembatan” untuk menghubungkan ide, gagasan dan pemikiran antarnegara. Dan oleh karena itu komunikasi antarbudaya pun menjadi keharusan untuk dipelajari.

Pada konteks ini, komunikasi antarbudaya memiliki fungsi yang berkaitan dengan:

a.    Meningkatkan pengetahuan kita tentang diri kita sendiri dengan menjelaskan sebagian dari perilaku-perilaku komunikatif yang kita sadari.

b.   Menjelaskan kendala-kendala terhadap pemahaman atas proses lintas budaya yang selama ini hampir tak teratasi.

 

3.   Aspek Kepentingan Saling Kebergantungan Ekonomi

Saat ini kebanayakan negara secara ekonomi bergantung pada negara lain (negara maju/kaya). Negara-negara yang sedang berkebang membutuhkan dana banyak untuk mendanai pembangunan di negerinya, dan itu salah satunya bergantung kepada negara-negara yang memiliki modal. Misalnya, Indonesia bergantung kepada Jepang, Amerika, dan negara-negara donor lainnya. Kebergantungan ekonomi mengharuskan mengetahui pola pergaulan dengan negara-negara sahabat (pemilik modal) yang sudah barang tentu memiliki kultur (budaya) yang berbeda. Di sinilah komunikasi antarbudaya berperan sebagai sarana pergaulan internasional.

 

4.   Aspek Politik Internasional

Keadaan suatu kawasan tidak selamanya terkendali secara politik. Dalam keyataannya banyak negara dan banyak kawasan mengalami gejolak politik yang menyebabkan dunia menjadi penuh ketidakpastian. Misalnya, kawasan Timur Tengah yang senantiasa dihiasi konflik Palestina – Israel, kawasan Asia yang selalu dihantui perang saudara Korea Utara – Korea Selatan, dan sebagainya. Oleh karena itu politik internasional harus senantiasa dijaga kestabilannya dengan cara membangun dialog dan saling pengertian yang terus-menrus.

Suatu bangsa harus memahami persoalan bangsa lain, dan jika terdapat persoalan harus secepatnya diselesaikan untuk menjaga persahabatan yang tetap utuh. Saling memahami dan menciptakan dialog yang memungkinkan terjaganya persahabtan antarnegara diperlukan salaing memahami budaya antarnegara. Pada ranah inilah komunikasi antarbudaya menjadi penting.

Baik secara nasional (dalam negeri), regional (kawasan) dan internasional memerlukan pengetahuan komunikasi antarbudaya yang mendalam yang memungkinkan terciptanya kesalingpengertianan. Kepentingan ekonomi, sosial dan politik antarnegara serta kemajuan yang luar biasa dibidang teknologi komunikasi dan transportasi memaksa untuk saling memahami melalui unsur budaya dalam berkomunikasi.

Terdapat beberapa keuntungan yang bisa diperoleh dari studi komunikasi antarbudaya, antara lain:

1.   Perasaan senang dan puas dalam menentukan sesuatu yang baru, dalam hal ini kebudayaan orang lain yang belum pernah diketahui atau disadari sebelumnya.

2.   Pengetahuan tentang komunikasi antarbudaya dapat membantu untuk menghindari masalah-masalah komunikasi. Pemahaman mengenai faktor-faktor yang melatarbelakangi persepsi seseorang atau sekelompok orang dapat menjadi pedoman untuk memperlakukan mereka, sehingga tidak terjadi kesalahpahaman.

3.   Kesempatan-kesempatan kerja banyak terbuka untuk bidang komunikasi antarbudaya. Kebanyakan lembaga-lembaga pemerintah maupun swasta, profit maupun non-profit, dalam berbagai tingkat, memerlukan orang-orang yang mempunyai wawasan komunikasi antarbudaya. Misalnya, bidang pendidikan, penyuluhan, industri, perusahaan-perusahaan multinasional yang mengutamakan pelayanan jasa dan produk dengan lingkup internasional, dan lain-lain.

4.   Memberikan kesempatan untuk mampu mempersiapkan dan memahami diri sendiri. Dalam usaha mengerti kebudayaan orang lain, kita dapat memperoleh pengertian yang lebih baik dan rasional tentang kita sendiri dan kebudayaan kita sendiri (Rumondor, 2001).

 

D.  KOMUNIKASI ANTARBUDAYA SEBAGAI KAJIAN KEILMUAN

Setiap disiplin ilmu memungkian setiap saat tumbuh dan berkembang melalui berbagai macam kajian dan penelitian yang bersifat deduktif maupun induktif.  Peran para peneliti dan kaum akademisi berada di “garda terdepan”  yang akan melahirkan telaahan-telaahan kritis sebagai pijakan sebuah disiplin ilmu.

Salah satu bidang kajian yang cukup cepat perkembangannya adalah komunikasi. Pada mulanya, telaahan komunikasi  hanya sebatas pada penyampaian pesan dari seseorang kepada orang lain, namun dalam perkembangannya pesan (message) yang disampaikan lebih spesifik. Dari situlah muncul bidang komunikasi politik, di mana pesannya berdimensi politik (mempengaruhi orang lain), komunikasi kesehatan yang pesannya lebih menitikberatkan kepada pesan-pesan kesehatan, dan lain-lain. Dari “rahim” komunikasi ini pula lahir komunikasi antarbudaya, yaitu pertukaran pesan di antara orang-orang (komunikator – komunikan) yang berbeda (Effendy, 1994:8).

