<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Dadan Anugrah</title>
	<atom:link href="http://dadananugrah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dadananugrah.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Sat, 28 Mar 2009 07:58:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='dadananugrah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Dadan Anugrah</title>
		<link>http://dadananugrah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://dadananugrah.wordpress.com/osd.xml" title="Dadan Anugrah" />
	<atom:link rel='hub' href='http://dadananugrah.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>FUNGSI KOMUNIKASI MASSA</title>
		<link>http://dadananugrah.wordpress.com/2009/03/28/fungsi-komunikasi-massa/</link>
		<comments>http://dadananugrah.wordpress.com/2009/03/28/fungsi-komunikasi-massa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Mar 2009 07:54:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dadananugrah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi Massa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dadananugrah.wordpress.com/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[A. PENGANTAR: Peranan Media Massa Komunikasi massa telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan kita. Kita menyaksikan, begitu banyak orang menjadi terkenal di ruang publik gara-gara peran serta media massa. Inul Daratista tiba-tiba menjadi selebriti yang menggemparkan panggung dangdut negeri khatulistiwa ini karena sokongan media. Setiap saat, Koran, majalah, televisi, radio dan media lainnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dadananugrah.wordpress.com&amp;blog=6769006&amp;post=40&amp;subd=dadananugrah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-family:&quot;"><span>A.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-family:&quot;">PENGANTAR: Peranan Media Massa</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&quot;">Komunikasi massa telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan kita. Kita menyaksikan, begitu banyak orang menjadi terkenal di ruang publik gara-gara peran serta media massa. Inul Daratista tiba-tiba menjadi<span id="more-40"></span> selebriti yang menggemparkan panggung dangdut negeri khatulistiwa ini karena sokongan media. Setiap saat, Koran, majalah, televisi, radio dan media<span> </span>lainnya mengusung Inul Si Goyang Ngebor sebagai fenomena baru di kancah musik dangdut. Tidak cukup sampai di sana, Inul pun mengundang kontroversi setelah berseteru dengan Bang Haji (Rhoma Irama). Bang Haji merasa keberatan dengan goyang Inul yang bisa menaikan libido laki-laki. Lagi-lagi Inul dipotret oleh media, dan Inul semakin terkenal. </span><span style="font-family:&quot;" lang="ES-TRAD">Banyak orang yang simpati dan sekaligus ada juga yang mencacinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="ES-TRAD">Dalam bidang politik, banyak juga para tokoh yang dibesarkan oleh media massa. Pada saat era informasi mulai bergema, muncul tokoh-tokoh muda seperti Andi Malarangeng, Anas Urbaningrum, dan lain-lain. Tiba-tiba kedua nama anak muda tersebut melejit “bak meteor” , dibicarakan banyak media dan banyak orang, dan ujung-ujungnya menjadi tokoh terkenal di panggung politik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="ES-TRAD">Jika mengikuti jalan pikiran Dominick (2000), fenomena terbentuknya selebriti dibidang keartisan dan pakar politik tidak terlepas dari peran yang dimainkan oleh komunikasi massa. Bahkan dalam ungkapan yang lebih ekstrem, Gamble dan Gamble mengatakan bahwa sejak lahir sampai meninggal, semua bentuk komunikasi menjadi bagian yang menyatu dalam kehidupan manusia. Komunikasi massa telah banyak mengantarkan banyak orang menjadi tokoh terkenal, menjadi fenomenal, bahkan menjadi pujaan banyak orang. Namun di sisi lain, banyak pula orang yang dibenci, dimaki dan cemooh, karena media massa, misalnya para koruptor.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="ES-TRAD"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="ES-TRAD"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-family:&quot;"><span>B.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-family:&quot;">FUNGSI KOMUNIKASI MASSA</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&quot;">Dalam garis besarnya, fungsi komunikasi massa di kelompokkan ke dalam dua bagian, yaitu fungsi bagi kehidupan sosial masyarakat (<em>societal function</em>) dan fungsi bagi individu (<em>individual function</em>). Kedua fungsi tersebut terjabarkan di dalam proses pengolahan, pengiriman dan penerimaan isi pesan media massa. Jika fungsi sosial lebih merujuk kepada khalayak (masayarakat umum), sedangkan fungsi individu merujuk kepada individu-individu secara khusus.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-family:&quot;"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-family:&quot;">Fungsi Komunikasi Massa Bagi Masyarakat</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&quot;">Fungsi komunikasi massa bagi msyarakat dikemukakan oleh Harold Lasswell. Dalam penelitiannya, ia mengidentifikasikan tiga fungsi, yaitu: <em>surveillance </em>(pengawasan lingkungan), <em>correlation </em>(korelasi antar bagian masyarakat dalam menanggapi lingkungannya), dan <em>transmission</em> (transmisis warisan sosial baru dari generasi ke generasi).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-family:&quot;"><span>a.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-family:&quot;">Surveillance</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Pengertian surveillance merujuk kepada pengumpulan dan distribusi informasi mengenai kejadian-kejadian yang berlangsung di lingkungan.<span> </span>Surveillance dibagi ke dalam dua bagian: <em>Pertama, warning<span> </span>or beware surveillance </em>(pengawasan peringatan), yaitu ketika media massa menginformasikan tentang ancaman dari bencana alam (banjir, angina topan, dll), kondisi efek yang memprihatinkan, tayangan inflasi atau adanya serangan militer. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><em><span style="font-family:&quot;">Kedua, instrumental surveillance</span></em><span style="font-family:&quot;"> (pengawasan instrument), yaitu penyampaian atau penyebaran informasi yang memiliki kegunaan atau dapat membantu khalayak dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya berita tentang film apa yang sedang dimainkan di bioskop, harga-harga saham di bursa efek, produk-produk baru, perkembangan fashion, resep masakan dan sebagainya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-family:&quot;"><span>b.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-family:&quot;">Correlation</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Fungsi ini meliputi interpretasi informasi mengenai lingkungan dan reaksi terhadap peristiwa yang terjadi. Correlation juga dapat diartikan fungsi menghubung-hubungkan bagian-bagian masyarakat agar sesuai dengan lingkungannya. Fungsi ini membantu khalayak untuk lebih memahami peristiwa-peristiwa yang terjadi dengan adanya komentar-komentar dari orang-orang terkait, tokoh masyarakat dan para pengamat. Misalnya, demonstrasi mengenai kasus Munir mengundang komentar berbagai tokoh dan pengamat politik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-family:&quot;"><span>c.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-family:&quot;">Transmission</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Fokus fungsi transmission yaitu pada komunikasi pengetahuan, nilai-niulai dan norma-norma sosial dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Nilai-nilai budaya, masalah sosial dan lain-lain dikemas dan disiarkan melalui media massa dalam beragam acara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-family:&quot;"><span>d.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-family:&quot;">Entertainment</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Fungsi ini merujuk kepada tindakan-tindakan komunikasi yang bersifat menghibur. Media massa (terutama televisi) memiliki kekuatan menghibur begitu kuat. Misalnya, orang berjam-jam menonton sinetron, kuis, atau acara-acara hiburan lainnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-family:&quot;"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-family:&quot;">Fungsi Komunikasi Massa Bagi Individu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="ES-TRAD">Komunikasi massa pun secara potensial memiliki fungsi bagi individu, diantaranya:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-family:&quot;"><span>a.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-family:&quot;">Pengawasan Atau Pencarian Informasi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="ES-TRAD">Seseorang mencari informasi jika merasa tidak pasti terhadap sesuatu hal atau peristiwa. Misalnya, jika seseorang ingin mengetahui kepastian mengani kasus Bom Bali atau kasus pembobolan Bank BNI 46, maka media massa akan menjadi sumber informasi yang dapat memberikan nilai/sumber kepastian bagi seseorang (individu).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="ES-TRAD"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-family:&quot;"><span>b.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-family:&quot;">Mengembangkan Konsep Diri</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Konsep diri seseorang tidaklah stagnan, melainkan orang senantiasa ingin mengembangkannya ke<span> </span>arah yang lebih baik. Dengan membaca surat kabar, atau menonton televisi yang berkaitan dengan pekerjaan atau hobby, maka akan memperoleh banyak pengetahuan. Dan pengetahuan tersebut dijadikan untuk mengembangkan konsep dirinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-family:&quot;"><span>c.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-family:&quot;">Fasilitasi dalam Hubungan Sosial</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Pengetahuan atau informasi-informasi yang diperoleh dengan dari media massa dapat digunakan untuk berdiskusi, bertukar pikiran atau sebagai bahan pembicaraan dengan orang lain dalam hubungan sosial.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-family:&quot;"><span>d.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-family:&quot;">Substitusi Dalam Hubungan Sosial</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Ketika menjalin hubungan sosial, seseorang akan terlibat secara psikologis dan memunculkan hubungan yang akrab. Spek-aspek psikologis yang terjadi dalam hubungan sosial sering kita dapatkan dari isi pesan media massa. Miaslnya, kita larut dalam kesedihan, bahkan sampai mengeluarkan air mata ketika menyaksikan kekejaman ibu tiri dalam sinetron. Atau kita juga begitu membenci seorang tokoh dalam sinetron, seperti tokoh Malin Kundang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-family:&quot;"><span>e.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-family:&quot;">Membantu Melegakan Emosi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Dengan menyaksikan tayangan diskusi di media mengenai suatu masalah yang krusial dan menyangkut orang banyak akan mengurangi atau melegakan emosi. </span><span style="font-family:&quot;" lang="ES-TRAD">Misalnya, kita merasa lega karena pembunuh keluarga “A” dapat diiedntifikasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="ES-TRAD"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-family:&quot;"><span>f.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-family:&quot;">Pelarian Dari Ketegangan Dan Keterasingan<span> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Jika seseorang sedang merasa tegang atau terasing, maka akan merasa tenang dan merasakan ada yang menemani jika ia menonton televisi atau menonton film.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-family:&quot;" lang="ES-TRAD"><span>g.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-family:&quot;" lang="ES-TRAD">Bagian Dari Kehidupan Rutin Atau Ritualisasi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="ES-TRAD">Bagi sebagian orang, membaca surat kabar di pagi hari atau menyimak liputan 6 pagi menjadi sebuah keharusan. Jika sehari saja tidak membaca surat kabar atau menyaksikan berita di televisi seakan-akan ada sesuatu yang hilang dalam rutinitasnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="ES-TRAD"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="ES-TRAD"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-family:&quot;"><span>C.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-family:&quot;">DAMPAK KOMUNIKASI MASSA</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&quot;">Komunikasi massa memiliki dampak baik yang berkaitan dengan kehadirn fisik media massa tersebut mupun dengan isi pesannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-family:&quot;"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-family:&quot;">Dampak Media Massa Secara Fisik</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-family:&quot;"><span>a.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-family:&quot;">Dampak Ekonomis</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Tak terhindarkan lagi, kehadiran media massa menimbulkan dampak ekonomis, yaitu menggerakan sektor usaha seperti produksi, distribusi dan konsumsi jasa media massa. Sebuah stasiun televisi membuka puluhan bahkan ratusan orang untuk menggantungkan hidupnya. Mislnya, membuka kesempatan untuk menjadi reporter, pengarah acara, kameraman, piñata rias, piñata tari, piñata lampu, teknisis dan sebagainya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-family:&quot;"><span>b.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-family:&quot;">Dampak Sosial</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Media massa dapat memberikan perubahan pada struktur atau interaksi sosial. Pemilikan media massa seperti televisi, majalah, surat kabar, radio sekaligus dapat meningkatkan status pemiliknya. Mereka yang berlangganan Kompas atau Republika rata-rata orang yang memiliki tingkat pendidikan tinggi. Dan sebaliknya, mereka yang membaca surat kabar Lampu Merah, biasanya orang-orang dari kelas bawah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-family:&quot;"><span>c.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-family:&quot;">Dampak Pada Penjadwalan Kegiatan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Jadwal sehari-hari kita banyak yang berubah disebabkan oleh acara televisi. Pertandingan sepak bola yang disiarkan pada jam 2 dini hari terpakas telah merubah jadwal tidur penggemarnya. </span><span style="font-family:&quot;" lang="ES-TRAD">Telenovela pada salah satu stasiun televisei telah merubah jadwal harian ibu-ibu, dan sebagainya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="ES-TRAD"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-family:&quot;"><span>d.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-family:&quot;">Medi Massa Sebagai Penyaluran Perasaan tertentu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Media massa seringkali digunakan oleh seseorang untuk menghilangkan perasaan tertentu, seperti kesepian, marah, kecewa, bosan dan lain-lain. Hal itu dilakukan tanpa mempersoalkan pesan apa yang disampaikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-family:&quot;" lang="ES-TRAD"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-family:&quot;" lang="ES-TRAD">Dampak Media Massa Dari Aspek Pesan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-family:&quot;"><span>a.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-family:&quot;">Dampak Kognitif</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Dampak ini terjadi bila ada perubahan pada apa yang diketahui, dipahami, atau dipersepsi oleh khalayak.<span> </span>Dampak kognitif berkaitan dengan penyampaian pesan yang berkenaan dengan pengetahuan, keterampilan, dan sisi kognitif lainnya oleh media. </span><span style="font-family:&quot;" lang="ES-TRAD">Pada era informasi ini, media massa telah menjadi “guru” yang dapat memberikan beragam pengetahuan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="ES-TRAD"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-family:&quot;"><span>b.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-family:&quot;">Dampak Afektif</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Dampak ini terjadi apabila pesan media massa mengubah pada apa yang dirasakan, disenanghi atau dibenci khalayak. Dampak afektif berkaitan dengan nilai, sikap, perasaan atau rangsangan emosional. Misalnya, setelah menyaksikan bencana alam di Aceh (Tsunami) timbul perasaan sedih yang mendalam, dan secara sadar berkeinginan memberikan bantuan kepada mereka yang tertimpa bencana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-family:&quot;"><span>c.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-family:&quot;">Dampak Konatif</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Dampak konatif terjadi apabila isi pesan media massa menimbulkan pola-pola tindakan, kegiatan atau perilaku nyata yang dapat diamati. Misalnya, setelah menyaksikan bencana alam Tsunami di Aceh, anda mendaftarkan diri untuk menjadi sukarekawan dan pergi ke Aceh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Sejatinya, tidak mudah media massa mempengaruhi khalayaknya, terutama pada aspek konatif. Dampak tersebut akan terjadi secara kuat apabila ditunjang oleh beberapa kondisi, yaitu:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;">Exposure</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Dampak media massa akan timbul secara kuat dan cepat apabila sebagian besar khalayak memang telah ter-exposure oleh media massa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;">Kredibilitas</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Dampak media massa akan semakin kuat apabila media massa tersebut memiliki kredibilitas cukup tinggi di mata khalayak. Kredibilitas dalam poengertian media massa tersebut dipercaya.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dadananugrah.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dadananugrah.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dadananugrah.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dadananugrah.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dadananugrah.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dadananugrah.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dadananugrah.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dadananugrah.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dadananugrah.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dadananugrah.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dadananugrah.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dadananugrah.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dadananugrah.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dadananugrah.wordpress.com/40/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dadananugrah.wordpress.com&amp;blog=6769006&amp;post=40&amp;subd=dadananugrah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dadananugrah.wordpress.com/2009/03/28/fungsi-komunikasi-massa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0e7df9731a81ecb08fb83643943a27a6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dadananugrah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MEDIA DALAM KOMUNIKASI MASSA</title>
		<link>http://dadananugrah.wordpress.com/2009/03/28/media-dalam-komunikasi-massa/</link>
		<comments>http://dadananugrah.wordpress.com/2009/03/28/media-dalam-komunikasi-massa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Mar 2009 07:32:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dadananugrah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi Massa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dadananugrah.wordpress.com/2009/03/28/media-dalam-komunikasi-massa/</guid>
		<description><![CDATA[A. PENGANTAR Komunikasi massa telah menjadi fakta sosial dan hadir di tengah-tengah kehidupan kita yang serba kompleks. Komunikasi massa telah menjadi alat yang ampuh untuk menyebarkan informasi secara masal. Salah satu komponen komunikasi massa – media massa – merupakan “guru” bagi masyarakat modern, teman bagi para ABG dalam memilih berbagai produk kecantikan, dan hiburan bagi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dadananugrah.wordpress.com&amp;blog=6769006&amp;post=36&amp;subd=dadananugrah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>A. PENGANTAR<br />
Komunikasi massa telah menjadi fakta sosial dan hadir di tengah-tengah kehidupan kita yang serba kompleks. Komunikasi massa telah menjadi alat yang ampuh untuk menyebarkan informasi secara masal. Salah satu komponen komunikasi massa – media massa – merupakan “guru” bagi masyarakat modern, teman bagi para ABG dalam memilih berbagai produk kecantikan, dan hiburan bagi masyarakat luas.<br />
Sebagai fakta sosial, maka komunikasi massa pada gilirannya menjadi objek<span id="more-36"></span> studi (bidang kajian) yang menantang. Paradigma komunikasi massa sebagaimana diungkapkan Lasswell 1 , who, say what, in which channel, to whom, with what effect, sekaligus memberikan gambaran wilayah atau bidang kajian komunikasi massa. Bidang kajian komunikasi massa meliputi who (komunikator), say what (pesan), in which channel (media), to whom (komunikan/khalayak), dan with what effect (efek).<br />
Penelitian terhadap efek komunikasi massa misalnya, telah dilakukan puluhan tahun yang lalu, terutama dalam konteks komunikasi pembangunan di dunia ketiga 2. Dalam konteks itu, teori difusi inovasi menjadi kajian yang sering dilakukan untuk melihat sejauhmana komunikasi memberikan peran besar dalam pembangunan.<br />
Ketika reformasi bergulir kencang di Indonesia (sejak Mei 1998), kajian terhadap media dengan menggunakan pendekatan kualitatif, seperti analisis framing, analisis wacana, dan analisis isi menjadi trend di tengah-tengah masyarakat kamupus, para pengamat, dan para praktisis media. Dalam konteks politik media memiliki peran yang sangat signifikan untuk membingkai (framing) berbagai kepentingan politik, terutama untuk kegiatan kampanye.<br />
Pada bagian ini, kajian terhadap komunikasi massa akan lebih difokuskan kepada media. Namun demikian, pengkajian terhadap media ini bukan artinya menghilangkan unsur atau komponen lain dalam komunikasi massa. Ini hanya persoalan teknis akademis saja. Sejatinya, pengkajian terhadap komunikasi massa paling tidak melibatkan seluruh unsur komunikasi massa sebagaimana diungkapkan Lasswell tersebut</p>
<p>B. MENGAPA MEDIA MASSA<br />
Saat penulisan modul ini, di Indonesia, khususnya Jakarta, tengah terjadi fenomena yang menarik, yaitu terbitnya majalah Play Boy yang sangat kontroversial. Mengapa demikian ?  Karena majalah Play Boy dari negeri asalnya Paman Sam (Amerika Serikat) merupakan simbol majalah seks, berisi gambar-gambar vulgar yang sangat mungkin menaikan libido kaum adam.  Majalah dengan simbol kelinci berdasi ini kontan mendapat resistensi tinggi dari sebagian masyarakat muslim. Front Pembela Islam (FPI) yang selama ini menjadi ujung tombak perjuangan yang menentang pornografi dan pornoaksi melabraknya, bahkan merusak kantor redaksi majalah orang dewasa tersebut.<br />
Indikasi ini telah sangat jelas mengukuhkan media massa (majalah) sebagai instumen penting dalam komunikasi massa. Dengan sifatnya yang mampu menampilkan gambar menarik (photo artis), segmentatif (hanya untuk kalangan tertentu) menjadi kekuatan tersendiri ketika dijadikan alat penyampai pesan.<br />
Apabila kita menguti pendapat McQuail 3, media massa memiliki kekuatan penting dengan dalil:<br />
1.	Media merupakan industri yang berubah dan berkembang yang menciptakan lapangan kerja, barang dan jasa serta menghidupkan industri lain yang terkait. Media juga merupakan industri tersendiri yang memiliki peraturan dan norma-norma yang menghubungkan institusi sosial lainnya. Di pihak lain, industri media diatur oleh masyarakat.<br />
2.	Media massa merupakan sumber kekuatan—alat kontrol manajemen, dan inovasi dalam masyarakat yang dapat didayagunakan sebagai pengganti kekuatan atau sumber daya lainnya.<br />
3.	Media merupakan lokasi (atau norma)  yang semakin berperan untuk menampilkan peristiwa kehidupan masyarakat, baik yang bersifat nasional maupun internasional.<br />
4.	Media sering kali berperan sebagai wahana pengembangan kebudayaan, bukan saja dalam pengertian pengembangan bentuk seni dan simbol, tetapi juga dalam pengertian pengembangan tata cara, mode, gaya hidup dan norma-norma.<br />
5.	Media telah menjadi sumber dominan bukan saja bagi individu untuk memperolah gambaran dan citra realitas sosial, tetapi juga bagi masyarakat dan kelompok secara kolektif. Media juga menyuguhkan nilai-nilai dan penilaian normatif yang dibaurkan dengan berita dan hiburan.</p>
<p>Pada masyarakat yang semakin modern (cirinya melek huruf), media massa dalam konteks komunikasi massa berfungsi sebagai pemberi informasi, mendidik, menghibur, dan sekaligus mempengaruhi khgalayak 4. Media massa menyuguhkan informasi yang beragam dari berbagai belahan dunia, membarikan hiburan disaat jenuh menghadapi pekerjaan, mendidik khlayak akan keterampilan tertentu, dan mempengaruhi (kognitif, afektif dan konatif) untuk bertindak sesuatu atau merespons sesuatu.<br />
Teori-teori seperti jarum hipodermik, agenda setting, uses and gratification, difusi inovasi, kategori sosial, belajar sosial adalah sejumlah teori media yang menjadikan media massa sebagai ujung tombaknya. Paparan Muhtadi 5,  mengenai keberhasilan salah seorang Presiden Amerika Jimmy carter sepertinya patut disimak. Ia memaparkan:<br />
Kisah sukses Jimmy Carter merupakan salah satu contoh yang menarik. Carter berhasil merebut perhatian massa dalam kampanye politiknya yang dilakukan melalui proses pengelolaan kesan lewat media massa. “Jimmy Carter was media president, “ tulis pakar politik Thomas R. Dye dan L. Harmon Zeigler. Ketika mengawali kampnye kepresidenannya tahun 1974, Carter memang merupakan tokoh yang sama sekali tidak dikenal masyarakat Amerika. Tapi,  seperti dikisahkan Doris A Graber dalam bukunya Mass Media and American Politics (1984:1-3), Carter kemudian berhasil menghadirkan dirinya dalam sosok yang amat simpatik dan menarik perhatian publik  setelah melakukan berbagai ikhtiar melalui media massa. Pers berhasil mensosialisasikan informasi baru dalam bentuk opini publik untuk mengantarkan Carter memasuki Capitol Building.</p>
<p>Lebih menukik kepada media tertulis, menurut Watson (1984:182), media tulis merupakan yang paling efektif. Pesan-pesan komunikasi yang tertulis (printed and written message), pada umumnya memberikan kesempatan yang lebih leluasa kepada komunikan untuk melakukan penelaahan serta penerimaan, baik kognitif, afektif, maupun psikomotorik 6.</p>
<p>C. MEDIA MASSA: Riwayatmeo Doeloe<br />
Meskipun tradisis menyebarkan informasi telah dimulai sejak Kaisar Roma dijabat oleh Gajus Julius Carsar (100 &#8211; 44 sebelum Masehi) dengan cara membuat papan pengumuman yang dipasang di alun-alun bernama Acta Diurna (sangat mungkin diplesetkan menjadi jurnalistik), namun tradisi tulis-menulis mulai menemukan fakta kuatnya ketika tahun 1423 (abad 15) Laurens Jenszoon Konster (Belanda) menemukan huruf lepas (losse letter). Penemuan ini memicu dikembangkannya cara mencetak dengan huruf lepas.  Tahun 1440 seorang ilmuwan Jerman, Johann Cutenberg, dan pada tahun 1457 disempurnakan lagi oleh Peter Schoffer telah mampu mencetak buku dngan bantuaan alat pengganda (mesin cetak) 7.<br />
Dalam perkembangannya, sejarah media massa melibatkan banyak faktor, dari mulai tatanan masyarakat yang senantiasa berubah, politik, ekonomi, ideologi (sistem pers), teknologi (peradaban manusia), dan sebaginya. Dengan demikian, media massa tumbuh dan berkembang seiring dengan kemajuan kompleksitas dan dialektika masyarakat pada zamannya. Media massa tidak tumbuh pada ruang hampa, melainkan tumbuh dan berkembang sesuai dengan tantangan yang terus berkembang tanpa henti.</p>
<p>D. BATASAN MEDIA<br />
Sebagaimana telah dikemukakan pada bagin terdahulu, bahwa media massa (media) memiliki karakteristiknya masing-masing. Media terus berkembang dan terus menunjukkan kesempurnaannya. Mula-mula hanya tercetak (printed), kemudian muncul radio siaran yang lebih menarik dan “hidup”. Radio mampu menyuguhkan suara (audio) yang indah. Lagu-lagu merdu dari beragam penyanyi diperdengarkan sehingga memberikan efek hiburan kepada khalayak pendengar. Bahkan ada sebagian khalayak (terutama ABG) yang baru bias menghapal apabila ditemani oleh suara merdu penyanyi kesayangannya melalui radio.<br />
Waktu berlalu, hari beganti, berbagai ekspeimen dilakukan oleh para ilmuwan. Lagi-lagi dari hasil penalaran dan ekspeimen para pakar (saintis) lahir apa yang saat ini disebt televisi (tele, artinya jauh, sedangkan visi adalah gambar. Jadi, gambar yang dikirim dari jarak jauh). Pelan tapi mpasti, televisi mampu menghadiran sensasi yang lebih dari radio dan media cetak. Bukan saja suara merdu yang mampu dibuat oleh televisi, melainkan televisi mampu menghadirkan gambar yang indah, menarik dan mengesankan (impresif).  Dalam waktu yang bersamaan, televisi menghadirkan suara dan gambar. Pemirsa tidak saja bisa mendengar suara merdu dari penyayi idolanya, tetapi sekaligus bisa melihat bagaimana idolanya itu beraksi di layar kaca<br />
Batasan media yang akan dibahas pada bagian ini adalah lebih merujuk kepada penjelasan yang memberikan perbedaan antara berbagai media.<br />
Apabila mengikuti penjelasan Wahyudi 8,  sifat khusus media massa dibedakan atas tiga sifat, yaitu cetak, radio, dan televisi. Uraian lebih jelas dapat dilihat di bawah ini:</p>
<p>Tabel<br />
Sifat Khusus Media Massa</p>
<p>CETAK	RADIO	TELEVISI<br />
Isi pesan:<br />
TERCETAK	Gelombang Elektromagnetik	Gelombang Elektromagnetik<br />
Dapat dibaca kapan dan di mana saja	Didengar sekilas (transitory)	Didengar dan dilihat sekilas (transitory)<br />
Sampai ke pelanggan tergantung transportasi udara, darat, dan laut	Pemancaran/ Transmisis	Pemancaran/ Transmisis<br />
Menguasai waktu, tidak menguasi ruang	Menguasi ruang, tidak menguasai waktu	Menguasi ruang, tidak menguasai waktu</p>
<p>MEDIA CETAK<br />
Sejarah media modern dimuali sejak publikasi pesan komunikasi menggunakan bantuan mesin cetak, misalnya buku dan surat kabar. Penemuan mesin cetak telah merubah peradaban manusia menjadi lebih modern. Di sini, revolusi pengetahuan manusia dimulai, dan masyarakat termasuk entitas yang berada di dalamnya.<br />
Surat kabar komersial yang lahir pada abad ke 17 tidak lahir dari satu sumber, melainkan gabungan dari kerja sama antara pihak percetakan dengan pihak penerbit. Sebagaimana terjadi sampai saat ini, kemunculan surat kabar pada masa itu berfungsi sebagai alat sosialisasi para penguasa.<br />
Dari waktu ke waktu menunjukkan bahwa media cetak semakin memiliki peran penting dalam kompleksitas masayarakat. Oleh karena itu media cetak (surat kabar dan majalah) tumbuh menjadi surat kabar massa, yang sekaligus disebut sebagai surat kabar komersial. Penyebutan kata komersial didasari atas dua alasan, yaitu: Pertama, sistem kerjanya sebagai badan usaha pencari keuntungan diwarnai oleh sikap monopolitis. Kedua, media massa pada sisi lain sangat tergantung pada pemasukan iklan. Dengan alasan komersial, media cetak harus didesain yang mampu menarik perhatian khalayak. Judul (head line) dibuat dalam ukuran yang besar (baner), dengan kata-kata yang merangsang khalayak untuk segera membacanya.<br />
Media cetak yang pertama kali popular di tengah-tengah masyarakat berkisar pada surat kabar dan majalah. Meskipun sama-sama sebagai media cetak, surat kabar dan majalah memiliki karakteristik yang berbeda, terutama pada desain, tata letak (lay out), kedalaman beritanya, maupun cara penyajiannya. Oleh karena itu, surat kabar memilki kelebihan yang sangat mungkin tidak dimiliki majalah, demikian juga sebaliknya.</p>
<p>Tabel<br />
Karakteristik Media cetak<br />
SURAT KABAR	MAJALAH<br />
Publisitas	Penyajian lebih dalam<br />
Periodesitas	Nilai aktualitas lebih lama<br />
Universalitas	Gambar/foto lebih banyak<br />
Aktualitas	Cover/sampul lebih menarik<br />
Terdokumentasikan</p>
<p>RADIO SIARAN<br />
Selama hampir satu abad lebih keberadaannya, radio siaran telah berhasil mengatasi persaingan keras dengan bioskop, rekaman kaset, televisi, televisi kabel, electronic games dan personal casset palyers. Radio telah beradaptasi dengan perubahan dunia, dengan mengembangkan hubungan saling menguntungkan dan melengkapi dengan media lainnya 9.<br />
Keunggulan radio pada dasarnya terletak pada bentuknya yang bisa disimpan di mana saja serta dibawa ke mana saja.  Radio bisa disimpan di tempat tidur, di dapur, di dalam mobil, bisa di bawa ke tempat-tempat yang tidak memungkinkan bagi media lain, seperti televisi. Artinya, radio mudah di bawa ke tempat manapun dan kapan saja.<br />
Dalam kancah politik, radio siaran dijuluki sebagai kekuatan kelima dengan sebutan the fifth estate (surat kabar kekuatan keempat). Menurut Effendy (1990:63), faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan radio terletak pada:<br />
1.	Daya langsung, yaitu berkaitan dengan proses penyusunan dan penyampaian pesan pada pendengarnya yang relatif cepat.<br />
2.	Daya tembus, yaitu siaran radio menembus ruang dan waktu dalam waktu yang sangat singkat. Misalnya, kita bisa mendengarkan siaran radio dari berbagai negara dan bisa memindahkannya (pindah saluran) dalam waktu cepat/seketika.<br />
3.	Daya tarik, yaitu unsur yang menarik pada radio yang letaknya pada tiga unsur, yaitu musik, kata-kata dan efek suara (sound effect).</p>
<p>Di samping itu, karakteristik yang bisa ditonjolkan oleh radio terletak pada siarannya yang bersifat imajinatif, auditory (didengar), akrab, dan gaya percakapan 10.</p>
<p>TELEVISI<br />