Sejak tahun 70-an, para pakar yang memiliki perhatian khusus kepada komunikasi antarbudaya memulai pencarian untuk mengkaji sebagai disiplin ilmu tersendiri. Secara esensial, keberadaan komunikasi antarbudaya memiliki kesetaraan dengan komunikasi politik, komunikasi antarpribadi, komunikasi massa, dan lain-lain. Dari segi kepustakaan, selama ini telah banyak dihasilkan ragam komunikasi antarbudaya dari berbnagai perspektif, misalnya dari perspektif pendidikan, antropologi, psikologi, bahasa, sosiologi, dan lain-lain. Berbagai kajian tersebut semakin memperkaya khazanah kepustakaan komunikasi antarbudaya.

Komunikasi antarbudaya dapat dianggap sebagai suatu bidang studi, karena secara teoretik-akademik telah memenuhi persyaratan-persyaratan dari suatu cabang ilmu pengetahuan, yaitu:

1.   Ada kepustakan yang cukup memadai bagi ilmuwan dan mahasiswa untuk digunakan sebagai pelajaran dan referensi.

2.    Ada pengertian teoretis yang luas sebagai landasan kuat bagi studi dalam bidang tersebut.

3.   Mempunyai lebih dari suatu cara pendekatan untuk penerapan teori tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

4.   Harus cukup luas ruang lingkupnya sehingga ilmuwan mempunyai keleluasaan untuk melakukan penelitian dan membangun teori.

5.   Harus memungkinkan untuk megajarkan keterampilan pada para praktisi yang biasanya tidak memperdulikan aspek-aspek teoretis dari program latihan mereka.

6.   Pada tingkat graduate (setingkat S 2), harus memberi peluang bagi mahasiswa untuk mengambil bidang spesialisasi dalam salah satu aspek dari bidang tersebut.

7.   Lulusan pendidikan tingginya harus dapat memperoleh pendidikan dan latihan.

8.   Kebutuhan untuk mempelajari bidang tersebut harus diakui oleh lembaga-lembaga pendidikan, organisasi-organisasi perusahaan, dan pemerintah (Rumondor, 2001).

Sementara Hammer (dalam Liliweri, 2003:14) , mengatakan bahwa komunikasi antarbudaya memenuhi syarat untuk dijadikan sebagai salah satu kajian dalam ilmu komunikasi, karena:

1.   Secara teoretis memindahkan fokus dari suatu kebudayaan kepada kebudayaan yang dibandingkn.

2.   Membawa konsep aras makro kebudayaan ke aras mikro kebudayaan.

3.   Menghubungkan kebudayaan dengan proses komunikasi.

4.   Membawa perhatian kita kepada peranan kebudayaan yang mempengaruhi perilaku.

 

Studi-studi komunikasi antarbudaya semakin menemukan relevansinya karena dihadapkan oleh fakta keragaman budaya baik di dalam negeri maupun internasional. Berbagai konflik yang muncul tidak saja didasari oleh motif politik dan ekonomi, tetapi juga disebabkan oleh benturan budaya. Budaya memiliki nilai-nilai yang menjadi pegangan sekelompok masyarakat, dan hal itu akan menjadi krusial apabila nilai dianut sekelompok masyarakat berbenturan dengan nilai-nilai budaya kelompok lain. Misalnya, budaya Barat yang cenderung bebas (terutama dalam pergaulan) banyak berbenturan dengan budaya Timur yang lebih religius.

Berdasarkan paparan-paparan di atas, maka kajian mengenai komunikasi antarbudaya bukan saja menarik, tetapi sudah menjadi kebutuhan setiap individu dan kelompok maupun. Dalam ungkapan lain, kebutuhan akan disiplin komunikasi antarbudaya bukan hanya didasarkan pada kebutuhan pragmatis, melainkan pula kebutuhan akademis. 

SAP FILSAFAT ILMU

 

 

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

PROGRAM STUDI humas dan kpi

FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI

 

 

MATA KULIAH

FILSAFAT ILMU

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

OLEH:

 

DADAN ANUGRAH, M.Si

NIP. 197103202000031002

 

 

 

 

 

 

UIN SUNAN GUNUNG DJATI

BANDUNG

2014

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

 

Mata Kuliah

:

Filsafat Ilmu

Bobot

:

2 sks (2-0)

Prodi

:

Humas dan KPI

Semester/Kelas

:

III dan V

Dosen

:

Dr. Dadan Anugrah, M.Si.

 

 

TM

POKOK BAHASAN

SUB POKOK BAHASAN

METODE

TUGAS

KET.

1

·   Kontrak belajar dan penjeklasan SAP

·   Filsafat: Pengantar

1.       Kontrak belajar

2.       Penjelasan SAP

3.       Pengertian filsafat

4.       Objek filsafat

5.       Ciri-ciri filsafat

6.       Manfaat mempelajari filsafat

Ceramah dan Tanya jawab

·         Mahasiswa menuliskan ringkasan TM 1 dan dikumpulkan pada TM 2

·         Mahasiswa meresensi satu buah buku Filsafat Ilmu

 

2

Ilmu dan ruang lingkupnya

1.       Ilmu dan pengetahuan

2.       Cabang-cabang ilmu

3.       Macam-macam ilmu pengetahuan

4.       Objek material dan formal ilmu

Ceramah dan Tanya jawab

Mahasiswa membuat ringkasan TM 2 dan dikumpulkan pada TM 3

 

3

Filsafat Ilmu

1.       Pengertian

2.       Objek filsafat ilmu

3.       Pendekatan dalam filsafat ilmu

4.       Fungsi dan arah filsafat ilmu

5.       Ruang lingkup filsafat ilmu

Ceramah dan Tanya jawab

 

 

4

Substansi filsafat ilmu

1.       Kebenaran dan fakta

2.       Kebenaran menurut ilmu, filsafat, dan agama

3.       Keterkaitan antara fakta dan kebenaran

Diskusi dan Tanya jawab

Mahasiswa membuat paper tentang topik pada TM 4

 

 

5

Ilmu, filsafat dan agama

1.       Kedudukan ilmu, filsafat dan agama

2.       Jalinan antara ilmu, filsafat dan agama

3.       Persamaan dan perbedaan antarab ilmu, filsafat dan agama

 

 

 

6

Dimensi ontologi

1.       Definisi

2.       Objek kajian

3.       Aliran dalam metafisika ontologi

Ceramah dan Tanya jawab

 

 

7

Dimensi Epistemologi

1.       Pengertian

2.       Persyaratan epiostemologi

3.       Aliran-aliran dalam epistemologi

 

 

 

8

UTS

 

 

 

 

9

Dimensi aksiologi

1.       Pengertian

2.       Objek aksiologi

 

 

 

10

Logika ilmu dan berpikir ilmiah

1.       Hakikat berpikir ilmiah

2.       Bahasa keilmuan

3.       Kriteria metode berpikir ilmiah

4.       Kelemahan berpikir ilmiah

Ceramah dan Tanya jawab

 

 

11

Teori

1.       Definisi teori dan ilmu

2.       Perkembangan teori

3.       Konstruk teori

Diskusi dan Tanya jawab

Dua orang mahasiswa menyajikan paper tentang topic pada TM 11

 

 

12

Teori kebenaran Ilmiah

1.       Kebenaran koherensi

2.       Kebenaran Korespondensi

3.       Kebenaran pragmatis

4.       Kebenaran performatif

5.       Kebenaran proposisi

6.       Kebenaran konstruktivisme

7.       Kebenaran religiusisme

·   Dua orang mahasiswa menyajikan paper tentang topik pada TM 12

·   Diskusi

Mahasiswa lain wajib mengkopi hard/soft paper yang disajikan

 

13

Etika ilmu

1.       Pengertian

2.       Hubungan etika dan ilmu Masyarakat ilmiah

3.       Masyarakat berbudaya ilmu pengetahuan

·   Dua orang mahasiswa menyajikan paper tentang topic pada TM 13

·   Diskusi

Mahasiswa lain wajib mengkopi hard/soft paper yang disajikan

 

14

Tanggung jawab moral keilmuan

1.       Komponen-komponen pembangun ilmu

2.       Sumber-sumber ilmu

3.       Etika keilmuan

4.       Sikap ilmuwan

5.       Kesadaran moral

·   Dua orang mahasiswa menyajikan paper tentang topik pada TM 14

·   Diskusi

Mahasiswa lain wajib mengkopi hard/soft paper yang disajikan

 

15

Riview dan persiapan UAS

Materi   9  s.d  15

·   Diskusi

·   Tanya jawab

 

 

16

UAS

Materi  9 s.d 15

 

 

 

 

 

 

 

Referensi:

 

1.      Jujun S. Suriasumantri, 1997. Ilmu Dalam Perspektif. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

2.      Jujun S. Suriasumantri, 1994. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Sinar Harapan.

3.      Dani Vardiansyah, 2005. Filsafat Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Jakarta: Indeks

4.      C.A. Van Peursen, 1993. Susunan Ilmu Pengetahuan Sebuah Pengantar Filsafat Ilmu.

5.      C.A. Qadir, 1995. Ilmu Pengetahuan dan Metodenya. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

6.      Noeng Muhadjir, 2001. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Rake Sarasin

7.      Muhammad TH., 1984. Kedudukan Ilmu Dalam Islam. Surabaya: Al-Ikhlas.

8.      Muahammad Adib, 2010. Filsafat Ilmu, Ontologi, Epistemologi, Aksiologi, dan Logika Ilmu Pengetahuan. Jakarta: Pustaka Pelajar.

9.      A.Susanto, 2011.Filsafat Ilmu Suatu Kajian Dalam Dimensi Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis. Jakarta: Bumi Aksara.

10.  Solatun, 2004. Islam dan Etika Komunikasi. Bandung: Katarsis

11.  Endang Saifuddin Anshari, 1987. Ilmu, Filsafat dan Agama. Surabaya: Bina Ilmu

12.  Muhammad Mufid, 2009. Etika dan Filsafat Komunikasi. Jakarta: Kencana

13.  Armahedi Mahzar, 1983. Integralisme. Bandung: Pustaka Salman ITB

14.  Osman Bakar, 1997. Hierarki Ilmu Membangun Rangka-Pikir Islamisasi Ilmu. Bandung: Mizan.

15.  Yusuf Al-Qardhawi, 1996. Epistemologi Al-Qur’an. Surabaya: Risalah Gusti.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SAP KOMUNIKASI MASSA

 

SATUAN ACARA PERKULIAHAN (SAP)

 

Komunikasi massa

2 (2-0) SKS

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh:

 

Dadan Anugrah

Nip. 1971 0320 2000031oo2

 

 

 

 

 

http://2.bp.blogspot.com/-ZwBceOkeg2Q/T-eEwkYWGmI/AAAAAAAAA64/M_DSE4oPZ5s/s1600/Logo+UIN+Bandung.png

 

 

 

KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM

FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI

UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

2014

KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM

FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI

UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

 


SATUAN ACARA PERKULIAHAN (SAP)

 

MATA KULIAH

:

Komunikasi Massa

SKS

:

2  Sks

JURUSAN / KELAS

:

KPI

SEMESTER

:

IV

TAHUN AJARAN

:

2013/2014

DOSEN

:

Dr. Dadan Anugrah, M.Si

 

 

 

DESKRIPSI MATA KULIAH:

Mata kuliah ini membahas mengenai  komunikasi massa dari berbagai aspek. Perkuliahan ditujukan untuk memahami pengertian komunikasi, pengertian komunikasi massa, urgensi komunikasi massa, konsep dasar dan model komunikasi massa, media dalam komunikasi massa, fungsi-fungsi komunikasi massa, hambatan dalam komunikasi massa, efek komunikasi massa, teori-teori dalam komunikasi massa, etika komunikasi massa, dan riset teks media. Mata kuliah ini hanya bisa diikuti oleh mahasiswa yang telah meyelesaikan mata kuliah pengantar ilmu komunikasi.