Televisi merupakan media abad 19. beberapa ilmuwan yang memiliki peran besar dalam televisi misalnya, James Clark Maxwell, Heinrich Hertz, dan Marconi. Televisi sebagai pesawat transmisi dimulai pada tahun 1925 dengan menggunakan metode mekanikal dari Jenkins. Pada tahun 1928 General Electronic Company mulai menyelenggarakan acara siaran televisi secara regular. Pada tahun 1939 Presiden FD. Roosevelt tampil di layar televisi. Sedangkan siaran televisi komersial di Amerika Serikat dimuali pada 1 September 1940.<br />
Karakteristik terpenting dari televisi terletak pada kekuatan penyampaian pesannya yang bersifat audiovisual, berpikir dalam gambar, dan pengoperasiannya yang lebih kompleks. Saat ini, dengan semakin canggihnya teknologi televisi (dari cembung ke datar), televisi mampu menghadirkan bioskop di rumah sendiri. Kemampuan suara dan gambar yang mengesankan telah menempatkan televisi sebagai media yang paling diminati oleh khalayak, termasuk oleh perusahaan pemasang iklan.<br />
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam penyajian pesan melalui televisi adalah pemirsa (segmentasi pemirsa), waktu, durasi, metode penyajian (mendidik, menginformasikan, mempengaruhi atau menghibur). Itu semua terkait dengan implikasi siaran televisi terhadap khalayak.</p>
<p>FILM<br />
Film atau motion fictures ditemukan dari hasil pengembangan  prinsip-prinsip  fotografi dan proyektor. Film yang pertama kali diperkenalkan ke publik Amerika  adalah The Life of an Aerican Fireman dan film The Great Train Robbery yang dibuat oleh Edwin S. Porter pada tahun 1903. Film The Great Train Robbery yang durasinya hanya 11 menit dianggap sebagai film cerita pertama, karena telah menggambarkan situasi secara ekspresif, serta peletak dasar teknik editing yang baik.<br />
Karakteristik dan kekuatan film sebagai media massa terletak pada tiga hal, yaitu:<br />
1.	layar yang luas, dengan layar yang luas, film memiliki daya tarik yang kuat, mampu menghadirkan gambar dengan besar bahkan bersifat tiga dimensi.<br />
2.	Pengambilan gambar, sebagai konsekuensi layar lebar, maka pengambilan gambar atau shot dalam film bioskop memungkinkan dari jarak jauh atau extreme long shot, dan panoramic shot, pengambilan pemandangan secara menyeluruh. Kedua shot itu dilakukan untuk memberikan kesan artistik dan menggambarkan suasana yang sesungguhnya, sehingga film menjadi lebih menarik.<br />
3.	Konsentrasi penuh, dengan menggunakan set yang ditata rapi dari mulai tempat duduk, pengatur suhu (AC), sampai kepada pencahayaan memungkinkan semua penonton berkonsentrasi penuh terhadap tayangan film. Dalam keadaan demikian, sangat mungkin emosi kita terbawa. Kita akan terbahak-bahak jika menonton film lucu, atau kita pun akan mencucurkan air mata ketika melihat film sedih.<br />
4.	Identifikasi psikologis, dalam suasana yang larut terbawa oleh alur dan penokohan film, seringkali kita tidak sadar menyamakan (mengidentifikasikan) pribadi kita dengan salah seorang pemeran dalam film itu, sehingga seolah-olah kita lah yang berperan.  Gejala ini menurut ilmuwan sosial disebut sebagai identifikasi psikologis.</p>
<p>E. KOMPONEN CITRA MEDIA<br />
Media massa menghadirkan citra tersendiri bagi khalayak, terutama jika media dihubugkan dengan negara, masyarakat dan kebudayaan, pengorganisasian produksi dan distribusi, cara penggunaannya oleh khalayak, dan dalam konteks lainnya.<br />
Bebarap dimensi yang dapat diidentifikasi yang berkaitan dengan pembentukan citra oleh media berkisar pada:<br />
1.	Dimensi politik. Media terkait dengan politik dan kekuasaan yang pada gilirannya menghasilkan sistem pers (otoroter, komunis, liberal, tanggung jawab sosial).  Di sini, media bisa dikontrol oleh kekuasaan atau dikendalikan, atau menjadi alat penguasa dalam melanggengkan kekuasaannya. Tetapi sebalikny, di negara-negara yang demokratis, media massa digunakan sebagai alat kontrol terhadap kekuasaan. Kebijakan presiden yang tidak berpihak kepada rakyat seringkali dikontrol oleh media masa, terutama melalui editorial, tajuk, dan lain-lain.<br />
2.	Dimensi normatif.  Dimensi ini terutama berkaitan dengan nilai-nilai sosial dan budaya.<br />
3.	Komponen organisasi dan komponen teknologi. Ada tiga aspek yang dipandang penting: (1) menyangkut tekanan utamanya dalam hal pengorganisasian; apakah terletak pada pesan, produksi, ataukah pada distribusi. (2) berkenaan dengan kompleksitas teknologi yang terkait; apakah citra dan kenyataannya memang merupakan teknologi tinggi ?   (3) apakah pengertian profesi orang-orang yang bekerja pada media tersebut ?  Apakah definisinya sudah jelas,  Apakah makin kabur atau masih beraneka ragam ?<br />
4.	Dimensi yang berkaitan dengan kondisi distribusi, penerimaan dan pemakaian.  Beberapa pertanyaan penting dalam konteks ini adalah:  apakah isi ditentukan sebagai suatu unit tersendiri ataukah sebagai seperangkat materi (item)  yang jumlahnya lebih banyak; apakah perhatian diberikan secara individual atau kolektif; apakah isinya dibatasi oleh ruang dan waktu; apakah pemakainya dibatasi oleh waktu dan tempat; dan apakah pemasoknya diselenggarakan dan ditata di sumber pembuatan.<br />
5.	Dimensi menyangkut hubungan pengirim dan pemirsa. Ada empat aspek yang perlu diperhatikan: (1) adanya tumpang tindih antara pengalaman individual dan pengalaman kolektif dalam segi pemakaian. (2) menyangkut sejauhmana eratnya hubungan dengan sumber. (3) berkenaan dengan posisi pengirim ditinjau dari sudut penerima. (4) dimensi “interaktivitas” (kegiatan timbal balik), yakni besar atau kecilnya kesempatan yang diciptakan oleh media untuk memungkinkan adanya komunikasi timbal balik antara pengirim dan penerima.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dadananugrah.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dadananugrah.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dadananugrah.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dadananugrah.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dadananugrah.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dadananugrah.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dadananugrah.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dadananugrah.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dadananugrah.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dadananugrah.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dadananugrah.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dadananugrah.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dadananugrah.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dadananugrah.wordpress.com/36/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dadananugrah.wordpress.com&amp;blog=6769006&amp;post=36&amp;subd=dadananugrah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dadananugrah.wordpress.com/2009/03/28/media-dalam-komunikasi-massa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0e7df9731a81ecb08fb83643943a27a6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dadananugrah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HAKIKAT OPINI PUBLIK</title>
		<link>http://dadananugrah.wordpress.com/2009/03/21/hakikat-opini-publik/</link>
		<comments>http://dadananugrah.wordpress.com/2009/03/21/hakikat-opini-publik/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Mar 2009 09:53:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dadananugrah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini Publik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dadananugrah.wordpress.com/2009/03/21/hakikat-opini-publik/</guid>
		<description><![CDATA[1. Opini Publik dalam Kehidupan Sehari-hari Bagaimana opini publik terhadap masalah kenaikan harga barang-barang di Indonesia sebagai akibat turunnya nilai rupiah terhadap dollar? Opini orang pasti berbeda-beda sesuai dengan siapa yang beropini, apa pekerjaannya, bagaimana pendidikannya, di mana tempat tinggalnya, dan lain sebagainya. Opini orang mengenai kenaikan harga barang-barang apalagi produk atau buatan luar negeri [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dadananugrah.wordpress.com&amp;blog=6769006&amp;post=33&amp;subd=dadananugrah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                              &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--><br />
<strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-family:&quot;"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-family:&quot;">Opini Publik dalam Kehidupan Sehari-hari </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:&quot;">Bagaimana opini publik terhadap masalah kenaikan harga barang-barang di Indonesia sebagai akibat turunnya nilai rupiah terhadap dollar? Opini orang pasti berbeda-beda sesuai dengan siapa yang beropini, apa pekerjaannya, bagaimana pendidikannya, di mana tempat tinggalnya, dan lain sebagainya. Opini orang mengenai <span id="more-33"></span>kenaikan harga barang-barang apalagi produk atau buatan luar negeri yang dikaitkan dengan kurs dollar A.S. hampir sama: semua menyatakan naik ! Pendapat atau opini orang pada umumnya dapat menjadi <em>opini publik. </em>Opini publik itu tidak merupakan jumlah opini-opini dari tiap orang, tapi integrasi pendapat yang ada pada masyarakat. Menurut Bogardus pengintegrasian pendapat berdasarkan diskusi yang dilakukan pada masyarakat disebut <em>opini publik </em>(Bogardus dalam Sastroputro, 1987,53). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:&quot;">Opini dari setiap orang mengenai permasalahan vang aktual atau hangat dibicarakan mempunyai kecenderungan menjadi opini publik. Kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera, spekulasi George Soros dengan membeli dolar di Asia Tenggara dan hal-hal lain yang hangat beritanya/pesan komunikasinya pasti akan mengundang opini orang yang bermacam-macam. Akhirnya akan timbul opini yang hampir sama dari setiap individu sehingga dapat dinamakan sebagai opini publik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:.9pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:&quot;">Opini yang hampir sama itu terjadi karena manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna sesuatu itu bagi mereka (Blumer dalam Nimmo, 1989. 12). Menurut Nimmo hubungan antara makna dan tindakan itu berbentuk lingkaran, yang tiap orang yang beropini tidak tahu bagi siapa yang berbicara lebih dahulu, sebab mereka semua bertindak atau mengutarakan satu sama lain mengenai masalah yang aktual dan menarik perhatian, berdasarkan makna yang diberikannya dan berdasarkan hubungan di antara mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:&quot;">Sementara itu Sasatroputro menyatakan bahwa dalam pembicaraan sehari-hari istilah <em>opini publik </em>sering digunakan untuk menunjuk kepada pendapat-pendapat kolektif dari sejumlah besar orang. Pendapat kolektif ini bukan berarti pendapat itu sebagi jumlahan pendapat pribadi-pribadi, sebab menurut Sastroputro kolektif dalam pengertian opini pbulik, karena kekaburan dalam penggunaan istilah publik pada umumnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:&quot;">Istilah <em>opini publik </em>berasal dari terjemahan bahasa Inggris <em>public opinion. </em>Sesuai dengan asal katanya opini dan <em>publik. Opini adalab pendapat dari seseorang mengenai sesuatu yang menarik perhatian atau minatnya. Publik dalam hal ini adalah kumpulan manusia atau orang yang mempunyai perhatian terhadap sesuatu hal tertentu. <span> </span></em>Hal atau pokok permasalahan dalam pengertian tersebut itu bisa konkrit dan bisa juga abstrak, bergantung kepada tertariknva seseorang. Yang menarik seseorang <a href="http://unt.uk/"><span style="color:windowtext;text-decoration:none;">untuk</span></a> tertarik kepada sesuatu hal itu bermacam-macam, misalnya:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:38.25pt;text-align:justify;text-indent:-20.25pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;">Pokok permasalahan yang sedang hangat dibicarakan. Karena aktual atau hangat, persoalan atau hal yang dibicarakan itu bisa bermacam-macam bidang seperti: sosial, hukum, politik, ekonomi, atau apa saja yang menarik perhatian orang saat itu, sekalipun apa yang hari ini dibicarakan orang, besok. atau lusanya, mungkin tidak menarik lagi, apalagi setelah satu, dua atau tiga minggu kemudian. Persoalan atau masalah yang dibicarakan orang bisa beralih dari satu permasalahan ke permasalahan lain yang lebih aktual lagi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:38.25pt;text-align:justify;text-indent:-20.25pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;">Produk sesuatu pabrikl atau sesuatu yang bisa ditawarkan<sup> </sup>kepada pasar, sehingga mungkin dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan. Jadi produk atau sesuatu hasil yang diperhatikan orang, diminta, dipakai atau dikonsumsi orang dapat mempengaruhi orang untuk membicarakannya. Apalagi kalau produk itu membawa akibat yang merugikan masyarakat pada umumnya, maka akan mengundang pendapat yang bermacam-macam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:38.25pt;text-align:justify;text-indent:-20.25pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;">Orang atau pribadi-pribadi tertentu dengan segala permasalahannya dapat mengundang opini tentang orang tesebut. Orang yang dengan cepat dan berhasil mendapat suatu prestasi, akan ramai dibicarakan. Artis tertentu karena keberhasilannya membawa nama profesinya terkenal ke tingkat nasionai, sebut saja Titik Puspa maka akan segera menarik perhatian orang. Sosok pribadi &#8220;Mandra&#8221; dapat menyebabkan budaya Betawi terangkat dan nama Mandra menjadi banyak penggernarnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:38.25pt;text-align:justify;text-indent:-20.25pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;">Suatu lembaga dengan apa saja bidang yang digelutinya, kalau lembaga tersebut menghasilkan produk atau jasa tertentu <span>yang </span>menguntungkan masyarakat atau rakyat pada umumnya, dapat menyebabkan melambungkan nama lembaga tersebut, sehingga terkenal, dan menarik perhatian orang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:38.25pt;text-align:justify;text-indent:-20.25pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;">Atau hal-hal lain di luar nomor satu sampai empat yang telah diutarakan, dapat saja membuat menarik perhatian sekumpulan orang untuk membicarakannya, apalagi jika hal atau objek yang dimaksud dapat dipertentangkan satu sama lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:14.4pt;text-align:justify;text-indent:-14.4pt;line-height:150%;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:&quot;">Sastroputro <span>membagi atau mengelompokkan publik menjadi beberapa bagian yaitu:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:38.25pt;text-align:justify;text-indent:-20.25pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><em><span style="font-family:&quot;"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></em><!--[endif]--><em><span style="font-family:&quot;">Publik terorganisasi dan Publik tidak terorganisasi </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:38.25pt;text-align:justify;text-indent:-20.25pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><em><span style="font-family:&quot;"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></em><!--[endif]--><em><span style="font-family:&quot;">Publik utama <span> </span>dan Publik sekunder </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:38.25pt;text-align:justify;text-indent:-20.25pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><em><span style="font-family:&quot;"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></em><!--[endif]--><em><span style="font-family:&quot;">Publik besar dan Publik kecil </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:38.25pt;text-align:justify;text-indent:-20.25pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><em><span style="font-family:&quot;"><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></em><!--[endif]--><em><span style="font-family:&quot;">Publik kuat dan Publik lemah </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:38.25pt;text-align:justify;text-indent:-20.25pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><em><span style="font-family:&quot;"><span>5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></em><!--[endif]--><em><span style="font-family:&quot;">Publik bijaksana dan publik tidak bijaksana </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:38.25pt;text-align:justify;text-indent:-20.25pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><em><span style="font-family:&quot;"><span>6.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></em><!