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM

Setelah mengikuti perkuliahan ini, mahasiswa diharapkan memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang komunikasi massa serta mampu mengamati dan menganalisa peristiwa yang berkenaan dengan proses komunikasi massa itu sendiri.

 

 

URAIAN SAP

 

TATAP

MUKA

POKOK BAHASAN /

SUB POKOK BAHASAN

TUGAS

METODE

REFERENSI

1

2

3

4

5

1

·         Kontrak perkuliahan

·         Kuis

 

Ceramah dan Tanya jawab

 

 

2

Komunikasi Massa:

·         Pengertian

·         Urgensi komunikasi massa

·         Komunikasi massa VS komunikasi antarpribadi

 

 

 

Ceramah dan Tanya jawab

 

 

1, 3, 4, 5, 6, 7

 

3

Konsep dasar dan model komunikasi massa:

·         Konsep dasar komunikasi massa

·         Model-model komunikasi massa

 

Mahasiswa diberikan tugas untuk membuat paper tentang media dalam komunikasi massa untuk didiskusikan pada pertemuan ke 4

 

 

 

Ceramah dan Tanya jawab

 

 

 

5, 6, 7, 11, 12

 

4

Media dalam komunikasi massa:

·         Televisi

·         Radio

·         Surat kabar

·         Majalah

 

 

 

Diskusi kelompok

 

 

12

 

 

 

 

 

5

Fungsi-fungsi komunikasi massa

·         Fungsi bagi individu

·         Fungsi bagi masyarakat

 

Ceramah dan Tanya jawab

9,  11, 12

 

6

Hambatan dalam komunikasi massa:

·         Hambatan psikologis

·         Hambatan sosio-kultural

·         Hambatan interaksi verbal

Mahasiswa diberikan tugas untuk membuat paper tentang topik-topik diskusi pada  pertemuan ke 7

 

 

Ceramah dan Tanya jawab

 

 

12

 

7

Diskusi:

Peranan media massa dalam pemberantasan korupsi (kasus Hambalang)

 

 

 

Diskusi kelompok

 

 

8

Ujian Tengah Semester (UTS)

 

 

 

 

9

Efek komunikasi massa:

·         Konseptualisasi efek dalam komunikasi massa

·         Hypodermic needle theory

·         Agenda setting theory

·         Cognitive dissonan theory

·         Cultivation theory

Membuat rangkuman dan dikumpulkan  pada pertemuan ke 10

 

 

 

Cernah dan tanya jawab

 

 

 

1, 2, 3, 6, 8, 11

 

10

Khalayak dan media:

·         Social categories theory

·         Individual differences tehory

·         Social relationships theory

·         Social learning theory

·         Cultural norms theory

Membuat rangkuman dan dikumpulkan  pada pertemuan ke 11

 

 

Cernah dan tanya jawab

 

 

10

 

11

Efek komunikasi massa:

·         Efek kehadiran media massa

·         Efek kognitif komunikasi massa

·         Efek afektif komunikasi massa

·         Efek behavioral komunikasi massa

 

 

 

 

 

Cernah dan tanya jawab

 

 

 

 

1, 6, 10

 

12

Media massa dan sistem pemerintahan:

·         Authoritarian theory

·         Libertarian tehory

·         Soviet communist theory

·         Social responsibility theory

Mahasiswa diberikan tugas untuk membuat paper tentang topik-topik didkusi pada  pertemuan ke 13

 

 

 

1, 6,  7, 12, 15

13

Diskusi:

Analisis sistem pers Indonesia

 

Diskusi kelompok

 

 

14

Etika komunikasi massa

·         Pengertian etika, etiket, dan moral

·         Tanggung jawab

·         Kebebasan pers

·         Masalah etis

·         Ketepatan dan objektivitas

·         Tindakan adil untuk semua orang

 

 

 

 

Cernah dan tanya jawab

 

 

 

5, 12

 

15

Riset teks media:

Content analysis

Frame analysis

Discourse analisys

 

 

 

 

 

Cernah dan tanya jawab

 

 

2, 6, 7, 13, 14

 

16

Ujian Akhir Semester (UAS)

 

 

 

 

 

 

 

REFERENSI:

 

1.    Severin, Werner, J., & James W. Tankard, Jr., 1992. Communication Theories, Origin, Methods, and Uses in the Mass Media. New York: Longman.

 

2.    Littlejohn, Stephen W., & Karen A. Foss, 2008. Theories of Human Communication, Ninth Edition. USA: belmont

 

3.    West, Richard & Lynn H. Turner, 2007. Introducing Communication Theory: Analysis and Application,  Third Edition. New York: McGraw-Hill.

 

4.    Morreale, Sherwyn P., Brian H. Spitzberg & J. Kevin Brage, 2007. Human Communication, Motivation, Knowledge and Skills. USA: Belmot

 

5.    Tubbs, Stewart & Sylvia Moss, 2008. Human Communication, Principles and Contexts. New York: McGraw-Hill.

 

6.    Baran, Stanley & Dennis K. Davis, 2009. Mass Communication Theory, Fifth Edition. USA: Wadsworth.

 

7.    McQuail, Denis, 1996. Teori Komunikasi Massa, Suatu Pengantar, Edisi Kedua. Jakarta: Erlangga.

 

8.    McQuail, Denis & Sven Windahl, 1981. Communication Models: For the study of Mass Communication. New York: Longman.

 

9.    Mulyana, Deddy, 2008. Komunikasi Massa, Kontroversi, Teori dan Aplikasi. Bandung: Widya Padjadjaran.

 

10.Rakhmat, Jalaluddin, 1994. Psikologi Komunikasi. Bandung: Rosda.

 

11.Bungin, Burhan, 2006. Sosiologi Komunikasi, Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat. Jakarta: Kencana.

 

12.Ardianto, Elvinaro & Lukiati Komala, 2004. Komunikasi massa Suatu Pengantar. Bandung: Simbiosa.

 

13.Eriyanto, 2002. Analisis Framing. Yogyakarta: LkiS

 

14.Eriyanto, 2001. Analisis Wacana. Yogyakarta: LkiS

 

15.Siebert, Fred S., Theodore Peterson & Wilbur Schramm, 1973. Four Theories of the Press. Urbana: University of Illinois Press.

 

 

MENJADI PEMILIH CERDAS DI PILGUB JABAR

MENJADI PEMILIH CERDAS DI PILGUB JABAR

             Pemilihan gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat tinggal menghitung waktu, tepatnya 24 Februari 2013. Kelima pasang calon telah sama-sama berikhtiar untuk merebut hati pemilih. Ada yang mendatangi pasar tradisional, membentuk relawan diberbagai daerah, silaturahmi dengan para tokoh terkemuka, mendatangi korban banjir, dan seterusnya. Muaranya adalah mereka ingin mendapat simpati dari pemilih hingga akhirnya melenggang mulus menapaki Gedung Sate.

            Sepintas pesta demokrasi seperti pemilihan gubernur dan wakilnya ini amat sederhana dan tidak harus bersusah payah. Pemilih hanya tingga datang ke TPS (bilik suara) pada waktu yang telah ditentukan lalu mencoblos salah satu pasang kandidat, dan setelah itu selesai pulalah tugas dari pemilih. Beberapa jam kemudian biasanya lembaga survey merilis pasangan mana yang memperoleh suara terbanyak. Meski secara teknis pemilihan kepala daerah itu terlihat gampang tetapi sejatinya tidak demikian. Masyarakat yang memiliki hak pilih harus berpikir kritis untuk menentukan pilihannya, sehingga kesalahan memilih dibalik bilik suara yang hanya dalam hitungan detik tidak berdampak terhadap lima tahun ke depan. Artinya, bila kita memilih dengan tidak cerdas, maka nasib Jawa Barat lima tahun ke depan menjadi taruhannya. Di sini pemilih menjadi aktor dan faktor penentu untuk masa depan yang lebih baik atau sebaliknya terjebak dalam kegagalan.

 

Pragmatisme Partai Politik

            Tak dapat dipungkiri bahwa partai politik sampai saat ini masih dipandang efektif dalam meloloskan seseorang untuk menduduki orang nomor satu di daerah. Mesin politik poartai yang sifatnya hirarkis dari pusat hingga ke daerah (kecamatan dan desa) mampu memobilisasi dan mendulang suara yang cukup signifikan. Sedangkan kandidat yang berasal dari jalur independen harus bersusah payah membangun jaringan yang memerlukan biaya tinggi (high cost).

            Pada saat pemilihan kepala daerah diserahkan sepenuhnya kepada daulat rakyat melalui pemilihan langsung, maka kehadiran figur menjadi sangat penting dari pada partai politik. Dominasi dan hegemoni partai politik yang begitu sangat kuat puluhan tahun yang lalu perlahan namun pasti mengalami degradasi.  Saat ini, partai politik hanya sekedar “sarana alternatif” bagi para politisi bahkan selebriti yang bisa “dimainkan” untuk meraih kekuasaan. Fenomena ini secara umum dapat dilihat dari dua hal: Pertama, betapa banyak kepala daerah yang memenangkan pertarungan dalam pilkada tanpa melalui partai politik (jalur independen). Kedua, banyak para artis yang tiba-tiba muncul sebagai calon kepala daerah yang justeru didukung bahkan dilamar oleh partai politik. Hal ini terlihat jelas pada pemilihan gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat.  Realitas itu yang lalu menggelitik nalar kita untuk bertanya di mana kader-kader partai politik berada? Atau mungkin mesin partai gagal total untuk mencetak kader yang dipercaya oleh rakyat? Sungguh popularitas yang dimiliki para artis telah mengalahkan proses kaderisasi yang telah berjalan bertahun-tahun.

            Partai politik menjadi pragmatis dan kehilangan watak ideologisnya. Perjuangan partai politik hanya semata-mata mengejar kekuasaan yang di sisi lain kerapkali menutup mata atas reputasi dan integritas calon yang didukung. Realitas itu pula yang memberi preseden buruk terhadap partai politik yang gagal melahirkan kader-kader yang berkualitas tinggi dan layak jual. Partai politik yang terlalu “nafsu” dengan kekuasaan memilih jalan pintas dengan cara merekrut artis yang populer tanpa mempertimbangkan dampak destruktifnya terhadap proses pengkaderan. Bila tidak diwaspadai, kebijakan pragmatis partai akan berujung pada tiga hal: Pertama, akan menimbulkan kecemburuan sosial bagi para kader partai politik yang tersisihkan oleh pendatang baru baik dari kalangan artis maupun di luar artis yang memiliki kekuatan finansial. Kedua, semakin menguatnya politik uang yang dilakukan oleh para oponturir untuk membeli kekuasaan. Dalam pikiran mereka, untuk merebut atau meraih kekuasaan dalam proses politik tidak harus bertahun-tahun duduk dikepengurusan partai, tetapi cukup mengumpulkan uang dan “mengibaskannya” kepada partai. Ketiga, proses politik seperti ini sudah pasti berbiaya tinggi (high cost) yang akan merugikan sejumlah kader partai potensial tetapi tidak memiliki kekuatan finansial.