--[endif]--><em><span style="font-family:&quot;">Publik penting dan publik tidak penting</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:&quot;">Publik yang terlihat dalam opini publik seperti yang dimaksud dalam pengertian <span> </span><span>yang </span>dipelajari ini, adalah kumpulan orang karena ada sesuatu yang <span> </span>menarik perhatiannya, merupakan bentuk kelompok sosial yang kolektif tetapi <span> </span>tidak diorganisasikan. Jadi publik adalah kelompok atau kumpulan orang karena ada kesamaan perhatian atau kepentingan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-family:&quot;">2. Istilah Opini Publik</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:3.6pt;line-height:150%;"><span style="font-family:&quot;">Kumpulan orang yang dimaksud dalam opini publik ini adalah kelopok-l kelompok orang yang minatnnya sama, Perehatiannya sama terhadap sesuatu hal. Setelah kelompok orang itu tertarik, <span> </span>menaruh kepentingan kepada objek tadi, barulah ada opini di antara mereka. Opini yang tadinya merupakan opini pribadi jika digabungkan jadilah opini kelompok. Opini kelompok inilah yang kemudian menjadi opini publik, karena opini tadi merupakan<span> </span>gabungan opini yang menaruh minat atau kepentingan terhadap sesuatu objek tertentu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:&quot;">Cultif</span><span style="font-family:&quot;"> dan Center</span><span style="font-family:&quot;"> menyatakan bahwa opini publik itu merupakan<span> </span>suatu hasil penyatuan dari pendapat individu-individu tentang masalah umum. Sementara itu William Albig menyatakan opini public merupakan hasil interaksi antar inidividu dalam suatu publik. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:&quot;">Pernytaan kedua pakar itu, yang pertama menyatakan bahwa opini publik merupakan hasil penyatuan opini,<span> </span>seolah-olah merupakan jumlah opini-opini, dan yang kedua menyatakan hasil interaksi individu melalui proses pembicaraan, mungkin debat atau tukar pikiran. <span> </span>Maka dapatlah dikatakan bahwa opini publik itu sebenarnya mengandung kesamaan yaitu terbentuk melalui suatu proses interaksi berupa pembicaraan atau pertukaran pikiran di antara individu-individu yang terlibat dalam kelompok.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:&quot;">Sarjana lain yaitu Emory S. Bogardus dalam bukunya <em>TheMaking of Public Opinion </em>menyatakan bahwa: <em>Opini publik adalah hasil pengintegrasian pendapat berdasarkan diskusi yang dilakukan di dalam masyarakat derrtokratis. </em>Jadi berbeda dengan Cutlip &amp; Center yang mengatakan bahwa opini publik adalah hasil penyatuan, seolah-olah jumlah <span> </span>opini-opini individu, Bogardus tegas menyatakan bahwa opini publik itu adalah hasil pengintegrasian pendapat. Pengintegrasian<span> </span>dalam pengertian di sini berarti hasil suatu pembicaraan, perdebatan, diskusi atau pertukaran pikiran di antara orang-orang yang berada dalam kelompok itu. Ini berarti bagi Bogardus, opini publik adalah: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Hasil      pengintegrasian pendapat, jadi bukan merupakan jumlah pendapat      individu-individu yang dikumpulkan. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Pengintegrasian      yang dimaksud adalah sebagai hasil diskusi tukar pikiran sesama anggota      kelompok publik. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Berlangsung      pada suatu masyarakat yang demokratis.</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:&quot;">Sejalan dengan pendapat Bogardus, demikian pula Kruger Reckless dalam bukunya <em>Social Psychology </em>mengemukakan bahwa opini publik adalah pendapat hasil pertimbangan seseorang tentang suatu hal yang telah diterima sebagai pikiran publik. Menurut Reckless jelas bahwa opini publik itu bukan suatu opini atau pendapat seorang saja, tetapi merupakan hasil pertimbangan, dan hasil pertimbangan itu juga yang telah diterima sebagai pikiran publik. Jadi seperti dikemukakan Bogardus, maka Reckless juga menyatakan opini publik itu bukan hanya sekedar pernyataan seseorang dalam kelompok, tetapi lebih merupakan pendapat kelompok yang sudah mengalarni suatu proses yang lama waktu diputuskan, hingga menghasilkan suatu opini yang betul-betul hasil kelompok yang terdiri dari inividu-individu yang telah menyatu dalam keputusannya. <span> </span>Apa yang dikatakan Bogardus dan Reckless sebenarnya juga dikatakan para sarjana lain, yaitu bahwa opini public itu bukan jumlahan pendapat atau hasil pemikiran seseorang dalam menagnggapi<span> </span>suatu permasalahan, Clyde L. King seorang sarjana Publisistik di Universitas Pensylvania menyatakan bahwa opini publik itu adalah <em>social judgement (penilaian sosial). </em><span>Penilaian </span>sosial mengenai suatu persoalan berarti juga melalui suatu proses<span> </span>di antara individu-individu<span> </span>dalam kelompok, jadi sudah barang tentu hasil dari pertukaran pikiran tidak begitu saja, tetapi sebagai akibat dari suatu hasil interaksi individu dalam kolompok. Dan karena itu merupakan interaksi, sudah barang tentu pula didahului dengan diskusi di antara pengikut-pengikut diskusi tersebut. Dengan demikian opini publik pembentukannya tidak mudah prosesnya, bisa memakan waktu yang cukup lama. Sebab suatu persoalan yang hangat atau aktual tersebut dapat saja dengan segera menjadi buah bibir walaupun untuk menjadi opini publik perlu adanya persetujuan atau kemufakatan semua orang yang ada dalam kelompok itu atau suatu publik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:&quot;">Untuk menjelaskan apa opini publik itu perlulah dikemukakan pendapat Leo Bogart mengenai opini publik. Dalam bukunya <em>Is The A WorlPublic Opinion, <span> </span></em>Bogart menyatakan bahwa opini publik itu merupakan suatu pendapat yang bersifat kolektif <em>(the concept of public opinion as a collective representation) </em>Menurut Bogart opini publik itu timbulnya bukan dari persetujuan kelompok, tetapi timbul dari suatu masalah yang dipertentangkan oleh masing-masing anggota kelompok. Timbulnya pertentangan itu karena adanya perbedaan penilaian terhadap suatu masalah, dan apa yang cdipertentangkan itu karena tiap-tiap anggota dalam kelompok atau publik itu susah mencari kesepakatan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-family:&quot;">3. Ciri-ciri Opini <span> </span>Publik </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:&quot;">Dari pendapat para pakar mengenai opini publik, dapatlah dikatakan, bahwa opini publik merupakan opini yang ditimbulkan oleh adanya empat unsur sebagai berikut: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;">Adanya suatu masalah yang bersifat controversial (dipertentangkan).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;">Adanya publik atau kumpulan orang yang menaruh perhatian kepada suatu masalah itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;">Adanya situasi atau interaksi yang berupa diskusi dan tukar pikiran mengenai masalah yang dipertentangkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;">Adanya pendapat yang terintegrasi atau hasil penilaian kelompok (publik) mengani suatu masalah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:&quot;">Berdasarkan ke empat unsur itu, dapatlah disimpulkan<span> </span>bahwa opini publik adalah pengintegrasian pendapat dari sekumpulan orang yang menaruh perhatian terhadap sesuatu issue atau pokok permasalahan yang<span> </span>sifatnya kontroversial. </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dadananugrah.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dadananugrah.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dadananugrah.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dadananugrah.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dadananugrah.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dadananugrah.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dadananugrah.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dadananugrah.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dadananugrah.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dadananugrah.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dadananugrah.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dadananugrah.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dadananugrah.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dadananugrah.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dadananugrah.wordpress.com&amp;blog=6769006&amp;post=33&amp;subd=dadananugrah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dadananugrah.wordpress.com/2009/03/21/hakikat-opini-publik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0e7df9731a81ecb08fb83643943a27a6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dadananugrah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>FISIKA  SEBAGAI LANDASAN ILMIAH KOMUNIKASI</title>
		<link>http://dadananugrah.wordpress.com/2009/03/21/fisika-sebagai-landasan-ilmiah-komunikasi/</link>
		<comments>http://dadananugrah.wordpress.com/2009/03/21/fisika-sebagai-landasan-ilmiah-komunikasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Mar 2009 09:09:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dadananugrah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dadananugrah.wordpress.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[A. PENGANTAR Syam (2002), merekonstruksi ilmu komunikasi dalam tiga bagian besar: Pertama, akar ilmu komunikasi yang di dalamnya terkait dengan sejumlah kajian mengenai filsafat, fisika, biologi, matematika, sosiologi, psikologi, dan antropologi. Kedua, bagian pohon yang di dalamnya terkait dengan sejumlah kajian komunikasi (teoretik) seperti psiokologi komunikasi, antropologi komunikasi, filsafat komunikasi, biologi komunikasi, teori-teori dalam komunikasi, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dadananugrah.wordpress.com&amp;blog=6769006&amp;post=27&amp;subd=dadananugrah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:200%;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-family:&quot;"><span>A.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-family:&quot;">PENGANTAR</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;">Syam (2002), merekonstruksi ilmu komunikasi dalam tiga bagian besar: <em>Pertama</em>, akar ilmu komunikasi yang di dalamnya terkait dengan sejumlah kajian mengenai filsafat, fisika, biologi, matematika, sosiologi, psikologi, dan antropologi. <em>Kedua</em>, bagian pohon yang di dalamnya terkait<span id="more-27"></span> dengan sejumlah kajian komunikasi (teoretik) seperti psiokologi komunikasi, antropologi komunikasi, filsafat komunikasi, biologi komunikasi, teori-teori dalam komunikasi, yang pengkajiannya pada tataran teoretik. <em>Ketiga</em>, bagian dahan dan ranting, yang di dalamnya terkait dengan sejumlah kajian komunikasi yang bersifat praksis, seperti komunikasi antarpersona, komunikasi kelompok (besar dan kecil), komunikasi publik, komunikasi antarbudaya, dan lain-lain. Komunikasi pada tataran praksis ini disebut Cangara (2002:29-38) sebagai tipe-tipe komunikasi, atau Mulyana (2001) menyebutnya konteks-konteks komunikasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;">Perspektif pohon komunikasi telah menjadi kajian yang sangat penting, mengingat di dalamnya akan memperlihatkan ilmu-ilmu atau sejumlah ilmu yang memperkuat eksistensi ilmu komunikasi. Pembahasan atau kajian ini, sejatinya memiliki keterkaitan (pararel) dengan wilayah kajian filsafat komunikasi yang di dalamnya membahas tentang ontologi, epistemologi, dan aksiologi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;">Kajian tentang pohon komunikasi pun di sisi lain memberikan informasi penting bahwa sesungguhnya ilmu komunikasi dari mula akar hingga ke tataran praksis (cabang-cabang komunikasi) bersifat interdisipliner. Jauh-jauh hari misalnya, </span><span style="font-family:&quot;">Schramm (1980) menyebut komunikasi sebagai ”jalan simpang paling ramai dengan segala disiplin yang melintasinya”. Schramm mengumpamakan ilmu komunikasi<span> </span>sebagai suatu oasis yang merupakan persimpangan jalan, tempat bertemunya berbagai ilmu (<em>musafir</em>) yang tengah dalam perjalanan menuju tujuan ilmunya masing-masing. Eklektisme komunikasi pun dapat dilihat pada konsep-konsep komunikasi yang terus berkembang saat ini. Fisher (1984) misalnya,<span> </span>mengemukakan empat perspektif komunikasi, yaitu perspektif mekanistis, perspektif psikologis, perspektif interaksional, dan perspektif pragmatis (Sobur, 2003:68).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;">Pikiran Fisher, memberi semacam landasan bahwa perspektif komunikasi tidak bisa tidak menghindar dari perspektif mekanistis, di mana komunikasi dipahami sebagai suatu rangkaian yang bersifat mekanik. </span><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Telaah Fisher ini pada gilirannya menempatkan fisika sebagai akar komunikasi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Dalam perkembangannya, nuansa ilmu komunikasi baik pada tataran teoretik maupun praksis sarat akan muatan fisika yang melahirkan sejumlah teori, model dan kajian yang bersifat linier. Sekali lagi. realitas ini tak terhindarkan sebagai wujud derivasi fisika sebagai landasan ilmiah komunikasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:45pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Tulisan ini bertujuan ingin memberikan ”setitik” pemikiran di tengah luasnya samudra komunikasi, tentang fisika sebagai landasan ilmiah komunikasi.<span> </span>Bukan hal yang mudah untuk mencoba merangkainya dalam sebuah jalinan yang utuh, runtut dan logis mengani fisika sebagai landasan ilmiah komunikasi ini. Keterbatasan literatur adalah salah satu penyebab dari berbagai keterbatasan dalam penulisaan ini.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:200%;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-family:&quot;" lang="SV"><span>B.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-family:&quot;" lang="SV">MENGAPA FISIKA ?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:27pt;text-align:justify;"><em><span style="font-family:&quot;" lang="SV">“seorang pelukis memang dapat mengagumi alam raya melalui keindahan seni. Seorang penyair mengungkapkannya melalui melalui bait-bait puisi atau seorang biduan melalui lagu dan nyanyian. Namun, hanya melalui seorang ilmuwanlah alam semesta dapat diungkap jauh lebih dalam dan terperinci”.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:200%;"><em><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Sebelum berbicara tentang fisika sebagai landasan ilmiah komunikasi, kita perlu mengetahui terlebih dahulu apa itu fisika. Secara umum dan sederhana diketahui bahwa fisika adalah ilmu yang mempelajari tentang zat alam dan energi. Maka jika dikaitkan dengan komunikasi, maka fisika komunikasi berarti k</span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">omunikasi yang berhubungan dengan ilmu </span><span style="font-family:&quot;" lang="SV">yang </span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">mempelajari tentang zat dan energi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Ilmu fisika merupakan dasar utama dan penting dalam kemajuan teknologi. Tidak dapat dipungkiri bahwa hampir seluruh kemajuan teknologi saat ini berasal dari konsep-konsep ilmiah yang disusun para ilmuwan fisika. Ilmu fisika telah melahirkan dua revolusi penting dunia, yaitu revolusi industri sejak dibangunnya mesin uap oleh James Watt dengan prinsip-prinsip termodinamika, dan revolusi informasi sejak diciptakannya semikonduktor sebagai bagian terpenting dari prosesor dalam komputer (Ishaq, 2007:9), sehingga tidak berlebihan jika dikatakan bahwa fisika adalah jantung dari kemajuan teknologi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Selanjutnya Ishaq mengatakan bahwa ilmu fisika pada dasarnya selalu berhubungan dengan pengukuran, baik pengukuran secara langsung, seperti waktu, panjang dan massa, ataupun pengukuran secara tidak langsung, seperti mengukur energi, gaya dan kecepatan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Umumnya para Filsuf komunikasi sepakat akan adanya dua aliran yang berkaitan dengan pandangan tentang pemaknaan meskipun ada perbedaan dalam penggambarannya, yaitu aliran fisika dan aliran mental. Menurut Syam (2002:34), aliran fisika memandang pemaknaan sebagai unit dari dunia fisik yang ada secara mandiri dari setiap aktivitas manusia, sedangkan aliran mental memandang pemaknaan <em>two eksis</em> sebagai unit-unit tetapi hanya dalam kesadaran unik manusia. Pemaknaan menurutnya, merupakan kepingan-kepingan eksistensi mental manusia yang dapat dipandang sebagai kesan, konsep, maksud atau ide.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Saat kita berkomunikasi, disitu ada energi yang mendorong pesan kita kepada penerima pesan, melalui udara, angin atau energi dari tubuh kita. Informasi yang kita berikan itu juga merupakan sinyal yang dikirimkan dan diterima. Sinyal itupun dikirim melalui udara.