            Sikap pragmatis partai politik saat ini disadari atau tidak telah berdampak buruk terhadap kinerja beberapa kepala daerah dalam mengemban amanahnya. Kandidat yang lolos menduduki kepala daerah banyak yang terjebak ke dalam politik balas budi. Siapa memberi apa dan seberapa banyak pada akhirnya akan menjadi pertimbangan utama selama pemerintahannya berlangsung. Inilah yang menjadi cikal bakal malapetaka kepala daerah terjebak ke dalam perilaku koruptif. Fakta di lapangan telah membuktikan dengan jelas dan tegas, bahwa saat ini betapa banyak kepala daerah yang dijebloskan ke jeruji besi, belum lagi yang saat ini tengah dalam persidangan dengan modus utama korupsi.

 

Menjadi Pemilih Cerdas

            Demokrasi langsung dalam pemilihan kepala daerah telah menempatkan individu yang memiliki hak pilih menjadi penentu. Namun sayang kesempatan itu belum dimanfaatkan secara optimal oleh pasra pemilih. Minimnya pendidikan politik bagi masyarakat menjadi penyebab sikap pragmatis para pemilih yang menjadikan suaranya dapat dibeli dengan uang hingga ditukar dengan sembako. Di sini berlaku adagium “uang dan kekuasaan”. Artinya, siapa yang memiliki pundi-pundi uang lebih banyak akan  mendapat peluang paling mungkin untuk memenangkan pertarungan.

            Politik uang dan politik sembako dalam pemilihan kepala daerah sejatinya dapat diminimalisir  dengan cara menjadi pemilih yang cerdas. Secara teoretik, derajat pemilih yang baik (voters) memiliki karakteristik sebagai berikut: (1) kalkulasi, yakni memilih dengan penuh perhitungan sehingga mengetahui dari untung-rugi pilihannya, (2) rasional, yaitu memilih berdasarkan tingkat kapabelitas calon dan aneka program yang ditawarkan, (3) penuh pertimbangan dengan melihat aneka informasi mengenai track record dan kapasitas seorang calon, (4) transaksi  sebelum memilih dengan mengajukan pertanyaan kritis, apakah calon dapat mewujudkan harapannya, (5) memandang calon secara setara, (6) bertanggung jawab atas pilihannya, dan (7) memberikan mandat pada calon, berpartisipasi aktif dan selalu melawan terhadap arus negatif.

Sementara itu, Firmanzah (2008:120-124), membagi tipologi pemillih kepada empat kelompok besar. Pertama, pemilih rasional (rational voter). Para pemilih dalam kelompok ini lebih berorientasi kepada ‘policy-problem-solving’ dan berorentasi rendah untuk faktor ideologi. Kelompok ini umumnya lebih mempertimbangkan kemampuan kandidat dalam program kerjanya yang tercermin pada kinerja masa lampau dan tawaran untuk menyelesaikan permasalahan nasional yang ada.

Kedua, pemilih kritis, yakni mereka yang memadukan antara kemampuan kandidat dalam menyelesaikan beragam persoalan dengan hal-hal yang bersifat ideologis. Mereka yang berada pada kelompok kritis ini akan selalu menganalisa kaitan antara sistem nilai partai (ideologi) dengan kebijakann yang dibuat. Tiga kemungkinan yang akan muncul bila terjadi perbedaan antara ideologi dan ‘flatform’ partai: (1) memberikan kritik internal, (2) frustrasi, dan (3) membuat partai baru.

Ketiga, pemilih tradisional, yakni mereka yang memiliki orientasi ideologi yang sangat tinggi dan tidak terlalu melihat kebijakan partai atau kandidat sebagai sesuatu yang penting dalam pengambilan kebijakan. Pemilih tradisional sangat mengutamakan kedekatan sosial-budaya,  nilai, asal-usul, paham dan agama sebagai ukuran dalam menentukann pilihan.

Keempat, pemilih skeptis, yakni mereka yang tidak memiliki orientasi ideologis tinggi dengan kandidat, juga tidak menjadikan kebijakan sebagai sesuatu yang penting. Golongan putih (golput)  merupakan kelompok yang paling didominasi oleh pemilih skeptis ini. Mereka umumnya tidak perduli satas realitas politik yang berlangsung.

Dalam era kebebasan informasi dan komunikasi yang menempatkan media massa sebagai alat pendidikan politik memungkinkan terjadinya pergeseran secara cepat perilaku pemilih dari sekedar supporter menjadi voters. Tayangan-tayangan media massa dalam bentuk berita, peristiwa politik, opini politik, rekam jejak para politisi dan lain-lain telah menjadi masukan yang signifikan dalam meningkatkan pengetahuan politik masyarakat secara luas. Istilah pemilih “membeli kucing dalam karung” akan semakin berkurang, karena media massa banyak menampilkan tokoh politik dengan segala latar belakangnya. Di sisi lain, kehadiran Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang melansir para politisi “busuk” karena memiliki rekam jejak buruk turut pula memberikan masukan bagi pemilih. Oleh karena itu, rakyat akan semakin cerdas kritis dalam menentukan pemimpinnya

 

 

Perspektif Hubungan Sosial

            Maraknya iklan politik diberbagai media massa, baik cetak maupun elektronik yang lebih mengedapankan politik pencitraan dapat menjadi perangkap atau jebakan bagi para pemilih. Menurut Ibrahim (2007:190), media menjadi sumber rujukan calon pemilih untuk mengenali sosok kandidat. Citra kandidat bergantung pada konstruksi citranya di media. Karena politik adalah persepsi, maka media mulai ikut mendiktekan, mendominasi, dan menyimpulkan penilaian orang akan sosok kandidat.

            Disadari bahwa tidak semua pemilih berada pada kelompok cerdas atau kritis untuk menentukan kandidat yang akan dipilihnya. Media massa kerapkali hanya menampilkan kulit luarnya bdari kandidat, terutama bagi media yang partisan dan pragmatis. Terpaan media massa yang menawarkan kandidat melalui “polesan” tertentu harus diimbangi dengan intensitas hubungan sosial. Teori hubungan sosial menekankan pentingnya peranan hubungan sosial yang informal dalam mempengaruhi reaksi orang terhadap media massa. Oleh karena itu, para intelektual, kaum akademisi, budayawan, dan terutama para tokoh di masyarakat diharapkan ikut ambil bagian dalam memberi masukan dan mencerdaskan pemilih, sehingga kesalahan dalam memilih dapat dihindari.

 

 

Wallahua’lam bishshawab.

Image

e-mail: grah_007@yahoo.com

HARTA, TAHTA DAN WANITA

TAHTA, HARTA DAN WANITA

 

Minggu-minggu  ada dua tokoh yang menjadi perbincangan hangt di media massa, yakni Rhoma Irama alias Bang Haji dan Bupati kota dodol Aceng HM Fikri. Keduanya seakan melengkapi falsafah yang mengatakan bahwa godaan seorang lelaki itu terletak pada  tahta, harta, dan wanita. Siapa yang tak kenal Bang haji? Pria plamboyan kelahiran Tasikmalaya ini sudah malang melintang di dunia seni, khusunya dangdut belasan bahkan puluhan tahun yang lalu. Dari kepiawaiannya bermain musik tepak gendang dan tiup seruling itu mengantarkan Bang Haji ke puncak popularitas. Lagu-lagunya laris manis bak kacang goring. Siapa yang tak kenal dengan lirik bujangan, darah muda, begadang, dan sejumlah lgus laris lainnya. Lagu-lagu itu mengumandang dari mulai gubuk reyot, warung kopi hingga gedung-gedung bertingkat. Bahkan ada kawan saya setia memutar lagu-lagu Bang Haji di mobilnya. Kawan saya beralasan, bahwa lagu-lagu Bang haji cukup religius, sangat pas dengan konsep dakwah popular saat ini.

Bagi Bang Haji, dunia politik sudah tidak asing lagi. Ia mulai bersentuhan dengn politik sejak 1997 melalui partai berlambang Ka’bah (PPP). Saat itu Bang Haji menjelma menjadi  mesin pengumpul suara yang sangat sukses. Ia mampu menyandingkan tiga unsur penting, yakni dakwah, dangdut, dan politik yang kemudian menjadi daya tarik rakyat di tengah-tengah hegemoni Golkar kala itu.

Beberapa hari ini masyarakat Jawa Barat dikejutkan oleh berita mengenai cinta kilat Sang Bupati kota dodol Aceng HM Fikri. Bupati yang lahir empat puluh tahun yang lalu itu kini berhadapan dengan masalah yang tidak ringan. Perkawinan kilat yang terjadi enam bulan yang lalu menjelma menjadi badai yang bisa-bisa menggusur pak bupati dari tampuk kekuasaan. Jika ini terjadi, Aceng HM Fikri adalah satu dari beberapa politisi yang akhirnya terlempar dari kursi empuk kekuasaan. Di sini berlaku pepatah “siapa menanam dia pula yang menuai”. Kasus Aceng HM Fikri tidak saja menyedot masyarakat awam yang merasa bersimpati terhadap Fany Oktora, tetapi telah ikut mengusik istana. Kabarnya, Presiden SBY sampai-sampai turun tangan untuk meminta klarifikasi kepada Gubernur Jabar Ahmad Heryawan dalam sebuah pertemuan di Sentul Jawa Barat.

Di satu sisi, Bupati Aceng dapat dikatakan berani ketika tampil di salah satu TV swasta beberapa waktu yang lalu. Bahkan ia sanggup berdebat untuk menjelaskan posisinya pada kasus perkawinan empat hari itu. Ia beralasan bahwa apa yang dilakukannya seseuai dengan syariat agama Islam. Baginya tidak ada satu pun aturan agama yang dilanggar pada perkawinan itu, semua rukun nikah terpenuhi, dari mulai pasangan mempelai, wali, ijab qabul, dan mahar. Sekali lagi sah dalam agama.

 

Agama dan Etika

Dalam perspektif agama mungkin tidak ada aturan yang terlanggar. Artinya, pada saat rukun nikah terpenuhi maka seketika menjadi sah adanya. Tetapi harus diingat bahwa Aceng HM Fikri bukanlah rakyat biasa, tetapi seorang pemimpin daerah, pejabat publik yang harus menjadi contoh dan panutan bagi rakyatnya di Garut. Bupati Aceng tidak bisa melepaskan dirinya lalu menjelma menjadi makhluk pribadi yang tidak memperhitungkan pertanggungjawaban publik. Ia terikat oleh norma dan budaya yang hidup di daerahnya yang secara sosiologis memandang kurang baik bagi pejabat pemerintah yang melakukan poligami. Apalagi perkawinan yang dilakukan Bupati Aceng terkesan main-main dan merendahkan harkat martabat wanita. Logika ini yang memukul telak sang bupati.

Persoalan etika berbeda dengan agama. Agama berbicara halal dan haram, sementara etika berbicara baik dan buruk. Meskipun secara agama apa yang dilakukan Bupati Aceng halal tetapi ada ukuran lain dalam bentuk etika yang mengangap perilaku itu buruk. Dalam kehidupan di masyarakat, siapa pun tidak bisa menyepelekan eksistensi etika di masyarakat. Etika merupakan penyelidikan filsafat mengenai kewajiban-kewajiban manusia serta tingkah laku menusia dilihat dari segi baik dan buruknysa tingkah laku tersebut. Etika bertugas memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut : Atas dasar hak apa orang menuntut kita untuk tunduk terhadap norma-norma yang berupa ketentuan, kewajiban, larangan, dan sebagainya. Bagaimana kita bisa menilai norma-norma itu ? Pertanyaan ini timbul dalam benak kehidupan kita sehari-hari. Etika memiliki sifat dasar, yiatu kritis; mempersoalkan norma-norma yang dianggap berlaku; menyelidiki dasar norma-norma itu; mempersoalkan hak dari setiap lembaga untuk memberi perintah dan larangan untuk ditaati.