<span> </span>Namun, tidak banyak yang menyadari bahwa udara merupakan salah satu zat yang diciptakan oleh Allah, yang juga dapat mengkomunikasikan sesuatu kepada kita. Inilah yang sebenarnya disebut Fisika sebagai ilmu Allah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Sangat disayangkan, tidak banyak yang menyadari bahwa sebenarnya fisika merupakan ilmu Allah Juga. Menurut Ishaq (2007:9), fisika adalah “ilmu yang secara luas mengkaji ayat-ayat Allah, yang terbentang di alam semesta”. Ayat-ayat yang dimaksud disini adalah ayat-ayat <em>kauniyah. </em>Dengan demikian, jika kita mempelajari fisika, berarti kita sedang membaca ayat-ayat Allah. Selain dapat dibaca, ayat-ayat Allah juga berkomunikasi kepada kita, dan memberikan informasi kepada manusia. Selama ini kita hanya menyadari bahwa setiap hari matahari terbit disiang hari, dan<span> </span>bulan di malam hari, seakan itu adalah rutinitas mereka sehari-hari. Kita lupa bahwa itu merupakan informasi. Jika matahari terbit, itu adalah sebuah pesan bahwa hari menjelang siang, dan jika bulan muncul, itu adalah sebuah pesan bahwa hari menjelang malam. Matahari juga dapat memberikan informasi waktu sholat kepada umat Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Marilah kita mulai merenungkan alam semesta, mulai dari langit, bumi, gunung, hujan atau angin. Hujan yang sering membuat kita kesal karena tidak bisa berangkat ke kantor, ternyata tidak dengan begitu saja turun ke bumi. Menurut Ishaq (2007:3), hujan jatuh ke langit dengan kecepatan yang terukur, yang sama sekali tidak membahayakan manusia saat jatuh menghunjam ke bumi. Hujan meluncur dalam tetesan-tetesan kecil, yang kemudian meresap ke dalam tanah, diserap benih, lalu menumbuhkan dan menyuburkan tanaman, tumbuhan, bunga, biji dan buah-buahan. Tetesan hujan yang jatuh setinggi 1.500 meter turun dengan kecepatan yang tidak membahayakan saat tiba di bumi. Padahal kalau dihitung, jika ada benda yang jatuh dengan ketinggian yang sama, maka benda tersebut akan jatuh dengan kecepatan ratusan km/jam yang tentu saja sangat berbahaya. Allah berfirman : “Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya kami benar-benar berkuasa menghilangkannya” (QS. 23:18). Begitu pula dengan angin. Angin berhembus membawa benih-benih tumbuhan, mengarak awan yang membawa butiran hujan. Kita tidak pernah memikirkan hal ini. Selama ini kita hanya memikirkan dan mengagungkan kecanggihan teknologi yang membuat kita terkagum-kagum akan kehebatan orang barat. Padahal, kecanggihan teknologi tersebut tidak bisa terlepas dari keberadaan alam melalui pemanfaatan ionosfer, gelombang elektromagnetik, barang tambang, minyak dan gas di perut bumi. Hal ini juga dipertegas oleh ayat al-Qur’an surat 40 ayat 57 yang artinya: “Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Adanya alam semesta tidak datang dengan sendirinya, tapi pasti ada yang menciptakan. Menurut Paul Davies, seorang ahli fisika (dalam Ishaq, 2007:4), terjadinya alam semesta berawal dari sebuah ledakan besar (<em>big bang). </em>Dari ledakan besar inilah muncul keteraturan dan kehidupan. Ini merupakan keajaiban yang mungkin terjadi karena perencanaan “penyetelan” perhitungan dan pengukuran yang sangat cermat. Bukan hal yang aneh jika sesuatu benda yang pecah atau meledak akan menjadi hancur berantakan, namun tidak terjadi pada alam semesta. Dia tidak hancur berkepingan, tapi bahkan hasilnya keteraturan dan kehidupan seperti yang kita rasakan sekarang ini. Hal ini karena ada Allah SWT yang menciptakannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Semua yang diciptakan Allah sudah melalui proses perhitungan yang tepat, jauh sebelum para ilmuwan mengetahuinya dan menghitungnya. Bumi diciptakan dengan ukuran yang tepat, berjarak 150 juta Km dari matahari. Jika jarak bumi dengan matahari lebih dekat ke matahari, maka pastilah planet yang kita diami ini akan sangat panas, bahkan menjadi hangus seperti Merkurius. Sebaliknya jika terlalu jauh, maka temperatur bumi akan menjadi sangat dingin. Menurut perhitungan para ahli, jika 10 % saja panas yang dipancarkan ke bumi berkurang, maka hal itu akan membuat permukaan bumi ditutupi es setebal beberapa meter. Selain itu Allah juga telah menyiapkan segalanya dengan cermat. Allah menciptakan atmosfer untuk melindungi bumi dari radiasi cahaya ultraviolet (UV) matahari, yang berguna bagi kesehatan manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Allah SWT telah menyatakan dalam al-Qur’an bahwa Dia telah menciptakan alam semesta sedemikian teraturnya dan menurut ukurannya, sehingga mustahil tidak ada yang menciptakan. Sebagaimana yang tertuang dalam QS. 15: 19 yang berbunyi: “Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran” dan QS. 13:17 yang berbunyi: “Allah telah menurunkan air dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya..”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Semua yang kita lihat di alam semesta ini mengkomunikasikan kepada kita bahwa Allah itu ada, Allah lah yang menciptakan semuanya. Mampukah seorang manusia membuat gunung yang tidak bisa menggoyangkan manusia, membuat langit tanpa tiang dan mengatur peredaran matahari dan bulan untuk menentukan waktu? Para ilmuwan mempelajari fisika bukan untuk meniru atau mencari jawaban cara membuatnya, tetapi justru untuk menambah keyakinan pada pencipta alam raya ini. Selain itu juga, apabila kita sudah dapat memahami alam semesta, maka alam semesta pun akan dapat kita ajak berkomunikasi, dan membantu kita dalam kondisi apapun. Seringkali kita mengalami kondisi kritis, saat dimana kita mulai merasa terjepit, perlu mendapat bantuan dari orang lain. Namun apa yang terjadi jika saat kita mengalami kondisi kritis itu, tidak ada orang yang bias membantu kita? Maka jawabnya alam semesta lah yang membantu kita, yang oleh Prof Yohanes Surya, seorang ahli fisika disebutnya dengan istilah <em>Mestakung</em> (Alam semesta mendukung).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:1cm;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;">Salah satu contoh mestakung adalah seperti yang dialami Gultom (Surya, 2006: 10) bahwa saat kecil dia sangat nakal. </span><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Suatu hari dia mencuri mangga tetangganya, dan ketahuan oleh si pemilik mangga. Maka tetangganya itu mengeluarkan anjingnya dan menyuruh anjing itu mengejar Gultom. Gultom lari katakutan, kemudian tanpa disadarinya, dia melompat <span> </span>setinggi hamper 1,5 meter. Suatu hal yang luar biasa, Gultom mampu melompat sedemikian tingginya. Mengapa hal ini bias terjadi? Ini karena saat Gultom ketakutan, ia sedang berada pada posisi kritis. Saat Gultom dalam kondisi kritis, terjadilah mestakung. Molekul-molekul dalam sel tubuh Gultom mengatur dirinya, sehingga menghasilkan energi ekstra yang membuat Gultom mampu melompat setinggi 1,5 meter, dan terbebas dari kondisi kritis. Padahal, jika dalam kondisi biasa, Gultom tidak mampu melompat sedemikian tingginya. Inilah mestakung. Alam semesta dapat memahami kondisi kita, dan dapat dengan segera menolong kita. Maka, jangan pernah takut dengan fisika, apalagi meremehkannya. Kita perlu lebih memahami fisika, sebagai ilmu Allah dan sebagai landasan ilmiah ilmu komunikasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:200%;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-family:&quot;" lang="SV"><span>C.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-family:&quot;" lang="SV">MENELUSURIU JEJAK FISIKA DALAM KOMUNIKASI</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Awalnya, mungkin tidak banyak ilmuwan yang perduli terhadap kontribusi fisika dalam pendewasaan ilmu komunikasi. Untuk kasus di Indonesia, jejak langkah fisika sebagai akar komunikasi ini didengungkan oleh Prof. Nina Wiangsig Syam (Guru Besar Ilmu Komunikasi Unpad) dengan mencoba membuat terobosan ”eksentrik” yakni pohon komunikasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Syam (200234-38), mengungkap pemaknaan dalam komunikasi dalam dua bagian besar: <em>Pertama</em>, aliran fisika yang memandang pemaknaan sebagai unit (bagian) dari dunia fisik yang ada secara mandiri dari setiap aktivitas manusia. Dalam tataran ini, pemaknaan dapat dipahami sebagai data, sikap, ataupun informasi<em>. Kedua</em>, aliran mental, yang memandang pemaknaan<em> two</em> eksis sebagai unit-unit tetapi hanya dalam kesadaran unik manusia. Pemaknaan sejatinya merupakan kepingan-kepingan eksistensi mental manusia yang dapat dipandang sebagai kesan, konsep, maksud atau ide. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Jejak langkah fisika dalam komunikasi begitu sangat kuat mempengaruhi para ilmuwan komunikasi. Di samping terdapat aliran mekanistik yang secara implisit memiliki sifat-sifat fisika (linier, satu arah, mekanistis), juga terdapat beberapa konseptualisasi komunikasi yang secara eksplisit bergenre fisika. Beberapa konseptualisasi bergenre fisika ini, misalnya:</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">David K. Berlo</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Berlo, membuat alur komunikasi dengan model S – M – C – R , komunikasi terdiri dari rangkaian: <em>source</em> (sumber), <em>message</em> (pesan), <em>channel </em>(saluran), dan <em>receiver</em> (penerima). Komunikasi pada dasarnya sebuah perjalanan informasi atau data yang dimulai dari sumber hingga ke penerina (Mulyana, 2001151).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Claude Shannon dan Warren Weaver</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Shannon merupakan seorang insinyur pada<span> </span><em>Bell Telephone</em>, karenanya ia berkepentingan dengan penyampaian pesan yang cermat melaui telepon. Kedua ilmuwan ini memperkenalkan konsep redudancy dan entropy yang diukurnya secara kuantitaif. Redudancy adalah pengulangan kata untuk membumbui pembicaraan leawt radio atau telepon akan menyebabkan rendahnya entropy. Artinya, ketepatan<span> </span>signal (pesa) yang dikirim melalui kawat atau gelombang udara akan berkurang. Misalnya, bahasa yang indah dapat membangkitkan rasa persaudaraan yang lebih akrab (lihatMcQuail &amp; Sven Windhal, 1985).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:center;line-height:200%;" align="center"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="SV">D. <span> </span>FISIKA-isme: Telaah Paradigmatik </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"><span> </span>Fisika<span> </span>sebagai akar ilmu komunikasi terasa begitu kuat melahirkan paradigma komunikasi yang mekanistik-linier. Paradigma ini beranggapan bahwa komunikasi merupakan proses penyampaian pesan (<em>messag</em>e) melalui saluran tertetu untuk sampai kepada penerima (<em>receiver</em>). Pada wilayah metodologis, pengaruh fisika ini nampak dalam bentuk-bentuk penelitian yang bersifat kuantitatif-deduktif.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"><span> </span>Pengaruh fisika ini pun nampak kuat pada dataran konseptualisasi komunikasi dan sejumlah teori yang dilahirkannya. Pada ranah konseptualisasi, mucul beberapa definisi komunikasi yang merefleksikan linieritas, misalnya:</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="DE">Bernard Berelson dan Gary A. Steiner</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="DE">Komunikasi: transmisi informasi, gagasan, emosi, keterampilan dan sebagainya, dengan menggunakan simbol-simbol – kata-kata, gambar, figur, grafik, dan sebagainya. Tindakan atau proses transmisi itulah yang biasanya disebut komunikasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="DE"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="DE"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="DE"> </span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="DE">Theodore M. Newcomb</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="DE">Setiap tindakan komunikasi dipandang sebagai suatu tindakan transmisi informasi, terdiri dari rangsangan yang diskriminatif, dari sumber ke penerima (Mulyana, 2001:62).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="DE"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="DE"><span> </span>Sebagai konsekuensi paradigmatik seperti itu (mekanistis-linier), pada akhirnya bermuara kepada proses pemaknaan yang cenderung kaku. Di lain pihak derivasi dari paradigmatik ini melahirkan cara pandang yang brebeda dalam dua hal: <em>Pertama</em>, cara pandang terhadap teori, di mana secara diameteral teori komunikasi berada pada dua kutub yang berbeda, yaitu kutub teoi-teori subjektivis dan kutub teori-teori objektivis. Apabila dilihat lebih jauh ke dalam, kutub teori objektivis “dicurigai“ sebagai akibat dari kuatnya pengaruh fisika dalam komunikasi. Sedangkan kutub subjektivis, merupakan perwujudan dari fenomenologi yang banyak dilahirkan oleh ilmu-ilmu sosial.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><em><span style="font-family:&quot;" lang="DE">Kedua</span></em><span style="font-family:&quot;" lang="DE">, cara pandang terhadap manusia dalam komunikasi. Orang-orang yang diilhami oleh fisika cenderung memandang bahwa manusia sebagai sesuatu yang pasif, dapat diramalkan, dikendalikan, perubahannya disebabkan oleh<span> </span>kekuatan-kekuatan sosial di luar diri mereka, dan lain sebaginya. Sedangkan pada ranah lain (subjektivis-fenomenologi), manusia bersifat unik, aktif, memiliki motivasi, dinamis, kehendak, serta mampu melakukan perubahan lingkungan disekeliling mereka (Mulyana, 2001:22).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="DE">Pada wilayah yang lebih praksis, dominasi fisika sebagai akar ilmu komunikasi tidak mungkin untuk dinafikan. Perkembangan teknologi komunikasi sebagai kekuatan orde/gelombang ketiga (<em>Third Wave</em>) sebagaimana dikatakan McLuhan sebagai puncak kemanagan sains dan teknologi yang didasarkan atas prinsip-prinsip fisika. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="DE">Ketika media massa sudah menjadi kekuatan keempat dalam sistem politik Indonesia, penelitian-penelitian yang didasarkan atas pengaruh teknologi komunikasi massa sebagaimana tercermin dalam Agenda Setting, teori kultivasi, Social Learning Theory, Jarum Hipodermik, model komunikasi satu tahap dan dua tahap menjadi kajian tetap menarik. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="DE"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:22.5pt;text-align:center;text-indent:-22.5pt;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:22.5pt;text-align:center;text-indent:-22.5pt;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:22.5pt;text-align:center;text-indent:-22.5pt;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:22.5pt;text-align:center;text-indent:-22.5pt;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:22.5pt;text-align:center;text-indent:-22.5pt;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:22.5pt;text-align:center;text-indent:-22.5pt;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:22.5pt;text-align:center;text-indent:-22.5pt;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:22.5pt;text-align:center;text-indent:-22.5pt;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Kepustakaan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:200%;" align="center"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Burhan Bungin, 2006. Sosiologi Komunikasi: teori paradigma, dan diskursus tehnologi komunikasi di masyarakat. Jakarta: kencana Prenada Media Group. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Cangara, Hafied, 2002. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: Rajawali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN">Ishaq, Mohammad. 2007. Fisika (Menguak rahasia Alam </span><span style="font-family:&quot;" lang="SV">dengan Fisika). Jakarta: Departemen Agama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;"><span style="font-family:&quot;">Linda Smith dan William Reaper, 2000.<span> </span></span><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Ide-Ide: Filsafat dan Agama dulu dan sekarang. Jogjakarta: Kanisius. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Mahdi Ghulsani, 1995.<span> </span>Filsafat Sains Menurut Al-Quran,<span> </span>bandung: Mizan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">McQuail &amp; Sven Windhal, 1985. Model-Model Komunikasi. Jakarta: Uni Primas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Mulyana, Deddy, 2001. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: Rosda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Mulyana, Deddy, 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: rosda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:1cm;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Russel, Betrand, 2004.<span> </span>Sejarah Filsafat Barat : Kaitannya dengan kondisi sosial politik zaman kuno hingga sekarang. Jogjakarta</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Syam, Nina Winangsih, 2002. Rekonstruksi Ilmu Komunikasi Perspektif Pohon Komunikasi dan Perdeseran Paradigma Komunikasi Pembangunan Dalam Era Globalisasi. Bandung: ITB.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;"><span style="font-family:&quot;">Severin, Warner J. &amp; James W. Tankard, Jr., 2005. </span><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Teori Komunikasi, Sejarah, Metode, dan Terapan di dalam Media Massa. Jakarta: Prenada</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:1cm;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Surya, Yohanes. 2006. Mestakung (Rahasia Sukses Juara Dunia Olimpiade Fisika). Bandung: Hikmah, PT. Mizan Pu</span><span style="font-family:&quot;">blika.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:22.5pt;text-align:justify;text-indent:-22.5pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">West, Richard &amp; Lynn H. Turner, 2007. </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="SV">Teori Komunikasi, Teori dan aplikasi. Jakarta: salemba Empat.</span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> Littlejohn, Stephen W.<span> </span>dan Karen A. Foss, <span>Theories of Human Communication</span>, USA: Thoman Waadsworth,2008, edisi kedelapan</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:22.5pt;text-align:justify;text-indent:-22.5pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Rakhmat, Jalaludin, <span>Psikologi Komunikasi</span>, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:22.5pt;text-align:justify;text-indent:-22.5pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Saefullah, Ujang, <span>Kapita Selekta Komunikasi, Pendekatan Budaya dan Agama</span>, Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2007</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:22.5pt;text-align:justify;text-indent:-22.5pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Syam, Nina W., <span>Rekonstuksi Ilmu Komunikasi Perspektif Pohon Komunikasi dan Pergeseran Paradigma Komunikasi Pembangunan dalam Era Globalisasi</span>, Bandung Unpad, 2002</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:22.5pt;text-align:justify;text-indent:-22.5pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Severin, Werner J. <span>Teori Komunikasi, Sejarah, Metode dan Terapan di dalam Media Massa, </span>Jakarta: Kencana, 2007</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:22.5pt;text-align:justify;text-indent:-22.5pt;line-height:150%;"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Engkus Kuswarno, M.S, </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Komunikasi Hado, </span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Pikiran Rakyat 12</span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> Februari<span> </span></span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">2007</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<div><!--[if !supportFootnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"></a><span lang="SV"> </span></p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn2" href="#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span lang="SV"> Mahdi Ghulsani, Filsafat Sains Menurut Al-Quran,<span> </span>bandung : Mizan, 1995. hlm. 92-93</span></p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dadananugrah.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dadananugrah.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dadananugrah.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dadananugrah.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dadananugrah.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dadananugrah.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dadananugrah.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dadananugrah.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dadananugrah.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dadananugrah.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dadananugrah.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dadananugrah.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dadananugrah.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dadananugrah.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dadananugrah.wordpress.com&amp;blog=6769006&amp;post=27&amp;subd=dadananugrah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dadananugrah.wordpress.com/2009/03/21/fisika-sebagai-landasan-ilmiah-komunikasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0e7df9731a81ecb08fb83643943a27a6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dadananugrah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>EPISTEMOLOGI:  Melacak Sumber Ilmu Barat &#8211; Islam</title>
		<link>http://dadananugrah.wordpress.com/2009/03/21/epistemologi-melacak-sumber-ilmu-barat-islam/</link>
		<comments>http://dadananugrah.wordpress.com/2009/03/21/epistemologi-melacak-sumber-ilmu-barat-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Mar 2009 08:57:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dadananugrah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dadananugrah.wordpress.com/2009/03/21/epistemologi-melacak-sumber-ilmu-barat-islam/</guid>
		<description><![CDATA[A. PENGANTAR Perdebatan sumber ilmu menurut filosof Barat dan filosof Islam merupakan tema perenis. Betapa pun diskursus ini berlangsung berabad-abad, tetapi masih banyak ilmuwan yang berada pada posisi ekstrem dalam memandang sumber atau jalur ilmu tersebut. Banyak kalangan, terutama yang bermadzhab ke Barat tetap keukeuh bahwa sumber ilmu atau jalan memperoleh ilmu (epistemologi) hanya didasarkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dadananugrah.wordpress.com&amp;blog=6769006&amp;post=22&amp;subd=dadananugrah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:200%;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:200%;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:14pt;line-height:200%;font-family:&quot;" lang="ES"><span>A.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-size:14pt;line-height:200%;font-family:&quot;" lang="ES">PENGANTAR</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Perdebatan sumber ilmu menurut filosof Barat dan filosof Islam<span> </span>merupakan tema perenis. Betapa pun diskursus ini berlangsung berabad-abad, tetapi masih banyak ilmuwan yang berada pada posisi ekstrem dalam memandang sumber atau jalur ilmu tersebut. Banyak kalangan, terutama yang bermadzhab ke Barat tetap <em>keukeuh </em><span> </span>bahwa sumber ilmu atau jalan memperoleh ilmu (epistemologi) hanya didasarkan kepada (1) empirisme, (2) rasionalisme, dan (3) yang berupaya menggabungkan keduanya menjadi dualisme.<span id="more-22"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Sementara ilmuwan lain, berada pada ekstrem lain, yaitu memandang bahwa sumber ilmu atau jalar dalam memperoleh ilmu (epistemologi) berdasarkan tuntunan illahi (wahyu). Apabila demikian, lalu di mana letak letak titik singgungnya ? <span> </span>Apakah kedua jakur memperoleh dalam memperoleh ilmu tersebut dapat ”dikawinkan” sehingga muncul apa yang disebut Prof. Nina W. Syam sebagai paradigma <em>integrated science</em>. Berbagai kemungkinan bisa terjadi, mengingat karena wilayah nalar atau keilmuan berada pada wilayah profan yang memungkinakn setiap saat berkembang sesuai dengan konteksnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Tulisan ini ingin mengungkap setitik dari perdebatan yang nyaris klasik tersebut. Mencoba mencairkan suasana ”beku” sebagai akibat ”baku hantam” antara Barat dan Timur.<span> </span>Paradigma alternatif perlu dikaji dan dolahirkan, dan Prof. Nina W. Syam telah memulainya dengan melontarkan gagasan integrasi ilmu. Hal itu berangkat dari asumsi bahwa sejatinya tidak perlu ada pertentangan antara Barat dan Timur pada ranah epistemologi. Kita dapat saja berseloroh: ”Tuhan saja tidak pernah ribut mengenai epistemologi Barat maupun Timur&#8230;&#8230;” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="SV"><span>B.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="SV">SEKILAS TENTANG EPISTEMOLOGI</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Menurut Runes (1971:94) dalam Dictionary of Philosophy, kata epistemologi berasal dari kata <em>epistem</em>e di tambah <em>logos, theory</em>. Dari akar kata ini ditarik rumusan epistemologi sebagai berikut: Epistemologi sebagai cabang fislasat yang meyelidiki tentang keaslian, pengertian, struktur, metoda dan validitas ilmu pengetahuan. Selanjutnya Nasution (1973:10) memberikan arti epistemologi: Episteme berarti pengetahuan dan epistemologi ialah ilmu yang membahas tentang (a) apa itu pengetahuan, dan (b) bagaimana cara memperoleh pengetehuan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Rumusan lain tentang epistemologi dikemukakan oleh Suhono yang menyatakan, bahwa epistemologi adalah teori mengenai hakekat ilmu pengetahuan, ialah bagian filsafat mengenai refleksi manusuia atas kenyataan (Pranaka, 1979:132).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Dari beberapa kutipan di atas nampak dengan jelas, bahwa pada dasarnya epistemologi bersangkutan dengan masalah-masalah yang meliputi: (a) <em>filsafat</em>, yaitu sebagai cabang filsafat yang berusaha mencari hakekat dan kebenaran pengetahuan, (b) <em>metoda</em>, sebagai metoda bertujuan mengantar manusia untk memperoleh pengetahuan, dan (c) <em>sistem</em>, sebagai suatu sistem bertujuan memperoleh realitas kebenaran pengetahuan itu sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Lalu apa yang dimaksud dengan epistemologi Islam ?<span> </span>Epistemologi Islam adalah usaha manusia untuk menelaah masalah-masalah obyektivitas, metodologi, sumber serta validitas pengetahuan secara mendalam dengan menggunakan subyek Islam sebagai titik tolak berpikir.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Rumusan tersebut membawa dua konsekuensi penting. Di satu sisi epistemologi Islam (arti luas) membahas masalah-masalah epistemologi pada umumnya, sedangkan di sisi lain (ati khusus), epistemologi Islam menyangkut pembicaraan mengenai wahyu dan ilham sebagai sumber pengetahuan dalam Islam (Amin, 1983:11)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"><span> </span>Amin menekankan bahwa perbedaan yang paling mendasar antara epitemologi Barat dan epistemologi Islam terletak pada sumber pengetahuan yang tidak saja bersumber dari akal (rasionalisme) dan pengalaman (empirisme), tetapi<span> </span>pengetahuan pun (dalam Islam) bersumber dari wahyu dan ilham. Wahyu merupakan sumber pertama (primer) bagi Nabi/Rasul untuk memperoleh pengetahuan, sedangkan bagi manusia wahyu merupakan sumber sekunder. Ilham dapat menjadi sumber primer pengetahuan manusia karena dapat diterima oleh setiap manusia yang diberi anugrah Allah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"><span> </span>Dalam Al-Qur’an, Allah menginformasikan mengenai pengetahuan Nabi Muhammad bersumber dari wahyu:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Katakanlah: “Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat kepadaku dan tidak (pula) terhadapmu, aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seoang pemberi peringatan yang menjelaskan” (QS.46:9).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">….aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku (QS. 6:50).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"><span> </span>Dari aspek bahasa (etimologi), wahyu<span> </span>berasal dari kata Arab <em>al-wahy</em> yang berarti suara, api dan kecepatan. Dalam tulisan Husaini (1931:93),<span> </span>wahyu diartikan sebagai inspirasi (<em>what is the which gives a sign which does the function of expresión. </em></span><em><span style="font-family:&quot;">From expression it is possible to understand the meaning intended by it; and iit on this account, that it is called an expression as opposed to the sign which is wahy</span></em><span style="font-family:&quot;">).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Pengertian di atas sejatinya<span> </span>memberikan pemahaman bahwa wahyu adalah firman Allah, sedangkan isi wahyu adalah pengetahuan yang diturunkan oleh Allah kepada manusia yang telah ditunjuk atau dipilih sendiri oleh Allah, dalam hal ini Nabi atau Rasul.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;"><span> </span>Pengetahuan lain yang didapatkan oleh manusia bisa bersumber dari ilham. Sebagian pendapat mengatakan<span> </span>bahwa ilham pada dasarnya sama dengan wahyu yang disampaikan melalui hati sanubari. Pengertian ini dilandaskan kepada pendapat Al-Ghazali yang menyatakan bahwa ilham berupa cahaya yang jatuh di atas hati nurani. Namun pada sisi lain cara penurunan wahyu dan ilham memiliki perbedaan, yakni wahyu disampaikan melalui utusan (nabi/rasul), sedangkan ilham tidak melalui perutusan. Secara bahasa, ilham diartikan sebagai “bisikan (petunjuk) yang datang dari hati” (Purwadarminta, 1949:38).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="SV"><span>C.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="SV">EPISTEMOLOGI BARAT: Melacak Sumber Ilmu Filosof Barat</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Dalam sejarahnya, perkembangan ilmu pengetahuan dibagi dalam tiga babak (periodesasi). <em>Pertama</em>, sebelum 15.00 tahun SM (Sebelum Masehi) dengan ciri utama manusia belajar dari alam sekitarnya. </span><span style="font-family:&quot;" lang="ES">Manusia menemukan cara-cara untuk tetap bertahan dengan cara mempelajari alam. Dengan cara seperti itu, manusia mampu “menundukan” alam melalui daya nalarnya yang pada saat itu masih dapat dikatakan terbatas. Corak masyarakat pada saat itu bercirikan budaya hidup <em>nomade</em> (berpindah-pindah). Tujuan hidup <em>nomade</em> ini pun masih tetap didominasi oleh pemenuhan hidup, mencari sumber-sumber energi baru yang dapat menopang dan mempertahankan hidupnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="ES">Sekitar 15.000 – 600 tahun SM, perioode awal, peradaban manusia telah mulai mengenal membaca, menulis dan berhitung. Menurut Wahyudi (1991:67), manusia telah berusaha mengirim pesan dalam bentuk patán-pahatan atau goresan-goresan pada batu sekitar 300.000 SM yang belakangan disebut dengan <em>pictogram</em> yang tersimpan di Musium Ontario, Toronto Kanada. <span> </span>Selanjutnya masuk ke periode Mesir Kuno, Sumeria, Babilonia, Niviveh, Tiongkok, Maya, dan Inca. Pada<span> </span>tahun 100 &#8211; 44 SM, pada masa kerajaan Roma, dan rajanya dijabat oleh Gajus Julius Caesar<span> </span>telah mengenal dasar-dasar jurnalistik melalui tulisan tangan (Wahyudi, 1991:72). Dalam kurun waktu yang relatif panjang sejarah peradaban telah banyak melahirkan para filosof terkenal seperti Sócrates, Aristóteles, Plato, <span>Thales, Archimedes, Aristachus, dan lain-lain. Pada masa ini telah dikenal apa yang disebut dengan logika deduktif dan silogismo.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><em><span style="font-family:&quot;" lang="ES">Kedua</span></em><span style="font-family:&quot;" lang="ES">, periode atau abad pertengahan diwarnai oleh para pemikir Arab-Islam<span> </span>yang membawa corak pemikiran berbasis agama dan moral. Pada abad ini lahir para pemikir seperti Al-Kindi (Filosof Islam Pertama), Al Khawarijmi (Aljabar), Al Idris (Astronomi), Ibnu Sina atau Avisena, Ibnu Rusdi atau Averus, Umar Kayam, dan lain-lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><em><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Ketiga</span></em><span style="font-family:&quot;" lang="SV">, abad modern. Pada abad ini ilmu pengetahuan berkembang pesat sebagai hasil interaksi berbagai ilmu pengetahuan yang disebut dengan proses sistesa.<span> </span>Abad modern pun ditandai oleh paradigma positivisme yang digagas oleh August Comte melalui Sosiologi Positif. Comte ingin menegaskan, bahwa kemajuan ilmu pengetahuan hanya akan berkembang cepat apabila manusia melepaskan cara berpikir yang metafisik (lihat Pengantar Sosiologi, Soerjono Soekanto</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Menurut Jujun S. Suriasumantri (dalam Qadir, 1988), pengetahuan tentang ilmu seyogyanya mencakup pengetahuan tentang <em>apa </em>yang dikaji ilmu, <em>bagaimana</em> cara ilmu melakukan pengkajian,<span> </span>dan menyusun tubuh pengetahuannya, serta <em>untuk apa</em> pengetahuan ilmiah yang telah disusun itu dipergunakan.<span> </span>Ketiga hal tersebut dalam terminologi kefilsafatan dikenal dengan istilah <em>ontologi</em> (apa), <em>epistemologi</em> (bagaimana), dan <em>axiologi </em>(untuk apa).<span> </span>Dalam operasionalisasinya persoalan filsafat ilmu tesebut pun masih memerlukan ”bantuan” ilmu lain, seperti bahasa, logika, matematika, dan statistika.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Dalam epistemologi Barat, bagaimana cara memperoleh pengetahuan dikenal dengan tiga paham: <em>Pertama</em>, pendekatan rasionalisme. <span>Suatu paham bahwa pengetahuan terjadi karena bahan pemberian panca indera dan batin yang diolah oleh “akal”. Akal memegang peranan penting dalam, mengolah informasi dari eksternal sehingga melahirkan pengetahuan. Rasionalisme ini terbagi ke dalam dua aliran, yaitu rasionalisme idealis dan rasionalisme realis. Rasionalisme idealis berpegang teguh kepada keyakinan bahwa pengetahuan kita dapat melampaui pengalaman panca indera sejati. Sedangkan rasionalisme realis berpendapat bahwa pengolahan pengetahuan oleh rasio tidak terlepas dari obyek yang diamatinya. Langeveld (1955:51): “Rasio mengolah pengalaman sambil meresap ke dalam obyek, sedangkan obyek itu sendiri bukan hasil ciptaan sukma manusia”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Melalui rasio, ilmuwan dapat melakukan tiga hal penting yang menjadi basis pengembangan pengetahuan, yaitu (1) definisis, (2) komparasi, dan (3) kausalitas.