 

Perspektif Komunikasi

Gencarnya pemberitaan Bupati Garut Aceng HM Fikri belakangan ini tidak terlepas dari pemberitaan media massa. Ada dua teori yang dapat menjelaskan hal itu: Pertama, teori agenda setting. Teori ini memiliki asumsi bahwa media massa sangat perkasa dalam mempengaruhi khalayak sementara khalayak dianggap pasif. Khalayak tidak berdaya dalam menghadapi berondongan pesan dari media massa. Akhirnya, apa yang diagendakan media akan menjadi agenda khalayak. Berdasarkan teori ini, pantas jika hampir sebagian besar  masyarakat Jawa Barat membicarakan bupati Garut itu. Kedua, teori spiral keheningan Teori ini beranggapan bahwa individu memiliki opini tentang berbagai isu. Akan tetapi, ketakutan akan terisolasi mengarahkan individu tersebut untuk mengekspresikan opini-opininya secara terbuka. Untuk meminimalkan kemungkinan terisolasi, individu-individu itu mencari dukungan bagi opini mereka dari lingkung­annya, terutama dari media massa.

Peristiwa kawin kilat ini terjadi kurang lebih enam bulan yang lalu tanpa “huru-hara” seperti saat ini. Ini menandakan bawa dalam kurun waktu enam bulan itu peristiwa mengalami silence (hening), tetapi lama kelamaan merangkak naik seperti spiral yang kemudian meledak. Pada saat seseorang atau suatu kelompok telah mendapat dukungan dari media massa, maka ia akan semakin berani terbuka.

 

Tahta, Harta dan Wanita

Dalam budaya Sunda berkembang tiga istilah yang cukup popular, yakni tahta, harta, dan wanita yang kerap kali menjadi “batu sandungan”, yterutama bagi kaum adam. Bila kita kembali membuat komparasi antara Bang Haji dan Bupati Aceng, maka analisisnya seperti ini: Bang Haji sukses mendapatkan harta dan wanita. Harta Bang Haji mungkin tidak akan habis dimakan tujuh turunan, sementar itu pula Bang Haji terkenal dengan keahliannya menundukkan hati wanita. Di dadanya yang penuh rambut itu telah bersandar beberapa wanita. Itu sebagai bukti sahih bawa Bang Haji bukan saja raja dangdut, tetapi juga raja dalam  menaklukan wanita. Sejauh ini ada satu hal yang belum dapat diraih Bang haji, yaitu tahta. Makanya tidak heran jika Bang Haji ingin nyapres di 2014. Jika Bang Haji sukses di tahun 2014 nanti, maka lengkap sudah apa yang menjadi idaman banyak lelaki: harta, tahta dan wanita.

Sementara Bupati Aceng sukses pula dalam dua hal yaitu harta dan tahta, sedangkan  untuk urusan wanita belum sepadan dengan si raja dangdut. Untuk urusan tahta Aceng saat ini menjadi orang nomor satu di Garut. Bupati merupakan jabatan tertinggi di suatu kabupaten, puncak dari kesuksesan karier politik untuk putra daerah. Pada zaman dulu, jabatan bupati tidak dijabat oleh orang sembarangan (biasa), tetapi lekat dengan “titisan” raja. Tetapi ketika tatanan masyarakat dan politik berubah, maka jabatan bupati mengalami proses desakralisasi. Artinya dengan prinsip demokrasi yang menempatkan rakyat sebagai pemegang kedaulatan, maka siapa pun dapat menjadi bupati asal rakyat mendukungnya.

Bang Haji dan Bupati Aceng sama-sama terpeleset untuk wanita. Bang Haji terpeleset ketika nikah sirinya  dengan artis blasteran berinisial AL terungkap ke publik melalui media massa.  Dalam beberapa waktu bang Haji merasakan bagaimana menjadi “buronan” para kuli tinta, dan akhirnya memaksa Bang Haji untuk menjelaskannya ke publik. Saat ini terjadi pada Bupati Aceng, hari-harinya dilalui tanpa kenyamanan. Media massa setiap saat menyergapnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan. Bahkan bukan hanya wartawan, masyarakat  biasa, tokoh, dan ormas tertentu ikut ambil bagian dalam bentuk demonstrasi. Bupati Aceng di ujung tanduk, jika tidak baik nasibnya, maka kelengserannya hanya tinggal menunggu waktu.

Dalam perspektif teori kritis, harta, tahta dan wanita bukanlah suatu ancaman. Sepanjang kita dapat m,enempatkannya sesuai aturan, norma dan etika akan berdampak positif. Di sini, manusialah yang menjadi faktor penentu atas segala sesuatu. Manusia diberikan nalar dan kemampuan berepikir sehingga dengan itu dapat membedakan mana yang baik dan yang buruk, mana yang halal dan yang haram, dan seterusnya.  Harta, tahta dan wanita adalah tiga entitas yang akan membawa manfaat besar bagi kehgidupan manusia sepanjang manusia memperlakukannya secara kritis.

Wallahua’lam bishshawab.

Penulis:

Dadan Anugrah, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi,

Mahasiswa S 3 Komunikasi Unpad Bandung.

e-mail: grah_007@yahoo.com

Tlp. O81802131979