<span> </span>Definisi melakukan proses pembatasan tentang sesuatu yang disebut ”A” atau ”B”.<span> </span>Komparasi melakukan proses perbandingan antara ”A” dan ”B”. Kausalitas dapat menjelaskan mana yang menjadi ”sebab” dan mana yang menjadi ”akibat”.<span> </span>Bebarapa tokoh penting yang berada dibalik paham rasionalisme ini misalnya, Augustinus, Scotus, Descrates (1596-1650), Spinoza (1632-1677), Leibniz (1646-1716), Fichte (1762-1814), Hegel (1770-1813), dan lain-lain.<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Meskipun gegap gempita rasionalisme telah mampu menyedot perhatian ilmuwan seantero dunia, di sisi lain banyak pula yang mengkritik atau membantahnya. Bantahan terhadap rasionalisme misalnya: (1) rasionalisme bersifat spekulatif, terlalu mengandalkan olahan rasio dan lalai dalam pengujian yang dihubungkan dengan dunia nyata. (2) rasionalisme cenderung a-priori, dalam arti masalah psikologis yang merupakan pembawaan individual (tanggapan-tanggapan pembawaan) akan berbeda pada diri setiap orang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><em><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Kedua</span></em><span style="font-family:&quot;" lang="SV">, empirisme, yaitu <span>Suatu paham yang berpendapat bahwa pengetahuan yang diperoleh terbatas hanya pada pengalaman. Dalam perkembangannya empirisme ini terbagi dua, yaitu empirisme sensualisme dan empirisme konsiensialisme.<span> </span></span></span><span style="font-family:&quot;" lang="ES">Empirisme sensualisme yaitu proses perolehan pengetahuan yang hanya bertumpu pada pengalaman pancaindera semata-mata. Sensualisme ini memiliki keterbatasan, bahwa kebenaran pancaindera bersifat semu.<span> </span>Sedangkan empirisme konsiensialisme mengemukakan bahwa Keputusan yang diambil dari pengalaman panca indera berdasarkan pertimbangan penuh kesadaran, dalam arti pertimbangan yang matang. Beberapa tokoh yang menjadi “dewa” dalam [aham empirismo ini misalnya John Locke (1632-1704), Berkeley (1685-1753), David Hume (1711-1776), termasuk “kaum positivis” seperti August Comte (1798-1857). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="ES">Paham empiris ini pun tida lupus dari sasaran kritik dan bantahan. Di antara bantahan yang tajam misalnya dapat dilihat pada: (1) Kebenaran yang dilahirkan apakah hasil pengamatan nyata atau keputusan si pengamat sendiri ?<span> </span>dan (2)<span> </span>Pengamatan hanya menghasilkan kenyataan yang memerlukan keputusan, sedangkan situasi psikis si pengamat akan akan berpengaruh terhadap keputusan yang diambil. </span><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Dengan demikian bisa terjadi sikap “a priori” sehingga <span> </span>keputusan antara seorang pengamat bisa berbeda <span> </span>dengan pengamat lainnya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><em><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Ketiga</span></em><span style="font-family:&quot;" lang="SV">, paham dualisme. Paham ini berusaha menggabungkan atau mendamaikan kedua kutub paham yang bersebrangan secara diameteral. Paham ini berpendapat bahwa pengetahuan sejatinya dihasilkan oleh kedua instasnsi, yaitu rasio dan pengalaman inderawi. Rasio dan pengalaman memiliki masing-masing keterbatasan yang tak terhindarkan, oleh karena itu suatu proses yang mengkompromikan antara rasio dan pengalaman menjadi jalan tengah yang paling ideal. Rasio atau akal tidak dapat menyerap pengetahuan secara utuh tanpa pengalaman inderawi, sedangkan pengalaman inderawi saja tidak bisa menghasilkan pengetahuan tanpa diolah secara kreatif oleh rasio (otak).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]&#8211;><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="SV"><span>D.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="SV">EPISTEMOLOGI ISLAM: Melacak Sumber Ilmu Filosof Muslim</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"><span> </span>Sebelum kita mengelaborasi lebih jauh mengenai sumber ilmu dalam pandangan filosof muslim, ada baiknya kita mencermati beberapa firman Allah berikut ini:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi,<span> </span>silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air,<span> </span>lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan (QS. Al-Baqarah/2:164).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur (QS. An-Nahl/16:78).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya (QS. Al-Israa/17:36).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Allah menganugerahkan al hikmah<span> </span>kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (QS. Albaqarah/2:269)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran (QS. Ar ra’d/13:19)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Apabila melihat firman Allah di atas, sejatinya Islam mendasarkan sumber ilmu salah satunya kepada apa yang selama menjadi sumber ilmu di Barat. Dalam Islam ilmu dapat diperoleh melalui penglihatan dan<span> </span>pendengaran yang menjadi basis empirisme. Islam pun mengakui bahwa sumber pengetahuan berdasarkan rasio atau akal. Dalam konteks itu dikatakan bahwa pelajaran (ilmu pengetahuan) diperoleh melalui kedua instansi sumber ilmu tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Secara umum epistemologi memiliki peran atau kedudukan sentral dalam ilmu pengetahuan yang terkait dengan bagaimana cara (metode) memperoleh pengetahuan serta validitasnya. </span><span style="font-family:&quot;">Dalam khazanah pemikiran Islam, epistemologi Islam memiliki kedudukan bertingkat-tingkat, di dalamnya meliputi:</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="a">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">perenungan      (<em>comtemplatio</em>n)</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">pengindraan      (<em>sensation</em>)</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">pencerapan      (<em>perceptio</em>n)</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">penyajian      (<em>representation</em>)</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">konsep      (<em>concept</em>)</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">timbangan      (<em>judgement</em>)</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">penalaran      (<em>reasoning</em>).</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;">Pada wilayah lain, perbedaan yang mendasar epistemologi Islam dengan epistemologi Barat terletak pada titik pusatnya. Dalam epistemologi Barat bahwa pengetahuan berpusat pada manusia (<em>anthropocentric</em>) yang menganggap manusia sebagai makhluk mandiri (<em>autonomours</em>) dan menentukan segala-galanya. Sedangkan epistemologi Islam menyatakan bahwa pengetahuan berpusat pada Allah (<em>theocentric</em>), sehinggaa berhasil atau tidaknya tergantung setiap usaha manusia meniscayakan adanya iradah Allah. Allah-lah sebagai sumber pengetahuan dan pusat kebenaran. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu (QS. Yunus/10:94)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">Katakanlah: “hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu kebenaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, sebab itu barang sipa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri dan barang siapa yang sesat maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu” (Q.S Yunus/10:108).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;">Menurut Muhammad (1984:34-36), jalur-jalur untuk memeroleh pengetahuan (ilmu) dibagi ke dalam dua jalur. <em>Pertama</em>, jalar ilahiyah, yakni manusia memperoleh ilmu atas informasi ilahiyah (wahyu) secara langsung Sian pakai tanpa prosedur sebagaimana dalam metode ilmiah. Pengetahuan ini diberikan lepada nabi dan rasul. Melalui jalar ini manusia bisa memperoleh ilmu tentang masalah-masalah non empiris (ghoib), misalnya tentang hari akherat, malaikat, syetan, sorga, neraka, dan sebagainya, juga di dalamnya ilmu-ilmu tentang kosmologi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;">Kedua, manusia dapat memperoleh ilmu melalui jalur insaniah melalui oleh pikir, olah jiwa yang bermuara pada penelaahan filsafat, logika matemátika, dan humaniora. Daya nalar<span> </span>(rasionalisme) dan pengalaman (empirisme) menjadi basis ilmu pengetahuan jalur insaniah melalui epoistemologi <em>deducto – hipotético verifikatif</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:200%;" align="center"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="ES"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:200%;font-family:&quot;" lang="ES"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:200%;font-family:&quot;" lang="ES"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:200%;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:14pt;line-height:200%;font-family:&quot;" lang="ES"><span>D.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="font-size:14pt;line-height:200%;font-family:&quot;" lang="ES">RAGAM EPISTEMOLOGI ISLAM</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="ES">Bagaimana cara memperoleh pengetahuan telah menyita para ilmuwan dari zaman ke zaman. Dalam epistemologi Barat dikenal tiga aliran pemikiran, yaitu empirisme, rasionalisme, dan intuitisme. Sementara itu, dalam pemikiran filsafat Hindu bahwa kebenaran diperoleh melalui tiga macam, yaitu teks suci,, akal dan pengalaman pribadi (Nikhilananda, 1958:4).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Dalam Islam, terdapat beberapa aliran besar yang berhubungan dengan teori pengetahuan (epistemologi). Sejauh ini ada tiga aliran yang acapkali menjadi objek kajian epistemolkogi Islam, yaitu <em>bayani, irfani</em>, dan <em>burhani</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="SV">BAYANI</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Bayni adalah sebuah motodologi berpikir yang didasarkan atas teks. Teks yang dimaksud hádala Al-Qur’an yang mempunyai otoritas penuh untuk memberikan arah tujuan dan arti kebenaran. Sedangkan rasio menurut metodologi ini hanya berperan-fungsi sebagai pengawal bagi keamanan otoritas teks tersebut. Secara singkat dapat dikatakan bahwa epistemologi bayani mendasarkan otoritas pengetahuan langsung dari teks (nash) yang kemudian diimplementasikan pada wilayah praktris tanpa harus melalui pemikiran. Akal tidak dibiarkan “bebas mengembara”, tetapi akal harus berlandaskan teks (Al-Jabiri, 1991).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Untuk mendapatkan pengetahuan dari teks, epistemologi bayani menempuh dua jalan. <em>Pertama</em>, berpegang pada redaksi (<em>lafad</em>) teks, dengan menggunakan kaidah bahasa Arab seperti <em>nahwu</em> dan <em>sharaf</em>. Di sini hanya orang-orang yang memiliki kemampuan bahasa Arab yang baik yang meniscayakan mendapat pengetahuan bari teks. <em>Kedua</em>, berpegang lepada makna teks dengan menggunakan logika, penalaran atau rasio sebagai sarana analisa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Pada jalan kedua, penggunaan logika dilakukan dengan empat macam cara, yaitu:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:200%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="ES"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Berpegang terhadap tujuan pokok (al-maqashid al-dlaririyah) yang mencakup lima kepentingan vital, yakni menjaga keselamatan agama, jira, akal, keturunan dan harta. </span><span style="font-family:&quot;" lang="ES">Cara yang dilakukan dengan menggunakan induksi tematis (al-istiqra’ al-ma’ wi’), dan disitulah tempat penalaran rasional. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:200%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="ES"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;" lang="ES">Berpegang terhadap illah teks. Untuk menemukan dan mengetahui adanya illah suatu teks ini digunakan sebuah sarana yang memerlukan penalaran yang disebut jalan illah’ <em>(masalik al­-illah) </em>yang terdiri atas tiga hal, (1) illat yang telah ditetapkan oleh nash, seperti illat tentang kewhhajiban mengambil 20% harta fai (rampasan) untuk fakir miskin agar harta tersebut tidak beredar dikalangan orang kaya saja (QS. Al-Hasyr:7). (2) illah yang telah disepakati oleh para mujtahid, misalnya illah menguasai harta anak yang masih kecil adalah karena kecilnya. <em>(3) al-Sibr wa al-taqsim </em>(trial) dengan cara merangkum sifat-sifat baik untuk dijadikan illat pada asal (nash), kemudian illat itu dikembalikan kepada sifat-sifat tersebut agar bisa dikatakan bahwa illah itu bersifat begitu atau begini.<sup> </sup>Cara kedua ini lebih lanjut memunculkan metode <em>giyas </em>(analogi) dan <em>istihsan, </em>yakni beralih dari sesuatu yang jelas kepada sesuatu yang masih samar, karena karena adanya alasan yang kuat untuk pengalihan itu (Jamil, 1997:139). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:200%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="ES"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;" lang="ES">Berpegang pada tujuan sekunder teks. Tujuan sekunder adalah tujuan yang mendukung terlaksananya tujuan pokok. Contoh, tujuan pokok adalah memberikan pemahaman materi kepemimpinan lepada para karyawan. Tujuan sekunder memberikan tugas mengenai kepemimpinan. Adanya tugas akan mendukung pemahaman materi yang diberikan. Sarana yang digunakan untuk menemukan tujuan sekunder teks adalah <em>istidlal, </em>yakni mencari dalil dari luar teks; berbeda dengan <em>istimbat </em>yang berarti mencari dalil pada teks.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:200%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;" lang="DA"><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Berpegang pada diamnya Syari&#8217; (Allah dan Rasul saw). Ini untuk masalah-masalah yang sama sekali tidak ada ketetapannya dalam teks dan tidak bisa dilkukan dengan cara qiyas. </span><span style="font-family:&quot;" lang="DA">Caranya dengan kembali pada hukum pokok (asal) yang telah diketahui. Contohnya, hukum asal muamalah adalah boleh <em>(al-ashl fi al-muamalah al-ibahah), </em>maka jual beli lewat internet yang tidak ada ketentuannya berarti boleh, tinggal bagaimana mengemasnya agar tidak dilarang. Metode ini melahirkan teori <em>istishhab, </em>yakni menetapkan sesuatu berdasar keadaan yang berlaku sebelumnya selama tidak ditemui dasar/ dalil yang menunjukkan perubahannya (Khalaf, 1996)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="DA"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="DA">Kritik yang acapkali dialamatkan kepada metode bayani ketika berhadapan dengan teks yang berbeda milik statu comunitas atau bangsa lain. </span><span style="font-family:&quot;" lang="ES">Di mana, statu teks Belem tentu diterima secara universal oleh comunitas lain. Oleh karena itu ketika berhadapan dengan pertentangan seperti itu, nalar bayani biasanya cenderung mengambil sikap dogmatik, defensif, dan apologetik. Nalar bayani demikian tertutup Madang sulit untuk diajak berdialog secara sehat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="ES"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="ES">IRFANI</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="ES">Irfani adalah model metodologi yang didasarkan atas pendekatan dan pengalaman langsung atas realitas spiritual keagamaan. Berbeda dengan epistemolkogi bayani yang bersifat eksoteris, maka epistemologi irfani lebih esoteris (batin) teks. Di sini, rasio berperan sebagai alat untuk menjelaskan berbagai pengalaman spiritual tersebut. Epistemologi irfani berada pada kasyf, yaitu tersingkapnya rahasia-rahasia realitas oleh Tuhan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="ES">Dengan demikian pengetahuan irfani tidak diperoleh berdasarkan analisa teks tetapi dengan olah ruhani, dimana dengan kesucian hati, diharapkan Tuhan akan melimpahkan pengetahuan langsung kepadanya. Masuk dalam pikiran, dikonsep kemudian dikemukakan kepada orang lain secara logis. Dengan demikian pengetahuan irfani setidaknya diperoleh melalui tiga tahapan, (1) persiapan, (2) penerimaan, (3) pengungkapan, dengan lisan atau tulisan.</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="ES">Tahap persiapan. Untuk bisa menerima limpahan      pengetahuan <em>(kasyf), </em>seseorang harus menempuh jenjang-jenjang      kehidupan spiritual. Setidaknya, ada tujuh tahapan yang harus dijalani,      mulai dari bawah menuju puncak (1) <em>Taubat, (2) Wara, </em>menjauhkan      diri dari segala sesuatu yang <em>subhat, (3) Zuhud, </em>tidak tamak dan      tidak mengutamakan kehidupan dunia. <em>(4) Faqir, </em>mengosongkan seluruh      fikiran dan harapan masa depan, dan tidak menghendaki apapun kecuali Allah      SWT, (5) <em>Sabar, </em>menerima segala bencana dengan laku sopan dan rela.      <em>(6) Tawakkal, </em>percaya atas segala apa yang ditentukan-Nya. <em>(7)      Ridla, </em>hilangnya rasa ketidaksenangan dalam hati sehingga yang tersisa      hanya gembira dan sukacita (Al-Quraish, dalam Rakhmat, Jalaluddin, 1993). </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="ES">Tahap penerimaan. Jika telah mencapai tingkat      tertentu dalam sufisme, seseorang akan mendapatkan limpahan pengetahuan      langsung dari Allah secara illuminatif. Pada tahap ini seseorang akan      mendapatkan realitas kesadaran diri yang demikian mutlak <em>(kasyf), </em>sehingga      dengan kesadaran itu ia mampu melihat realitas dirinya sendiri <em>(musyahadah) </em>sebagai objek yang diketahui. Namun, realitas kesadaran dan realitas      yang disadari tersebut, keduanya bukan sesuatu yang berbeda tetapi      merupakan eksistensi yang sama, sehingga objek yang diketahui tidak lain      adalah kesadaran yang mengetahui itu sendiri, begitu pula sebaliknya <em>(ittihad) </em>yang dalam khhajian Mehdi Yazdi disebut &#8216;ilmu huduri&#8217; atau pengetahuan      swaobjek <em>(self-object-knowledge). </em></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;" lang="ES">Tahap </span><span style="font-family:&quot;" lang="ES">pengungkapan,      yakni pengalaman mistik iinterpretasikan dan diungkapkan kepada orang      lain, lewat ucapan atau lisan. Namun, karena pengetahuan irfani bukan      masuk tatanan konsepsi dan representasi tetapi terkait dengan kesatuan      simpleks kehadiran Allah dalam diri dan kehadiran diri dalam Tuhan,      sehingga tidak bisa dikomunikasikan, maka tidak semua pengalaman ini bisa      diungkapkan. Persoalannya, bagaimana makna atau dimensi batin yang      diperoleh dari <em>kasyf </em>tersebut diungkapkan? <em>Pertama, </em>diungkapkan      dengan cara <em>I<span>&#8216;tibar </span></em>atau qiyas irfani. Yakni analogi makna batin      yang ditangkap dalam <em>kasyf </em>kepada makna zahir yang ada dalam teks.<sup> </sup><em>Kedua, </em>diungkapkan lewat <em>syathahat, </em>suatu ungkapan      lisan tentang perasaan <em>(al-wijdan) </em>karena limpahan pengetahuan      langsung dari sumbernya dan dibarengi dengan pengakuan, seperti ungkapan      &#8216;Maha Besar Aku&#8217; dari Abu Yazid Bustami (w. 877 M), atau <em>Ana al-Hagq </em>dari      al-Hallaj (w. 913 M).&#8221; Karena itu, syathahat menjadi tidak beraturan      dan diluar kesadaran</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="ES"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="ES">Dalam epistemologi irfani adanya pola pembakuan term-term seminal <em>ilham</em>, <em>kasyf </em>dan <em>dlamir </em>yang terekat dalam wirid-wiridnya yang diktitik oleh Fazlur Rahman salah seorang inteletual muslim sebagai religión within religión. Metodologi irfani ini menjadi sandaran dalam praktek sufisme baik pada masa yang lalu maupun saat ini yang tidak mudah dipahami oleh semua yang tidak memasukinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="ES"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="ES">BURHANI</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="ES">Burhani adalah metodologi yang tidak didasarkan atas teks maupun pengalaman, melainkan atas dasar runtutan nalar logika, bahkan dalam<span> </span>tahap tertentu teks dan pengalaman hanya bisa diterima apabila tidak bertentangan dengan aturan logika.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="ES">Burhani menyandarkan diri pada kekuatan rasio, akal, yang dilakukan lewat dalil-dalil logika. Perbandingan ketiga epistemologi ini adalah bahwa bayani menghasilkan pengetahuan lewat analogi <em>furu&#8217; </em>kepada yang asal; irfani menghasilkan pengetahuan lewat proses penyatuan ruhani pada Allah, burhani menghasilkan pengetahuan melalui prinsip-prinsip logika atas pengetahuan sebelumnya yang telah diyakini kebenarannya. Dengan demikian, sumber pengetahuan burhani adalah rasio, bukan teks atau intuisi. Rasio inilah yang memberikan penilaian dan keputusan terhadap informasi yang masuk lewat indera (Ibn Rusyd, tt).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="ES">Selanjutnya, untuk mendapatkan sebuah pengetahuan, burhani menggunakan aturan silogisme. Mengikuti Aristoteles, penarikan kesimpulan dengan silogisme ini harus memenuhi beberapa syarat, (1) mengetahui latar belakang dari penyusunan premis, (2) adanya konsistensi logis antara alas an dan keismpulan, (3) kesimpulan yang diambil harus bersifat pasti dan benar, sehingga tidak mungkin menimbulkan kebenaran atau kepastian lain. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="ES">AI-Farabi mempersyaratkan bahwa premis-premis burhani harus merupakan premis-premis yang benar, primer dan diperlukan. Premis yang benar adalah premis yang memberi keyakinan, menyakinkan. Suatu premis bisa dianggap menyakinkan bila memenuhi tiga syarat; (1) kepercayaan bahwa sesuatu (premis) itu berada atau tidak dalam kondisi spesifik, (2) kepercayaan bahwa sesuatu itu tidak mungkin merupakan sesuatu yang lain selain darinya, (3) kepercayaan bahwa kepercayaan kedua tidak mungkin sebaliknya. Selain itu, burhani bisa juga menggunakan sebagian dari jenis-jenis pengetahuan indera, dengan syarat bahwa objek-­objek pengetahuan indera tersebut harus senantiasa sama (konstan) saat diamati, dimanapun dan kapanpun, dan tidak ada yang menyimpulkan sebaliknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="ES">Derajat dibawah silogisme burhani adalah &#8216;silogisme dialektika&#8217;, yang banyak dipakai dalam penyusunan konsep teologis. Silogisme dialektik adalah bentuk silogisme yang tersusun atas premis-premis yang hanya bertarap mendekati keyakinan, tidak sampai derajat menyakinkan seperti dalam silogisme demonstratif. Materi premis silogisme dialektik berupa opini-opini yang secara umum diterima <em>(masyh</em>u<em>rat), </em>tanpa diuji secara rasional. Karena itu, nilai pengetahuan dari silogisme dialektika tidak bisa menyamai pengetahuan yang dihasilkan dari metode silogismo demonstratif.<span> </span>Ia berada dibawah<span> </span> pengetahuan demontratif. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="ES">Epistemologi burhani, meskipun ia bersifat rasional masih lebih berdasar pada model pemikiran induktif-deduktif. Permaian silogisme sebagaimana lazim dalam premis mayor, minor dan konklusi maíz terasa dominan. Kekuatan kebenaran nalar atau rasio akan Sangat tergantung lepada seberapa tepat dalam membuat-premis-premis tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Dari paparan di atas, tiga epistemologi Islam ini mempunyai &#8216;basis&#8217; dan karakter yang berbeda. Pengetahuan bayani didasarkan atas teks suci, irfani pada intuisi sedang burhani pada rasio. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Untuk bayani, karena hanya mendasarkan diri pada teks, is menjadi terfokus pada hal-hal yang bersifat aksidental bukan substansial, sehingga kurang bisa dinamis mengikuti perkembangan sejarah dan sosial masyarakat yang begitu cepat. Kenyataannya, pemikiran Islam saat ini yang masih banyak didominasi pemikiran bayani <em>fiqhiyah</em> kurang bisa merespon dan mengimbangi perkembangan peradaban dunia. Tentang burhani, ia tidak mampu mengungkap seluruh kebenaran dan realitas yang mendasari semesta. Misalnya, burhani tidak mampu menjelaskan seluruh eksistensi diluar pikiran seperti soal warna, bau, rasa atau bayangan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Karena itu, Suhrawardi (1154-1192 M) kemudian membuat metode baru yang disebut iluminasi <em>(isyraqi) </em>yang memadukan metode burhani yang mengandalkan kekuatan rasio dengan metode irfani yang mengandalkan kekuatan hati lewat <em>kashaf </em>atau intuisi. Metode ini berusaha menggapai kebenaran yang tidak dicapai rasional.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"><span> </span>Namun demikian, pada masa berikutnya, metode isyraqi dirasa masih juga mengandung kelemahan, bahwa pengetahuan iluminatif hanya berputar pada kalangan elite terpelajar, tidak bisa disosialisasikan sampai masyarakat bawah, bahkan tidak jarang justru malah menimbulkan kontroversial. Muncullah metode lain, filsafat transenden <em>(hikmah al-muta ‘aliyah), </em>yang dicetuskan Mulla Sadra (1571-1640 M) dengan memadukan tiga metode dasar sekaligus; bayani yang tekstual, burhani yang rasional dan irfani yang intuitif (Bakr,1997)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Dengan metode terakhir ini, pengetahuan atau hikmah yang diperoleh tidak hanya yang dihasilkan oleh kekuatan akal tetapi juga lewat pencerahan ruhaniah, dan semua itu kemudian dishhajikan dalam bentuk rasional dengan menggunakan argumen-argumen rasional. Bagi kaum Muta&#8217;aliyah, pengetahuan atau hikmah tidak hanya memberikan pencerahan kognisi tetapi juga realisasi; mengubah wujud penerima pencerahan itu sendiri dan merealisasikan pengetahuan yang diperoleh sehingga terjadi transformasi wujud. Semua itu tidak bisa dicapai kecuali dengan mengikuti syariat, sehingga sebuah pemikiran harus menggaet metode bayani dalam sistemnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="ES">Namun demikian, untuk masa mutaakhir ini, metode Muta&#8217;aliyah mesti juga dipertanyakan. Sebab, persoalan keagamaan tidak hanya berkaitan dengan teks, rasio, ilham dan pengalamannya dalam bentuk praktek-praktek ritual melainkan juga mencakup kehidupan social, politik, ilmu pengetahuan modern yang empiris bahkan teknologi tinggi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="ES">Bercermin dari kemajuan ilmu pengetahuan yang demikian cepat, rasanya pencarian atas epistemologi yang integral, holistik dan komprehensif menjadi wilayah yang penuh tantangan. Sejatinya, para ilmuwan termasuk kita semua dituntut untuk secara kritis melahirkan –bila mungkin—epistemologi baru yang lebih memadukan antara jalur insaniyah dan ilahiyah. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="ES"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="ES"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="ES"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="ES"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:200%;" align="center"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="ES"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:200%;" align="center"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="ES"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:200%;" align="center"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="ES">KEPUSTAKAAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span style="font-family:&quot;" lang="ES">Al-Ahwani, Ahmad Fuad, 1993. </span><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Filsafat Islam. Jakarta: Pustaka Firdaus.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-45pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Amin, Miska, M., Epistemologi Islam. </span><span style="font-family:&quot;" lang="ES">Yakarta: Universitas Indonesia Press.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-45pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="ES"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-45pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="ES">Anugrah, Dadan, 2008. </span><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Komunikasi Antarbudaya, Konsep dan Aplikasinya. Yakarta: Jala Remata.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-45pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-45pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Bakr, Osman, 1997. Hierarki Ilmu (Terjemahan Purwanto). Bandung: Mizan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-45pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-45pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Husaini, Moulavi S.A.Q., Ibn Al’Arabi. India, Lahore: Bazar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-45pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-45pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Ibn Rusyd, tt., Fash al-Maqal Fima Bain al-Hikmah wa al-Syariah min al-Ittishal. Mesir: Dar al_Ma’arif.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-45pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-45pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Jamil, Fathur Rahman, 1997. Filsafat Hukum Islam. Jakarta: Logos.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-45pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-45pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Khalaf, Abdul Wahab, 1996. Ilm Ushul Fiqh (Terjemahan Masdar Helmi. </span><span style="font-family:&quot;">Bandung</span><span style="font-family:&quot;">: Gema Risalah Pres.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-45pt;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-45pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Muhammad, TH., 1984. Kedudukan Ilmu Dalam Islam. </span><span style="font-family:&quot;" lang="ES">Surabaya: Al-Ikhlas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-45pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="ES">Nasution, Harun, 1973. </span><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Falsafat Agama. Jakarta: Bulan Bintang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-45pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-45pt;"><span style="font-family:&quot;">Nikhilananda, Swami, 1958. Hinduism It’s Meaning For The Liberation Of The<span> </span>Spirit. New York: Harper.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-45pt;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-45pt;"><span style="font-family:&quot;">Pranaka, AMW dan A. Barker, 1979. Epistemologi Kebudayaan dan Pendidikan. Yogyakarta: Kelompok Studi Filsafat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-45pt;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-45pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="ES">Poerwadarminta, W.J.S., 1949. Logat Kecil Bahasa Indonesia. Jakarta: Batvia Wolters’ Uitgevermaatscappij NV.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-45pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="ES"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-45pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="ES">Qadir, C.A.,<span> </span>(Penyunting), 1988. Ilmu Pengetahuan dan Metodenya. Yakarta: Yayasan Obor Indonesia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-45pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="ES"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-45pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="ES">Rahmat, Jalaluddin, 1993. Hikmah Muta’aliyah Filsafat Pasca Ibn Rushd. Jurnal Hikmah, Bandung edisi 10 September.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-45pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="ES"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-45pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="ES">Rais, Amin, 1994. Cakrawala Islam. Bandung: Mizan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-45pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="ES"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-45pt;"><span style="font-family:&quot;">Runes, Dagobert, D., 1971. Dictionary of Philosophy. Totowa New Jersey: Adam &amp; Co.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-45pt;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-45pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV">Sudarto, 1996. Metodologi Penelitian Filsafat. Jakarta: Rajawli</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-45pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;text-align:justify;text-indent:-45pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="DE">Wahyudi, J.B., 1991.<span> </span>Komunikasi Jurnalistik. Bandung: Alumni</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="DE"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="DE"> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dadananugrah.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dadananugrah.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dadananugrah.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dadananugrah.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dadananugrah.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dadananugrah.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dadananugrah.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dadananugrah.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dadananugrah.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dadananugrah.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dadananugrah.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dadananugrah.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dadananugrah.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dadananugrah.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dadananugrah.wordpress.com&amp;blog=6769006&amp;post=22&amp;subd=dadananugrah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dadananugrah.wordpress.com/2009/03/21/epistemologi-melacak-sumber-ilmu-barat-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0e7df9731a81ecb08fb83643943a27a6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dadananugrah</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
